Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘manfaat prestasi’

Pohon Sukses

August 19th, 2010 ayad No comments

Faktor Pembentuk Sukses seseorang Faktor Pembentuk Sukses

Oleh: Hayadin

Stoltz menggambarkan kesuksesan seperti halnya sebatang pohon. Menurutnya pohon kesuksesan terdiri atas: daun sebagai hasil dan unjuk kerja; dahan dan ranting sebagai bakat dan kemauan untuk sukses; batang pohon sebagai karakter, kesehatan, dan kecerdasan; serta akar sebagai genetika, pendidikan dan keyakinan.

Sebagaimana halnya daun pohon, kesuksesan juga dapat dilihat melalui hasil kerja atau unjuk kerja (kinerja) yang diperlihatkan oleh seseorang. Itulah hal yang mudah diukur dan dinilai dari seseorang yang sukses.

Hasil dan kinerja (daun) tersebut bukan sesuatu yang secara tiba-tiba hadir dan tumbuh begitu saja. Tetapi ia tumbuh di atas dahan dan ranting yang baik dan kuat yakni: bakat, kompetensi, talenta, keterampilan dan kemauan untuk sukses  sebagai penopangnya. Hal ini terkait dengan cita-cita, rencana, keinginan dan impian yang dipadu dengan keterampilan kerja dan ikhtiar yang teratur, terarah dan sungguh-sungguh. Ikhtiar yang dijalankan berdasarkan penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan dengan berdasarkan rencana dan strategi yang baik dan matang.

Kompetensi dan kemauan (hasrat) untuk sukses tersebut (ranting dan cabang pohon yang baik dan kuat) bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi ia berada di atas (dilandasi oleh) batang pohon yang kuat juga, yakni hal-hal yang terkait dengan karakter, kesehatan dan kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang.

Karakter berkaitan dengan perilaku dan integritas kita dalam menjalani kehidupan dan melakoni peran kita sebagai seorang pembelajar yang senantiasa aktif mencari ilmu pengetahuan, seorang pekerja yang bekerja mencari rezeki untuk menopang hidup, serta sebagai anggota masyarakat yang mengisi waktu luang di tempat kerja dan di lingkungan sekitar. Hal-hal seperti kejujuran, keadilan, ketulusan, keberanian, kedermawanan, menyayangi sesama, merupakan karakter yang dijunjung tinggi secara universal yang diakui oleh orang-orang besar dan sukses sebagai karakter terpuji. Kebalikannya adalah curang, bohong, menerabas, mau menang sendiri, takut, menipu, sebagai karakter yang buruk.

Kesehatan terkait dengan kemampuan fisik dan mental untuk menjalankan fungsi dan aktifitas belajar, bekerja dan bersosialisasi. Semua orang pasti mengetahui pengaruh kesehatan terhadap kesuksesan. Karena setiap orang pernah sakit. Dan pada saat sakit hampir seluruh aktivitas  (belajar, bekerja dan bermain) kita terhenti, bahkan segala sumber daya dan dana pun harus dialihkan untuk  menyembuhkan penyakit tersebut.

Kecerdasan adalah salah satu untur batang pohon kesuksesan (kecerdasan, karakter dan kesehatan). Hal ini terkait dengan IQ (intelectual quotient), EQ (emotional quotient), SQ (spiritual quotient), dan seluruh kecerdasan lainnya yang kita miliki. Salah satu hal yang menarik tentang kecerdasan adalah perspektif baru yang dikemukakan oleh Professor Dr. Howard Gardner yang mengemukakan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh manusia, yakni: kecerdasan matematis, linguistik, spasial, kinestetik,musikal, intrapersonal, interpersonal, dan kecerdasan natural. Semua orang memiliki kecerdasan majemuk tersebut sampai pada tingkat tertentu. Beberapa orang memiliki kecenderungan pada jenis kecerdasan tertentu dan kurang pada jenis kecerdasan yang lain. Semua itu menjadi dasar pembentuk sukses yang sangat bermanfaat untuk kita ketahui. Bentuk kecerdasan paling menonjol yang kita miliki akan mempengaruhi bentuk prestasi dan kinerja (daun) sebagai tampilan sukses yang kita hasilkan.

Kecerdasan, kesehatan dan karakter sebagai batang dari unsur pohon kesuksesan dilandasi oleh akar pohon yang kokoh, yakni: genetika, pendidikan dan keyakinan.

Genetika adalah unsur keturunan biologis yang diwariskan oleh leluhur kita melalui orang tua kepada kita. Ini adalah teori klasik (nativism) dalam ilmu pendidikan yang pernah mendapat pro-kontra, karena ada yang menyanggahnya dengan mengemukakan argumen faktor lingkungan (empirism)  sebagai unsur pembentuk kesuksesan manusia. Namun pada perkembangan terakhir terjadi sintesis melalui teori konvergensi yang memandang keberhasilan sebagai paduan dari faktor genetis (nativism) dan lingkungan (empirism). Hal ini memberikan inspirasi dan isyarat kepada kita untuk memperhatikan bakat dan potensi yang melekat dalam diri kita sebagaimana bakat dan potensi tersebut mungkin telah menjadi dasar kehidupan nenek moyang kita. Kita dapat melakukan modifikasi, inovasi dan kreasi atas berbagai temuan prestasi yang telah dirintis oleh orang tua kita (leluhur). Kita dapat menggali sedalam-dalamnya tentang berbagai kebaikan dan prestasi yan telah diraih oleh mereka. Sekaligus juga secara arif belajar dari kegagalan mereka. Kita mewarisi kesuksesan dan bukan kegagalan dari mereka.

Unsur pendidikan pada akar pohon kesuksesan merujuk pada apa yang kita pelajar dan peroleh dari sekolah, keluarga, orang tua, dan guru, serta berbagai institusi dan media yang memberikan pengetahuan dan kearifan untuk menjalani kehidupan. Sebagai akar, maka pendidikan memberikan pengaruh yang besar kepada pembentukan karakter, kesehatan dan kecerdasan pada batang pohon pembentuk sukses. Pendidikan yang baik akan melahirkan karakter yang baik; melahirkan pola, perilaku dan gaya hidup yang sehat (healthy life), serta menghasilkan kecerdasan yang terbina secara maksimal.

Terakhir adalah unsur keyakinan sebagai salah satu akar kesuksesan,  merujuk pada ajaran agama dan kepercayaan yang kita anut. Seluruh agama yang eksis sampai hari ini, mengajarkan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar bagi pemeluknya untuk bertahan hidup dan meraih kehidupan yang bahagia di dunia bahkan di akhirat kelak.

Incoming search terms:


Orang Beruntung

August 11th, 2010 ayad No comments

Siapakah Orang Beruntung

Oleh: Hayadin

Rasulullah SAW, memberikan wawasan yang sangat arif, luas, dan dalam serta bijaksana tentang perencanaan hidup manusia. Beliau membagi manusia atas tiga kategori, yakni beruntung, lalai, dan merugi.

Orang yang beruntung menurut Rasulullah SAW adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin (masa lalu). Dalam kalimat yang lain juga berarti orang beruntung adalah orang yang kehidupannya saat ini lebih baik, lebih berkualitas dibandingkan dengan kehidupannya di masa lalu. Untuk mendapatkan alur hidup seperti ini dibutuhkan kecerdasan dan ikhtiar yang terarah, sungguh sungguh dan terus menerus. Kehidupan tidak cukup diserahkan kepada alam. Manusia harus melakukan rekayasa untuk mengolah lingkungan sekitarnya dalam rangka memperbaiki kualitas dan taraf kehidupanya.

Orang yang merugi menurut Rasulullah SAW adalah mereka yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin (masa lalu) atau hari kemarin (masa lalu) lebih baik dari pada hari ini). Dengan kalimat yang lain juga berarti bahwa orang yang merugi adalah mereka yang memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik di masa lalu tetapi tidak dapat mempertahankanya dan meningkatkannya sehingga kualitas hidup tersebut menjadi hilang, dan berganti dengan kehidupan yang buruk atau rendah kualitasnya. Alur kehidupan seperti ini dapat disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri yang tidak melakukan ikhtiar terarah, dan berkesinambungan; atau mungkin juga disebabkan oleh faktor alam yang merusak kehidupan manusia seperti musibah, dan  bencana alam.

Kategori ketiga adalah orang yang lalai. Menurut Rasulullah Muhammad SAW, orang yang lalai adalah orang yang keadaannya hari ini (sekarang) sama dengan atau tidak ada perbedaan dengan hari kemarin (masa lalu). Dengan kalimat yang lain juga berarti bahwa orang yang lalai adalah mereka yang tidak membuat perubahan dalam hidup, sehingga kualitas kehidupannya sekarang sama dengan masa lalunya. Tidak ada perubahan. Mereka tidak pernah melakukan inovasi, dan terobosan besar dalam kehidupannya.

Gambaran kategori hidup dalam dimensi waktu yang digambarkan oleh Rasulullah SAW, tersebut di atas, sangat menarik, karena menyiratkan banyak hal kepada kaum  muslimin, antara lain: hidup harus kreatif dan inovatif; terencana dan terarah; ikhtiar yang berkesinambungan; dalam hidup perlu ada refleksi dan evaluasi; dan perlunya melakukan terobosan (breakthrough) untuk mengatasi keterpurukan dalam hidup.

Kreatif dan  inovatif merupakan jalan bagi manusia untuk melakukan pembaharuan. Kreatif berarti menciptakan sesuatu yang berbeda. Orang kreatif memanfaatkan segala benda dan ide yang ada disekelilingnya menjadi berbeda dan membawa manfaat yang lebih besar. Demikian pula halnya dengan inovasi yang berarti menemukan sesuatu yang baru sebagai perkembangan dari bentuk sebelumnya atau sama sekali baru atau  belum pernah ada sebelumnya.

Hidup juga harus terencana dan terarah. Dengan perencanaan yang terarah maka ikhtiar manusia berjalan secara disiplin dan berkesinambungan.Tanpa perencanaan yang baik, kehidupan tidak memiliki disiplin. Semuanya dikerjakan berdasarkan kesenangan, selera, atau pengaruh lingkungan yang belum tentu selaras dengan kehidupan seseorang. Dengan perencanaan, maka setiap ikhtiar akan memiliki rumusan tujuan dan niat yang tegas serta jelas: untuk apa suatu ikhtiar dikerjakan. Niat dan tujuan yang tegas tersebut akan menjadi landasan disiplin dalam menjalani proses ikhtiar hingga mencapai hasil yang diinginkan. Sebaliknya tanpa niat dan tujuan yang jelas maka ikhtiar yang dilakukan bernilai kosong, tidak memiliki disiplin, tidak ada proses dan kesinambungan yang jelas, dan tidak membuahkan hasil.

Manusia juga perlu melakukan refleksi dan evaluasi atas kehidupan yang dijalaninya. Melalui refleksi dan evaluasi, manusia melihat kembali perjalanan hidupnya di masa lalu hingga pada titik sekarang. Apa amal sholeh yang telah dilakukannya, apa yang telah ia capai, bagaimana ia mencapai prestasi tersebut. Apa kekeliruan yang telah ia lakukan. Manusia juga dapat melakukan refeleksi tentang masa depannya berdasarkan perjalanan hidup yang telah ia lewati. Bagaimana kesinambungan dari perjalanan tersebut, dan apa yang akan di lakukan atau tidak dilakukan dimasa depan dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Apa yang disabdakan oleh Rasululah tersebut, secara imperatif merupakan ajaran untuk proaktif dan merencanakan hidup dan merancang masa depan. Mari jadikan Bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menullis rencana masa depan yangkan kia evaluasi pada Ramadhan berikutnya.


chevening 2010

October 12th, 2009 ayad No comments

Beasiswa Chevening

Oleh Admin

Kesempatan bagi Anda yang berminat belajar ke luar negeri dengan memanfaatkan beasiswa kedutaan Negara Inggris. Pada tahun 2010, Foreign and Commonwealth Office (FCO), melalui the British Council di Indonesia kembali membuka pendaftaran beasiswa chevening untuk berbagai program seperti: Climate Change and Forestry, Counter-Terrorism and International Security, Democracy and Governance, Religion and Islamic Studies, Economic Reform and International Trade, Human Rights, Conflict, Justice and Peace-Building.

Persyaratan pendaftaran adalah: Warga negara Indonesia; Memiliki gelar sarjana dengan minimum Indeks Prestasi ?3,0; Mampu berbahasa Inggris lisan dan tulisan; Memiliki pengalaman kerja minimum 2 tahun setelah lulus S1; Memiliki prospek karir yang baik; Memiliki komitmen untuk mengembangkan karir dan kemampuan untuk menunjukkan motivasi; Bidang studi harus relevan dengan latar belakang pendidikan atau pekerjaan saat ini; Mampu menunjukkan potensi sebagai pemimpin masa depan dan kapasitas untuk memainkan peranan penting dalam pembangunan Indonesia.

Pendaftaran dimulai 1 Oktober – 31 Desember 2009 secara On-Line.

Chevening merupakan skema beasiswa utama pemerintah United Kingdom (UK) yang ditujukan bagi pemimpin masa depan, mereka yang berprestasi sangat baik, kalangan pembentuk opini dan para pengambil keputusan. Program yang didanai oleh Foreign dan Commonwealth Office (FCO) dan dikelola oleh British Council memberikan dukungan bagi lebih dari 2.300 pelajar internasional tiap tahunnya untuk belajar di UK.
Banyak dari para lulusan dan profesional muda berbakat Indonesia telah meraih sukses melalui British Chevening Awards, yang telah memberikan sebanyak 1,000 beasiswa untuk Indonesia sejak skema ini dimulai pada tahun 1984.

Info selanjutnya hubungi kantor British Council Indonesia atau www.britishcouncil.or.id

Berita Relevan lainnya:

Pelajar Ideal

Mempertegas orientasi Masa Depan


Akademis vs. Vokasional

July 14th, 2009 ayad No comments

Orientasi Akademis Vs. Vokasional

Apresiasi atas Debat Cawapres (Selasa 30 Juni 2009)

Oleh Hayadin

Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh moderator debat cawapres (Dr. dr. Fachmi Idris) adalah porsi pendidikan berorientasi akademis yang melahirkan lulusan dengan pengetahuan dan wawasan luas plus gelar dan ijazah, versus pendidikan berorientasi vokasional yang melahirkan lulusan trampil dan siap kerja. Pertanyaan dan jawaban atas isu tersebut patut mendapatkan apresiasi, karena hal tersebut menyangkut Desain Besar (Grand Design) dari Pendidikan suatu Bangsa.

Pelajar berprestasi

Pelajar berprestasi

Jika kita mengamati model pendidikan yang diselenggarakan di negara-negara maju maka secara filosofis dan axiologis, orientasi yang dikembangkan adalah untuk menciptakan lulusan (out-put dan out-come) yang tidak tergantung (menggantungkan hidupnya) kepada pihak lain, baik kepada orang tua, masyarakat atau negara. Pendidikan didesain untuk menciptakan manusia yang mandiri, baik secara mental, emosi, intelektual, dan ekonomi. Dengan kata lain, secara pragmatis pendidikan didesain untuk tidak menciptakan pengangguran. Setiap pelajar lulusan dari suatu institusi pendidikan diarahkan agar memiliki kompetensi pengetahuan, wawasan untuk meniti jalur hidup tertentu baik yang bersifat profesional ataupun entrepreneur.

Negara Jerman, misalnya menjadi contoh dari model pendidikan yang cenderung lebih vokasional. Pendidikan mereka tidak menghasilkan banyak gelar, tetapi menekankan pada penguasaan keterampilan berbasiskan disiplin ilmu tertentu. Pelajarnya-pun tidak termotivasi belajar untuk mengejar gelar tetapi untuk menguasai kompetensi dengan pembuktian (pengujian) yang bersifat empiris.

Mungkin sedikit berbeda dengan model pendidikan di Negara Amerika yang cenderung menekankan penguasaan ilmu murni, filosofis dan eksploratif. Lembaga Pendidikannya banyak menghasilkan teori (spekulatif-teoretik) yang radikal dan menantang untuk suatu perubahan cara pandang. Model ini didukung oleh dunia usia, lembaga bisnis dan lembaga riset yang senantiasa siap untuk mengadopsi dan mengembangkan teori yang ada (ditemukan) di dunia perguruan tinggi.

Di Indonesia? Sampai hari ini kita masih mencari bentuk.

Lalu kemana grand design pendidikan dan masa depan pelajar Indonesia akan diarahkan oleh Pemimpin Bangsa ini? Ada tiga isu yang sempat mengemuka dalam debat tadi malam, yakni: penguasaan ilmu-ilmu dasar, pengembangan manajemen modern, dan pengembangan keterampilan kerja atau vokasional.

Pengembangan Ilmu Dasar, Matematik dan Skolastik

Setiap orang harus memiliki ilmu dasar seperti kecakapan berhitung, membaca, dan menulis. Karena ini adalah alat dasar yang utama bagi setiap orang untuk belajar lebih lanjut. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan dasar memiliki kewajiban untuk menuntaskan pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada setiap pelajar Indonesia. Dengan kemampuan skolastik dan ilmu dasar lainnya termasuk matematika setiap orang (pelajar) memiliki landasan untuk melanjutkan level pendidikan dan materi pelajaran ke jenjang dan tahap yang lebih tinggi.

Pengembangan ilmu Manajemen Modern

Pada sisi lain, lembaga pendidikan kita harus juga menghasilkan output yang memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan manajemen modern. Ini merupakan pengetahuan dan keterampilann yang memungkinkan berbagai potensi ilmu pengetahuan, kreativitas, dan inovasi terwadahi dan menghasilkan sesuatu produk yang bernilai ekonomi. Dengan kemampuan manajemen modern berbagai konsep ilmu pengetahuan dapat dikelolah dalam konteks ‘knowledge management, pendekatan sistem, dan bisnis. Melalui manajemen modern dimungkinkan bakat kreativitas seni, dan science, teknologi dikelolah hingga menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi.

Pengembangan Keterampilan kerja

Untuk mengatasi pengangguran terpelajar dan tingkat kemiskinan yang masih besar jumlahnya di tanah air, maka pengembangan pendidikan berorientasi keterampilan kerja sangat relevan. Hal ini untuk sebagian orang akan terlihat pragmatis, tetapi secara rasional adalah solusi yang masuk akal. Banyak pelajar yang tamat universitas dengan  berbagai macam gelar tidak memiliki kecakapan kerja yang relevan dengan dunia industri. Di sisi lain mereka juga tidak memiliki basis pengetahuan, keterampilan dan pengalaman enterpreneur untuk berwira usaha. Mereka inilah yang harus dipikirkan untuk diselamatkan oleh negara.

Pelajar Tumpuan Masa Depan Bangsa

Pelajar Tumpuan Masa Depan Bangsa

Sudah saatnya, pemerintah berani membuat grand desain pendidikan yang terarah, sistemik, dan sistematis. Modal jumlah penduduk yang besar (tentu jumlah pelajarnya juga besar) merupakan kekuatan potensial bagi Negara Indonesia untuk menyongsong masa depan yang cerah dan ikut bermain di tengah percaturan global. Tentu tengan syarat bahwa penduduk (pelajar) tersebut mendapat menu pendidikan yang relevan, tepat, dan bermanfaat.

BACA JUGA:

* Pembangunan Berorientasi pada kepentingan Pelajar

* Relasi Pendidikan, pengangguran dan Kemiskinan

Incoming search terms:


Untuk siapa Ujian Nasional

June 18th, 2009 ayad No comments

Untuk Siapa Ujian Nasional

Oleh Hayadin

Hakikat kegiatan evaluasi di dunia pendidikan (khususnya di sekolah) adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan pelajaran yang (dirumuskan) ingin dicapai oleh seorang pengajar  dapat tercapai. Hal tersebut bermanfaat sebagai in-put kepada pendidik dalam merancang menu pelajaran berikutnya. Jika peserta didik belum memahami atau belum menguasai pelajaran awal maka pengajar tersebut belum dapat melanjutkan ke materi pelajaran selanjutnya. Ia juga perlu melakukan refleksi tentang apa yang kurang atau yang salah dari proses pembelajaran yang sudah ia lakukan kepada para pelajar tersebut.

Dalam perspektif pendidikan transformative, maka hakikat evaluasi adalah untuk mengukur sejauh mana seorang pengajar mampu mengubah wawasan, pengetahuan, keterampilan dan perilaku peserta didik sesuai yang ia harapkan. Untuk melakukan perubahan tersebut, seorang pengajar melakukan dan menggunkan berbagai trik, alat/tools, media, strategi, pendekatan, dan metode. Ruang lingkup, ritme dan tempo perubahan yang terjadi pada peserta belajar antara lain ditentukan oleh factor-faktor tersebut (trik, alat/tools, media, strategi, pendekatan, dan metode yang digunakan).

Oleh karena itu, kegiatan evaluasi sesungguhnya adalah proses yang diperuntukkan kepada para tenaga pengajar/guru/pendidik bahkan kepala sekolah, bukan sebaliknya untuk pelajar/anak sekolah. Jika hasil evaluasi menunjukkan hasil belajar yang rendah, itu merupakan masukan kepada para guru untuk merancang trik, metode, dan pendekatan yang berbeda (baru) dalam memberikan pelajaran, bukan lalu menghukum atau menyalahkan siswa atau murid.

Kepentingan Pelajar terhadap Ujian Nasional

Pertanyaan yang menarik untuk dijawab adalah, “Apa manfaat Ujian Nasional bagi Pelajar Indonesia?”. Jawaban dari pertanyaan ini dapat dilihat melalui fakta dimana menjelang penyelenggaraan Ujian Nasional para siswa ramai memadati lembaga Bimbingan Belajar untuk belajar secara intensif. Tetapi fakta tersebut sebenarnya juga adalah fenomena yang menarik untuk didiskusikan, karena kehadiran mereka di lembaga bimbingan belajar adalah dalam rangka menghadapi Ujian Nasional. Di sana mereka tidak belajar secara komprehensif mengenai materi pelajaran yang diujikan, tetapi lebih pada trick, tips, praktek (try-out) soal-soal yang berpeluang muncul pada Ujian Nasional. Lalu, apa makna selanjutnya dari nilai atau angka yang dicapai dalam Ujian Nasional? Faktanya, angka tersebut tidak membawa pengaruh apapun kepada siswa, selain untuk lulus atau tidak lulus.

Ujian Nasional diselenggarakan untuk kepentingan siapa?

Ujian Nasional diselenggarakan untuk kepentingan siapa?

Skor nilai Ujian Nasional yang diperoleh para siswa merupakan skor relative terhadap kualitas dan prestasi akademis yang ia miliki. Ia bukan merupakan skor mutlak atau skor permanent. Skor tersebut lebih merupakan hasil dari “upaya sesaat” menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Skor tersebut merupakan hasil belajar intensif sesaat melalui Lembaga Bimbingan Belajar, dengan tips, dan triks yang diajarkan (para guru) untuk menghadapi atau mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

Oleh karena itu, Triggering Effect atau Shock Therapy yang diharapkan dari penyelenggaraan Ujian Nasional secara perlahan harus ditransformasi ke bentuk yang lebih Persuasif dan Self-Motivating. Dengan demikian, aktivitas belajar yang dilakukan oleh para siswa berjalan secara normal, terarah, dan berbobot. Bukan karena ketakutan tidak lulus ujian nasional.

BACA JUGA:

* Momok Ujian Nasional

* Memaknai Ujian Nasional