Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘manajemen diri dalam pembelajaran’

UN dan Kepentingan Pemerintah

June 22nd, 2009 ayad No comments

Untuk Siapa Ujian Nasional (Bag.2)

Oleh: Hayadin

Berdasarkan sudut pandang tertentu, dapat dinyatakan bahwa sebenarnya pelajar atau anak sekolah tidak membutuhkan Ujian Nasional. Mereka tetap akan dapat menjadi pintar dan cerdas tanpa Ujian Nasional seperti dilaksanakan sekarang ini. Mereka secara sederhana hanya membutuhkan proses belajar mengajar yang terarah, berjenjang, terukur dan bermakna. Triggering effect dan shock therapy yang muncul melalui proses penyelenggaraan Ujian Nasional, mestinya ditujukan kepada system dan manajemen pembelajaran, serta stakeholders pendidikan secara lebih luas, bukan semata-mata kepada pelajar.

Para Kepala Sekolah dan jajaran manajemen di sekolah mesti lebih baik dalam mengelolah proses pembelajaran dengan alat, media dan pendekatan serta lingkungan belajar yang baik  pula. Semikian pula para guru mesti lebih tertantang  untuk mengajarkan materi pelajaran kepada siswanya dengan menggunakan berbagai metode, trik, tips, dan pendekatan yang menyenangkan. Masyarakat dan dunia usaha juga harus lebih berhati-hati dalam mendirikan lembaga pendidikan, karena mesti melengkapinya dengan fasilitas dan sumber daya manujsia terutama tenaga pengajar yang maksimal dan berkualitas.

Kepentingan Pemerintah terhadap Ujian Nasional

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005, pasal 63 ayat 1 disebutkan bahwa: Penilaian Pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: penilaian hasil belajar oleh Pendidik; Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. Dan pada pasal 68 disebutkan bahwa: hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; penentuan kelulusan peserta didik dari program dan / atau satuan pendidikan; serta untuk pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Soal ujian Nasional yang sulit, bahkan oleh guru sekalipun.

Soal ujian Nasional yang sulit, bahkan oleh guru sekalipun.

Pemerintah disebutkan sebagai salah satu pihak yang berwenang (memiliki kepentingan) melakukan penilaian hasil belajar siswa Sekolah Dasar (SD), SMP, M.Ts, MA, SMK, dan SMA. Dan Ujian Nasional merupakan seremonial (prosedur) yang diciptakan untuk itu. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menugaskan Badan Standarisasi Nasional Pendidikan untuk menyelenggarakan Ujian Nasional dengan passing grade (angka lulus) yang ditentukan pada angka tertentu. Di sinilah lahir momok yang menakutkan dari proses pendidikan nasional.

Dimana Peta Kualitas Pendidikan Nasional?

Salah satu tujuan diselenggarakannya Ujian Nasional adalah untuk menjadi bahan dalam penyusunan Peta Mutu Program dan / atau satuan pendidikan. Dengan demikian pemerintah berkewajiban untuk membuat Peta Kualitas Pendidikan Nasional sebagai tindak lanjut dari penyelenggaraan Ujian Nasional. Peta ini akan menjadi pedoman yang komprehensif bagi stake holders pendidikan dan pemerintah dalam melakukan pembinaan ataupun dalam rangka memilih jalur dan jenis pendidikan yang sesuai bagi anak Indonesia. Lalu, dimanakan peta tersebut tersimpan???

BACA juga:

Momok Ujian Nasiona

Memaknai Ujian Nasional

Untuk siapa Ujian Nasional


gagasan & ide dasar

January 15th, 2008 ayad No comments

Peta Masa Depanku (PMD) adalah suatu gagasan mengenai perencanaan studi dan masa depan pelajar. Dalam hal ini terutama dipersembahkan kepada pelajar Indonesia. Gagasan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran akan status dan posisi pelajar sebagai generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Pelajar dan generasi muda umumnya adalah pemimpin di masa depan. Dan kini saatnya pelajar merancang jalan ke sana, ke masa depan.

Gagasan ini lahir di tengah kondisi bangsa yang masih terpuruk dengan jumlah pengangguran terpelajar (scolar unemployment) sebesar 41,2 % dari jumlah total penggangguran. Disamping itu berbagai penyakit sosial ikut mengepung kehidupan sehari-hari pelajar dan pemuda Indonesia. Penyakit sosial tersebut antara lain: kekerasan, narkoba, minuman keras, budaya konsumtif, tidak disiplin dan belum sadar untuk mengatur waktu.

Lalu, untuk apa kita BERSEKOLAH?

Sekolah merupakan jembatan emas menuju masa depan yang gemilang. Dengan bersekolah orang belajar berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk mempersiapkan masa depan. Mereka yang sukses selalu mereka yang bersekolah. Jarang (bahkan tidak ada) buta huruf & buta aksara yang meraih sukses. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa setiap orang yang bersekolah (automaticly) akan memiliki masa depan yang cerah. Karena masa depan merupakan sesuatu yang berbeda dengan masa sekarang. Masa sekarang (bersekolah) terasa sangat indah, romantis, bersahabat dan nyaman. Sementara masa depan yang berjarak lima, delapan, atau sepuluh tahun dari sekarang akan diwarnai oleh persaingan (kompetisi), dan tuntutan kebutuhan hidup yang kompleks.

Di masa depan pada era globalisasi, kita tidak hanya berkompetisi dengan kerabat sekampus atau sekampung. Tetapi setiap orang (mau atau tidak mau) akan berkompetisi dengan orang lain dari berbagai belahan bumi. Ada orang Amerika, Inggris, Australia, Malaisia, Singapore, Arab Saudi, dan lain-lain. Jaminan untuk bertahan (eksis) adalah keterampilan dan profesionalisme. Setiap orang mesti memiliki keterampilan dan/untuk menjalani profesi tertentu.

Keterampilan merupakan seperangkat keahlian (teknis) untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas tertentu dalam tempo yang relatif singkat. Keterampilan yang didukung oleh konsep dan apresiasi terhadap pekerjaan secara fokus, konprehensif dan utuh akan melahirkan profesionalisme. Untuk memiliki profesi (menyandang status profesional) orang mesti memiliki keterampilan, pekerjaan dan kualifikasi pendidikan yang koheren. Artinya, keterampilan, dan pekerjaannya didasari oleh kualifikasi pendidikan yang relevan; atau sebaliknya kualifikasi pendidikan mendukung keterampilan dan pekerjaannnya.

Oleh karena itu, perencanaan studi, profesi, karier dan masa depan merupakan salah satu hal yang penting bagi anak sekolah selain prestasi akademik. Sejak di bangku sekolah keputusan tentang profesi yang akan dipilih harus dibuat.

Untuk menjawab tuntutan tersebut , kami persembahkan konsep/gagasan PETA MASA DEPANKU, yang boleh juga disingkat pmd. Pmd dikembangkan untuk membantu adik-adik pelajar Indonesia merencanakan masa depan secara jelas dan merumuskan jalan menuju ke sana. “Ku” pada kalimat “Peta Masa Depanku” berarti Anda yang sedang membaca dan atau sedang membuat rencana masa depan. Bukan penulis buku. Secara umum “ku” tersebut merujuk kepada generasi pelajar dan pemuda Indonesia yang sedang belajar, baik di bangku sekolah ataupun di luar sekolah.

Secara umum tujuan Peta Masa DepanKu adalah:
1. Memberikan arah dan orientasi yang jelas kepada orangtua tentang masa depan pendidikan (studi), profesi dan karir anak-anak mereka.
2. Memberikan arah dan orientasi yang jelas kepada pelajar (siswa dan mahasiswa) tentang rencana studi dan karir mereka.
3. Pemberikan petunjuk dan pegangan kepada para tenaga kependidikan (utamanya guru BP, wali kelas serta Kepala Sekolah) untuk membina siswa-siswinya dalam menempuh studi dan merencanakan karir sejak dini.

Sasaran dari konsep Peta Masa DepanKu adalah: siswa/mahasiswa, orang tua siswa, tenaga kependidikan, guru BP, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, dan dan stakeholder pendidikan lainnya.

Konsepsi “Peta Masa DepanKu” disusun atas landasan berbagai ilmu pengetahuan yang saling terkait antara lain:
1. Psikologi; berkaitan dengan konsepsi kebutuhan manusia untuk senantiasa belajar memperbaharui diri.
2. Konselling; berkaitan dengan konsepsi bantuan dan pencerahan jiwa manusia untuk mencapai kemajuan dan keutamaan secara sistematis dan rasional.
3. Manajemen (self-management); berkaitan dengan konsepsi pengelolaan berbagai aspek yang mempengaruhi keberhasilan atau kesuksesan manusia.
4. Pendidikan; berkaitan dengan konsepsi upaya manusia untuk menciptakan suasana pembelajaran dalam rangka menggali potensinya.
5. Ekonomi; berkaitan dengan konsepsi penggunaan sumberdaya yang terbatas dalam menggapai cita-cita yang setinggi-tingginya.
6. Sosiologi; berkaitan dengan konsepsi masyarakat dan kebudayaan sebagai faktor pendukung atau penghambat upaya manusia dalam merealisasi cita-citanya.

Kami berharap dengan membuat Peta Masa Depanku, perencanaan studi dan karier ANAK SEKOLAH Indonesia menjadi jelas dan relevan.

Incoming search terms:


Categories: Uncategorized Tags:

Pengambilan Keputusan untuk Profesi pada Siswa

October 31st, 2007 ayad 6 comments

Abstrak: Penelitian ini dilakukan didorong oleh keprihatinan atas tingginya jumlah pengangguran terutama pengangguran terpelajar, dan tingginya permasalahan sosial yang terjadi pada pelajar / siswa usia dan jenjang Pendidikan Menengah di tanah air. Asumsinya adalah, pelajar yang memiliki keputusan untuk menggeluti profesi tertentu pada masa depan, tidak akan melakukan hal-hal negatif yang merusak cita-citanya. Penelitian ini mempertanyakan kemampuan dan wawasan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan dalam hal membuat keputusan tentang profesi dan pekerjaan. Penelitian dilakukan di Kota Jakarta pada bulan Januari sampai dengan Maret 2005. Sampel penelitian diperoleh secara oportunistik sebanyak 400 siswa. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), belum memiliki keputusan yang jelas tentang profesi yang akan digelutinya. Read more…

Incoming search terms:


Categories: ARTIKEL Tags: