Your Ad Here

Archive

Posts Tagged ‘pendekatan’

Untuk siapa Ujian Nasional

June 18th, 2009 ayad No comments

Untuk Siapa Ujian Nasional

Oleh Hayadin

Hakikat kegiatan evaluasi di dunia pendidikan (khususnya di sekolah) adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelajaran yang (dirumuskan) ingin dicapai oleh seorang pengajar  dapat tercapai. Hal tersebut bermanfaat sebagai in-put kepada pendidik dalam merancang menu pelajaran berikutnya. Jika peserta didik belum memahami atau belum menguasai pelajaran awal maka pengajar tersebut belum dapat melanjutkan ke materi pelajaran selanjutnya. Ia juga perlu melakukan refleksi tentang apa yang kurang atau yang salah dari proses pembelajaran yang sudah ia lakukan kepada para pelajar tersebut.

Dalam perspektif pendidikan transformative, maka hakikat evaluasi adalah untuk mengukur sejauh mana seorang pengajar mampu mengubah wawasan, pengetahuan, keterampilan dan perilaku peserta didik sesuai yang ia harapkan. Untuk melakukan perubahan tersebut, seorang pengajar melakukan dan menggunkan berbagai trik, alat/tools, media, strategi, pendekatan, dan metode. Ruang lingkup, ritme dan tempo perubahan yang terjadi pada peserta belajar antara lain ditentukan oleh factor-faktor tersebut (trik, alat/tools, media, strategi, pendekatan, dan metode yang digunakan).

Oleh karena itu, kegiatan evaluasi sesungguhnya adalah proses yang diperuntukkan kepada para tenaga pengajar/guru/pendidik bahkan kepala sekolah, bukan sebaliknya untuk pelajar/anak sekolah. Jika hasil evaluasi menunjukkan hasil belajar yang rendah, itu merupakan masukan kepada para guru untuk merancang trik, metode, dan pendekatan yang berbeda (baru) dalam memberikan pelajaran, bukan lalu menghukum atau menyalahkan siswa atau murid.

Kepentingan Pelajar terhadap Ujian Nasional

Pertanyaan yang menarik untuk dijawab adalah, “Apa manfaat Ujian Nasional bagi Pelajar Indonesia?”. Jawaban dari pertanyaan ini dapat dilihat melalui fakta dimana menjelang penyelenggaraan Ujian Nasional para siswa ramai memadati lembaga Bimbingan Belajar untuk belajar secara intensif. Tetapi fakta tersebut sebenarnya juga adalah fenomena yang menarik untuk didiskusikan, karena kehadiran mereka di lembaga bimbingan belajar adalah dalam rangka menghadapi Ujian Nasional. Di sana mereka tidak belajar secara komprehensif mengenai materi pelajaran yang diujikan, tetapi lebih pada trick, tips, praktek (try-out) soal-soal yang berpeluang muncul pada Ujian Nasional. Lalu, apa makna selanjutnya dari nilai atau angka yang dicapai dalam Ujian Nasional? Faktanya, angka tersebut tidak membawa pengaruh apapun kepada siswa, selain untuk lulus atau tidak lulus.

Ujian Nasional diselenggarakan untuk kepentingan siapa?

Ujian Nasional diselenggarakan untuk kepentingan siapa?

Skor nilai Ujian Nasional yang diperoleh para siswa merupakan skor relative terhadap kualitas dan prestasi akademis yang ia miliki. Ia bukan merupakan skor mutlak atau skor permanent. Skor tersebut lebih merupakan hasil dari “upaya sesaat” menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Skor tersebut merupakan hasil belajar intensif sesaat melalui Lembaga Bimbingan Belajar, dengan tips, dan triks yang diajarkan (para guru) untuk menghadapi atau mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

Oleh karena itu, Triggering Effect atau Shock Therapy yang diharapkan dari penyelenggaraan Ujian Nasional secara perlahan harus ditransformasi ke bentuk yang lebih Persuasif dan Self-Motivating. Dengan demikian, aktivitas belajar yang dilakukan oleh para siswa berjalan secara normal, terarah, dan berbobot. Bukan karena ketakutan tidak lulus ujian nasional.

BACA JUGA:

* Momok Ujian Nasional

* Memaknai Ujian Nasional

Incoming search terms:


Gaya Belajar

April 16th, 2009 ayad No comments

Kenali Gaya Belajar Anda

Oleh: p-m-d

Setiap orang memiliki rasa ingin tahu akan sesuatu hal. Perasaan dan kebutuhan inilah yang mendorong orang untuk senantiasa belajar. Jadi, pada dasarnya belajar adalah upaya orang untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui, dan setiap orang melakukan itu. Artinya, manusia adalah mahluk yang Belajar.

Lalu, kalau tidak belajar ia bukan manusia??? He he he, jawab aja sendiri.

Saya yakin, anda mendapatkan Blog ini juga karena Anda manusia. Anda belajar computer, dan internet. So You can see these.

Gaya Belajar anak yang tepat sesuai dengan karakter

Gaya Belajar anak yang tepat sesuai dengan karakter

Persoalan dalam belajar terletak pada metode dan teknik atau gaya seseorang dalam belajar. Ada yang senang belajar dikeramaian bahkan dikerumunan atau di tempat darmawisata; sebaliknya ada yang senang belajar kalau sepi, sendiri, bahkan dikeheningan malam. Ada juga yang senang belajar kalau sambil dengarin musik; sebaliknya ada yang senang kalau belajar sambil bermain. Saya bahkan pernah punya teman yang senang tiduran (sambil dengar) kalau orang lagi belajar (diskusi). Ada juga yang tidak senang belajar kelompok.

Saya sendiri belajar lebih efektif sambil menulis. Sehingga ketika di SD, Madrasah Tsanawiyah, dan Aliyah, saya senang menulis (menyalin) secara ringkas (meringkas) buku pelajaran. Buku tersebut saya pinjam dari teman atau dari Guru. Ketika menulis, saya hampir menyerap 100% ilmu pengetahuan yang saya tulis. He he he. Kan ga perlu beli buku paket khann!

Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah tahu cara dan teknik Anda belajar? Dapatkah Anda menceritakan kepada teman Anda? Ceritakanlah!

OK, Pelajar Indonesia.

Dalam buku Quantum Learning (Bobbi De Porter), membagi gaya belajar manusia dalam tiga jenis, yakni: gaya belajar visual, audio, dan kinestetik. Gaya Belajar Visual adalah gaya belajar yang mengandalkan pada indera penglihatan. Gaya Belajar Audio adalah gaya belajar yang mengandalkan pendengaran. Sementara gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar yang mengandalkan seluruh panca indera dalam belajar.

Artikel relevan: membangun percaya diri, membuang rasa malas, meningkatkan kapasitas, memahami diri sendiri, merenungkan masa depan.