Your Ad Here

Archive

Posts Tagged ‘SMK’

Gaya Belajar

April 16th, 2009 ayad No comments

Kenali Gaya Belajar Anda

Oleh: p-m-d

Setiap orang memiliki rasa ingin tahu akan sesuatu hal. Perasaan dan kebutuhan inilah yang mendorong orang untuk senantiasa belajar. Jadi, pada dasarnya belajar adalah upaya orang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui, dan setiap orang melakukan itu. Artinya, manusia adalah mahluk yang Belajar.

Lalu, kalau tidak belajar ia bukan manusia??? He he he, jawab aja sendiri.

Saya yakin, anda mendapatkan Blog ini juga karena Anda manusia. Anda belajar computer, dan internet. So You can see these.

Gaya Belajar anak yang tepat sesuai dengan karakter

Gaya Belajar anak yang tepat sesuai dengan karakter

Persoalan dalam belajar terletak pada metode dan teknik atau gaya seseorang dalam belajar. Ada yang senang belajar dikeramaian bahkan dikerumunan atau di tempat darmawisata; sebaliknya ada yang senang belajar kalau sepi, sendiri, bahkan dikeheningan malam. Ada juga yang senang belajar kalau sambil dengarin musik; sebaliknya ada yang senang kalau belajar sambil bermain. Saya bahkan pernah punya teman yang senang tiduran (sambil dengar) kalau orang lagi belajar (diskusi). Ada juga yang tidak senang belajar kelompok.

Saya sendiri belajar lebih efektif sambil menulis. Sehingga ketika di SD, Madrasah Tsanawiyah, dan Aliyah, saya senang menulis (menyalin) secara ringkas (meringkas) buku pelajaran. Buku tersebut saya pinjam dari teman atau dari Guru. Ketika menulis, saya hampir menyerap 100% ilmu pengetahuan yang saya tulis. He he he. Kan ga perlu beli buku paket khann!

Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah tahu cara dan teknik Anda belajar? Dapatkah Anda menceritakan kepada teman Anda? Ceritakanlah!

OK, Pelajar Indonesia.

Dalam buku Quantum Learning (Bobbi De Porter), membagi gaya belajar manusia dalam tiga jenis, yakni: gaya belajar visual, audio, dan kinestetik. Gaya Belajar Visual adalah gaya belajar yang mengandalkan pada indera penglihatan. Gaya Belajar Audio adalah gaya belajar yang mengandalkan pendengaran. Sementara gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar yang mengandalkan seluruh panca indera dalam belajar.

Artikel relevan: membangun percaya diri, membuang rasa malas, meningkatkan kapasitas, memahami diri sendiri, merenungkan masa depan.


Makna Masa Depan

April 3rd, 2009 ayad No comments

Merefleksi Makna Masa Depan

By; Admin

Apa yang yang terbersit dalam pikiran Anda ketika mendengar atau menyebut kata masa depan. Pernahkah anda sejenak memikirkan apa sih masa depan itu? Dalam buku “Peta Masa DepanKu, penulisnya menyederhanakan makna masa depan secara kuantitatif, yakni satuan waktu pada tiga, lima atau delapan tahun dari sekarang. Angka tersebut sebenarnya tidak penting karena angka yang sesungguhnya bisa bermacam-macam.

Untuk anak Taman Kanak-Kanak, maka satuan waktu masa depan yang lebih cocok adalah 20, 25, atau 30 tahun. Bagi anak jenjang pendidikan Menengah Atas atau Aliyah maka satuan waktu masa depan secara kuantitatif adalah 5 atau 10 tahun. Lagi-lagi angka tersebut hanyalah sebuah pendekatan untuk lebih eksak menerjemahkan makna masa depan.

Lalu apa artinya angka reflektif tersebut?

Secara matematik, kita dapat menghitung usia seorang anak (pelajar) SMA, SMK, atau Aliyah, berdasarkan angka tersebut adalah 27 – 29 tahun (17 s/d19 tambah 10 tahun). Pada usia tersebut, pelajar tersebut sudah berada di suatu zaman yang berbeda dengan zaman sekarang. Secara fisik, psikis dan biologis dia tentu lebih matang, dan dewasa. Secara sosial dia tentu menghadapi tantangan, tanggung jawab, tuntutan peran sosial-politik yang lebih realistik dan lebih berat. Secara politik, dia (mereka) dapat mempengaruhi praktek kehidupan bermasyarkat dan bernegara. Secara bisnis, dia (mereka) dapat menjadi aktor utama kehidupan perekonomian baik dalam tataran domestik ataupun pada tataran global.

Analisa di atas tentu sangat penting untuk disadari (pludge to) oleh para pelajar dan orang tua, serta para pendidik. Karena implikasi dari kesadaran pada hal tersebut akan melahirkan sikap dan perilaku yang antisipatif dan peduli terhadap masa depan.

Artinya, masa depan itu dimulai dari sekarang. Tentu, sangat tidak bijaksana kalau kita memikirkan apa peran dan status masa depan ketika kita sudah berada di sana. Seorang pelajar TIDAK harus MENUNGGU sampai ia berusia 29 tahun (mungkin itu terlalu lama) untuk memikirkan apa dan bagaimana dirinya pada usia tersebut.

Dalam konteks inilah, pendidikan mesti intervensi. Anak-anak yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan, harus memiliki arah dan orientasi (PETA) masa depan yang realistik.

Incoming search terms: