Your Ad Here

Archive

Posts Tagged ‘korban un’

Berjuang untuk UN

May 2nd, 2010 ayad No comments

Perjuangan Menghadapi Ujian Nasional

TAMPAK seperti “hari hidup atau mati”, ujian nasional telah membuat para siswa dicekam kecemasan, kalap dan takut. Pelbagai upaya dilakukan agar bisa lulus. Selain belajar keras, ada pula rupa-rupa ritual. Sekolah juga terus memompa motivasi pada murid. Bahkan ada acara doa bersama dengan pemuka agama, dan sarat adegan isak tangis.

Di Surakarta dan Medan, misalnya, murid-murid didorong meminta maaf pada orang tua. Para siswa sungkem — bersimpuh pada orang tua memohon restu. Tangis pun pecah dari ayah dan ibu, seakan mengantar anak ke medan perang.

Kegiatan spiritual juga dilakukan, seperti istighosah, dan berdoa di makam tokoh ternama. Ada yang berziarah ke Makam Sunan Kudus. Bahkan, makam mantan presiden, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ramai dikunjungi pelajar jelang ujian nasional.

Ada juga yang percaya hal-hal klenik. Di Probolinggo, Jawa Timur, pelajar membawa pensilnya ke pengasuh pesantren. Bukan untuk diraut agar lebih tajam. Tapi diberi “isi” dengan doa agar lulus, dan mulus mengerjakan soal ujian.  ‘Air sakti’ dengan rapalan doa dari dukun juga laris manis.

Di tengah kekalapan siswa, ada pula dukun yang cari kesempatan. Lara, sebut saja namanya begitu. Siswi salah satu SMK di Doko, Ngasem, Kediri itu gamang menghadapi ujian. Lalu dia pergi mencari “kekuatan” ke dukun. Sial, bukannya jadi percaya diri, Lara malah jadi korban dukun cabul.

Apa sebenarnya yang membuat lulus UN jadi hal yang sangat penting?  Anggota DPD RI dari DKI Jakarta, Dani Anwar mengatakan, ujian nasional menjadi beban, tak hanya bagi siswa, tapi juga bagi orang tua dan guru. Sebab, ini adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar tiga tahun di sekolah. Nama baik sekolah dan orang tua ikut dipertaruhkan.

Bagaimanapun, siswa adalah pihak paling tertekan. “Kalau dibayangi UN seperti penentu hidup dan mati siswa begitu, justru membuat stres dia.” Dani iba dengan siswa yang harus menghadapi tekanan luar biasa. “Dalam usia dini seperti itu, mereka sudah dalam suasana underpressure luar biasa,” ujar dia. Padahal, “pendidikan mestinya dibuat untuk bagaimana siswa menjadi enjoy”.

Soal ketidaklulusan, pakar pendidikan, Arif Rachman berpendapat, ada banyak hal yang menyebabkan itu.  Boleh jadi, kata Arif, murid tidak siap menghadapi UN. Akibatnya dari segi psikologis mereka gugup. Atau ini memang soal kecerdasan, dan kepandaian siswa. “Masalah sulitnya soal juga bisa menjadi penghambat,” ujarnya menambahkan. Memang, banyak pengakuan dari para siswa soal yang diujikan lebih sulit dibanding sebelumnya. Jadwal ujiannya yang dimajukan, bisa juga salah satu faktor.

Bagi Arif Rachman, para siswa sebetulnya tak perlu terlalu gugup. “Saat ini, jika tidak lulus UN kan bisa mengulang. Kalau tidak lulus tinggal ngulang saja 1 tahun. Jadi siswa masih punya kesempatan kok,” turut Arif.

Tulisan ini diadopt dari berita VIVANews.Com


Korban Ujian Nasional

May 2nd, 2010 ayad No comments

Mengapa ujian nasional menakutkan?

GUSTI Ayu Riska Lestari duduk bersandar di kursi. Dara enam belas tahun itu mengeluh pusing. Mulutnya masih bau sisa racun serangga. Mukanya pucat. Dengan wajah muram, dia bercerita tentang prahara pada Senin 26 April 2010: tatkala dia gagal Ujian Nasional.

Pagi itu, siswa SMU PGRI I Maros, Sulawesi Selatan ini galau menanti hasil ujian. Dia teringat kata-kata ayahnya: jangan sampai tak lulus. Hasil ujian itu kini terbentang di depan mata. Pada bidang studi matematika Riska dapat angka 3. Lalu ada tulisan ‘UL’ alias ulang. Sekejap, dunia Riska pun seperti runtuh.

Dia berlari pulang. Perasaannya tak menentu, kecewa campur takut. Dia mampir ke warung depan rumah, membeli obat anti serangga seharga Rp 16.000. Pikirannya kacau. Lalu diteguknya cairan maut itu. “Saya tidak bisa menerima kenyataan tidak lulus. Saya stres dan putus asa,” kata Ika kepada VIVAnews, Kamis 29 April 2010.

Tak lama, Riska pun roboh. “Tiba-tiba kepala saya langsung pusing, dan terasa panas,” ujarnya. Ketika sadar, dia berada di Rumah Sakit Salewangan, Maros. Untung, nyawanya terselamatkan.

Dia sangat menyesal telah berbuat bodoh seperti itu.  “Saat itu saya kalap dan nggak tahu harus berbuat apa,” kata dia. Dengan senyum lemah, Riska mengaku masih punya harapan, yakni bisa lulus dalam ujian ulangan pada 11-14 Mei 2010 nanti.

Kalap, takut, dan galau itu ternyata menyebar. Di Wonogiri, Jawa Tengah, Virginia Indah Hargarini, siswi SMU Pancasila di kabupetan itu turut gelap mata.  Setelah paman sekaligus gurunya, Tukijo mengabarkan kabar buruk dia gagal ujian nasional, Indah menyambar kaleng semprot di dekatnya, dan menenggak isinya.

Untung, dia juga selamat setelah dilarikan ke Rumah Sakit Marga Husada. Rupanya kaleng semprot itu berisi cairan pengharum ruangan.

Tapi di Jambi, ada tragedi lain. Wahyuningsih, 19 tahun, kaget ketika membuka amplop pengumuman pada Senin 26 April 2010. Siswi SMKN 3 Muaro Jambi itu tak lulus. Padahal untuk pelajaran Bahasa Indonesia, dia paling tinggi di sekolahnya. Tapi nilai matematikanya hancur, 3,8, kurang 0,2 poin dari batas lulus.

Dia sebelumnya adalah juara kelas. Tapi kini, dia satu-satunya murid yang tak lulus. Hartinya hancur. Ningsih histeris, tubuhnya berguncang dan jatuh. Dalam kondisi galau, Ningsih diantar pulang. Lalu, entah bagaimana, dia ditemukan tergeletak dengan mulut berbusa. Sisa-sisa fungisida ada di dekatnya. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa Ningsih tak selamat. Dia tewas. Ujian nasional telah memakan korban.

Artikel ini di adopt dari VIVANews.Com