Your Ad Here

Archive

Posts Tagged ‘tidak lulus ujian nasional’

Tidak Lulus UN

April 30th, 2010 ayad No comments

Tidak Lulus Ujian Nasional

Oleh: Tim pmd Support

Prosesi ketidak lulusan dalam kalender tahunan pendidikan nasional, kini tiba kembali. Histeris, tangis pilu, sedih, putus asa, dan lain lain mewarnai prosesi tersebut. Ribuan pelajar siswa SMA yang tidak lulus (menangis secara nasional) meratapi nasib (ketidaklulusan) mereka. Sebahagian ada yang menangis karena malu ketahuan ‘tidak mampu menjawab soal Ujian Nasional’ karena kurang pintar. Dan ada juga yang merasa sedih karena merasa ada temannya yang sama pintar dan bodohnya tetapi lulus atau terbukti juara kelas tetapi tidak lulus Ujian Nasional. Ia merasa nasibnya aja yang kurang beruntung, sehingga tidak lulus. Sementara temannya yang lain dengan kepandaian yang sama (menurut penilaiannya) mendapat keberuntungan sehingga berhasil lulus Uijan Nasional (UN).

Apapun alasannya (rationings) tidak lulus tentu tidak enak dan pasti membawa konsekwensi yang kompleks baik pada tataran individu, sekolah, keluarga, sosial masyarakat, maupun pada tataran sistem pendidikan nasional.

Pada tataran individu, ketidaklulusan pada Ujian Nasional tentu menimbulkan kesedihan yang mendalam seperti banyak disorot oleh media. Selain itu, seseorang yang tidak lulus ujian nasioanl harus segera mencari solusi bagi maa depannya. Jangan terelalu larut dalam suasana sedih. Tumpahkanlah air mata anda sehabis-habisnya, setelah itu, bukalah meta anda dan berpikirlah untuk tetap melanjutkan hidup. Tidak lulus Ujian Nasional Belum berarti Kiamat. Konsekwensi paling buruk adalah anda merugi satu tahun akademik untuk mengulang belajar lebih baik; atau memilih jalur pendidikan lainnya.

Pada tataran sekolah sekolah ketidak lulusan siswanya dalam Ujian Nasional harus disikapi secara serius. Sekolah perlu melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek yang mempengaruhi kelulusan siswa dalam Ujian Nasional. Hal-hal seperti persiapan akademis, persiapan mental, bimbingan belajar, try-out, kualitas guru, hingga pada kesehatan fisik, perlu dievaluasi oleh Kepala sekolah bersama Dewan Guru dan Komite Sekolah. Tidak peduli satu orang atau berapa orang yang tidak lulus Ujian Nasional.

Pada tataran keluarga, ketidak lulusan Ujian Nasional membawa konsekwensi yang kompleks, disamping beban psikologis, juga beban ekonomi yang mesti ditanggung oleh orang tua. Orang tua yang bijak, tidak perlu menyalahkan anaknya yang tidak lulus. Dukunglah dan dampingilah anak-anak yang tidak lulus. Mereka adalah korban dari sistem pendidikan, dan secara kebetulan kurang beruntung. Mungkin juga anak yang tidak lulus punya bakat lain (selain akademik) yang dapat diandalkan untuk mencapai masa depannya yang gemilang.

Pada tataran nasional, tentu pemerintah cq. Kementerian Pendidikan Nasional secara imperatif perlu merefeleksi dan mengevaluasi sistem penyelenggaraan Ujian Nasional. Karena Ujian nasional adalah suatu hajatan nasional yang menyita banyak energi bangsa dan anggaran pembangunan nasional. Seharusnya hajatan tersebut tidak menghasilkan masalah bagi bangsa terutama anak-anak bangsa.


Untuk siapa Ujian Nasional

June 18th, 2009 ayad No comments

Untuk Siapa Ujian Nasional

Oleh Hayadin

Hakikat kegiatan evaluasi di dunia pendidikan (khususnya di sekolah) adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelajaran yang (dirumuskan) ingin dicapai oleh seorang pengajar  dapat tercapai. Hal tersebut bermanfaat sebagai in-put kepada pendidik dalam merancang menu pelajaran berikutnya. Jika peserta didik belum memahami atau belum menguasai pelajaran awal maka pengajar tersebut belum dapat melanjutkan ke materi pelajaran selanjutnya. Ia juga perlu melakukan refleksi tentang apa yang kurang atau yang salah dari proses pembelajaran yang sudah ia lakukan kepada para pelajar tersebut.

Dalam perspektif pendidikan transformative, maka hakikat evaluasi adalah untuk mengukur sejauh mana seorang pengajar mampu mengubah wawasan, pengetahuan, keterampilan dan perilaku peserta didik sesuai yang ia harapkan. Untuk melakukan perubahan tersebut, seorang pengajar melakukan dan menggunkan berbagai trik, alat/tools, media, strategi, pendekatan, dan metode. Ruang lingkup, ritme dan tempo perubahan yang terjadi pada peserta belajar antara lain ditentukan oleh factor-faktor tersebut (trik, alat/tools, media, strategi, pendekatan, dan metode yang digunakan).

Oleh karena itu, kegiatan evaluasi sesungguhnya adalah proses yang diperuntukkan kepada para tenaga pengajar/guru/pendidik bahkan kepala sekolah, bukan sebaliknya untuk pelajar/anak sekolah. Jika hasil evaluasi menunjukkan hasil belajar yang rendah, itu merupakan masukan kepada para guru untuk merancang trik, metode, dan pendekatan yang berbeda (baru) dalam memberikan pelajaran, bukan lalu menghukum atau menyalahkan siswa atau murid.

Kepentingan Pelajar terhadap Ujian Nasional

Pertanyaan yang menarik untuk dijawab adalah, “Apa manfaat Ujian Nasional bagi Pelajar Indonesia?”. Jawaban dari pertanyaan ini dapat dilihat melalui fakta dimana menjelang penyelenggaraan Ujian Nasional para siswa ramai memadati lembaga Bimbingan Belajar untuk belajar secara intensif. Tetapi fakta tersebut sebenarnya juga adalah fenomena yang menarik untuk didiskusikan, karena kehadiran mereka di lembaga bimbingan belajar adalah dalam rangka menghadapi Ujian Nasional. Di sana mereka tidak belajar secara komprehensif mengenai materi pelajaran yang diujikan, tetapi lebih pada trick, tips, praktek (try-out) soal-soal yang berpeluang muncul pada Ujian Nasional. Lalu, apa makna selanjutnya dari nilai atau angka yang dicapai dalam Ujian Nasional? Faktanya, angka tersebut tidak membawa pengaruh apapun kepada siswa, selain untuk lulus atau tidak lulus.

Ujian Nasional diselenggarakan untuk kepentingan siapa?

Ujian Nasional diselenggarakan untuk kepentingan siapa?

Skor nilai Ujian Nasional yang diperoleh para siswa merupakan skor relative terhadap kualitas dan prestasi akademis yang ia miliki. Ia bukan merupakan skor mutlak atau skor permanent. Skor tersebut lebih merupakan hasil dari “upaya sesaat” menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Skor tersebut merupakan hasil belajar intensif sesaat melalui Lembaga Bimbingan Belajar, dengan tips, dan triks yang diajarkan (para guru) untuk menghadapi atau mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

Oleh karena itu, Triggering Effect atau Shock Therapy yang diharapkan dari penyelenggaraan Ujian Nasional secara perlahan harus ditransformasi ke bentuk yang lebih Persuasif dan Self-Motivating. Dengan demikian, aktivitas belajar yang dilakukan oleh para siswa berjalan secara normal, terarah, dan berbobot. Bukan karena ketakutan tidak lulus ujian nasional.

BACA JUGA:

* Momok Ujian Nasional

* Memaknai Ujian Nasional

Incoming search terms: