Your Ad Here

Archive

Posts Tagged ‘pelajar’

Mempertegas Orientasi Masa depan

April 13th, 2009 ayad 1 comment

Mempertegas Orientasi Masa Depan

Oleh: Mr. p-m-d

Hal terpenting untuk masa depan Anda (sebagai Pelajar dan Pemuda) adalah membuat pilihan (mengambil keputusan) untuk profesi dan peran masa depan Anda. Secara sederhana , ada dua opsi yang dapat anda pilih hari ini: pertama, menjadi professional, atau kedua menjadi entrepreneur.

Menjadi professional.

Ini berarti anda menjadi pekerja terampil yang menguasai teknologi, prosedur, atau system yang dapat membawa manfaat bagi tempat anda bekerja. Profesionalisme anda akan dibayar mahal oleh perusahaan, agen, lembaga, atau organisasi tempat anda bekerja. Anda dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan tersebut melalui lembaga pendidikan seperti sekolah, kursus, akademi dan Universitas.

Untuk menjadi pekerja professional anda dapat melamar di berbagai instansi pemerintah, BUMN, Perusahaan Swasta baik dalam atau luar negeri, bahkan juga di kantor-kantor LSM/NGO. Untuk itu, Anda perlu mencari informasi tentang peluang kerja (lowongan kerja) dan membuat serta mengajukan surat lamaran kerja.

Menjadi Pengusaha

Ini berarti anda menciptakan pekerjaan (lapangan kerja), membayar para pekerja, dan menggaji diri anda sendiri. Menjadi entrepreneur, berarti anda merintis usaha mandiri, baik berbentuk Perusahaan, Usaha Kecil, LSM/NGO. Anda tidak perlu capek-capek membuat dan mengajukan surat lamaran kerja. Anda hanya perlu membuat rencana, dan strategi aksi untuk menjalankan usaha Anda.

Menjadi pengusaha bahkan tidak membutuhkan gelar dan ijazah. Anda hanya perlu IDE atau gagasan yang dapat memberi manfaat kepada masyarakat luas, dan lalu menjualnya. Ujian menjadi pengusaha ada di masyarakat atau di kehidupan nyata. Kesuksesan ditentukan oleh kemampuan merealisasi gagasan atau ide dan mempertahankan jalannya usaha dan pengembangan usaha dan gagasan anda.

Baca juga yang ini


Merefleksi Makna Masa Depan

April 3rd, 2009 ayad No comments

Merefleksi Makna Masa Depan

By; Admin

Apa yang yang terbersit dalam pikiran Anda ketika mendengar atau menyebut kata masa depan. Pernahkah anda sejenak memikirkan apa sih masa depan itu? Dalam buku “Peta Masa DepanKu, penulisnya menyederhanakan makna masa depan secara kuantitatif, yakni satuan waktu pada tiga, lima atau delapan tahun dari sekarang. Angka tersebut sebenarnya tidak penting karena angka yang sesungguhnya bisa bermacam-macam.

Untuk anak Taman Kanak-Kanak, maka satuan waktu masa depan yang lebih cocok adalah 20, 25, atau 30 tahun. Bagi anak jenjang pendidikan Menengah Atas atau Aliyah maka satuan waktu masa depan secara kuantitatif adalah 5 atau 10 tahun. Lagi-lagi angka tersebut hanyalah sebuah pendekatan untuk lebih eksak menerjemahkan makna masa depan.

Lalu apa artinya angka reflektif tersebut?

Secara matematik, kita dapat menghitung usia seorang anak (pelajar) SMA, SMK, atau Aliyah, berdasarkan angka tersebut adalah 27 – 29 tahun (17 s/d19 tambah 10 tahun). Pada usia tersebut, pelajar tersebut sudah berada di suatu zaman yang berbeda dengan zaman sekarang. Secara fisik, psikis dan biologis dia tentu lebih matang, dan dewasa. Secara sosial dia tentu menghadapi tantangan, tanggung jawab, tuntutan peran sosial-politik yang lebih realistik dan lebih berat. Secara politik, dia (mereka) dapat mempengaruhi praktek kehidupan bermasyarkat dan bernegara. Secara bisnis, dia (mereka) dapat menjadi aktor utama kehidupan perekonomian baik dalam tataran domestik ataupun pada tataran global.

Analisa di atas tentu sangat penting untuk disadari (pludge to) oleh para pelajar dan orang tua, serta para pendidik. Karena implikasi dari kesadaran pada hal tersebut akan melahirkan sikap dan perilaku yang antisipatif dan peduli terhadap masa depan.

Artinya, masa depan itu dimulai dari sekarang. Tentu, sangat tidak bijaksana kalau kita memikirkan apa peran dan status masa depan ketika kita sudah berada di sana. Seorang pelajar TIDAK harus MENUNGGU sampai ia berusia 29 tahun (mungkin itu terlalu lama) untuk memikirkan apa dan bagaimana dirinya pada usia tersebut.

Dalam konteks inilah, pendidikan mesti intervensi. Anak-anak yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan, harus memiliki arah dan orientasi (PETA) masa depan yang realistik.