Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘makna masa depan’

Rencana Sukses

August 28th, 2010 ayad No comments

Hidup Terencana dan Terarah

Oleh: Hayadin

Salah satu kutipan yang menarik adalah: “if You Fail to Plan, You Plan to fail”. Artinya, jika anda gagal membuat rencana, maka Anda membuat rencana untuk gagal. Kutipan di atas sangat tepat, dengan menyandingkan kegagalan sebagai konsekwensi perencanaan. Kegagalan menjadi konsekwensi mutlak dari buruknya perencanaan dan atau ketiadaan perencanaan.

Gagal membuat rencana (Fail to Plan) dapat dimaknai sebagai kekurangmampuan dalam membuat rencana, menentukan orientasi masa depan, dan arah dari suatu perjalanan atau akhir dari suatu ikhtiar. Dalam perspektif lain, dapat pula dikatakan sebagai ketidakjelasan niat dalam menjalankan sesuatu. Sesuatu dikerjakan atau dijalankan hanya karena mengikuti kehendak orang lain, ikut-ikutan, atau latah.

Para pakar manajemen memandang bahwa perencanaan merupakan hal yang penting dan utama dari suatu pekerjaan, projek, perjalanan, usaha, dan tujuan. Dengan adanya rencana yang terarah dan jelas, menurut ahli manajemen, maka setengah dari tujuan telah dicapai.

Lalu, bagaimana kalau tidak ada perencanaan? Tentu kita tidak akan mencapai apa-apa. Apa yang kita lakukan hanyalah melanjutkan rutinitas dari orang-orang terdahulu,  mengikuti irama lingkungan, merespon secara reaktif berbagai hal yang terjadi di sekitar kita dengan mengandalkan naluri dan perasaan tanpa ada bingkai yang terarah. Kita mengerjakan sesuatu hanya karena orang lain mengerjakannya, atau terdesak oleh situasi dan kondisi, bukan  berdasarkan tujuan pribadi yang kita inginkan.

Hidup terencana secara praktis dilakukan dengan merumuskan apa yang mau kita raih dalam limit waktu tertentu. Boleh jadi batasannya adalah apa yang mau kita raih dalam satu minggu, dalam satu bulan, dalam satu tahun atau lebih, bahkan apa yang mau kita raih atau mau kita capai hari ini terumuskan secara jelas. Merumuskannya adalah di dalam otak atau melalui tulisan. Orang bijak menganjurkannya agar rencana tersebut dituliskan di atas kertas agar mudah dilihat, dapat menjadi pedoman, serta dapat ditinjau ulang seiring dengan pergantian sang waktu.

Sejarah gemilang yang dicapai oleh manusia diukir melalui pemimpin-pemimpin besar yang memiliki perencanaan. Baik di dunia industri, militer, maupun di dunia keilmuan. Mereka semua memiliki rencana. Tidak atas kebetulan dan keberuntungan semata atas pencapaian mereka. Sebagian besar rencana mereka dituangkan dalam tulisan, sehingga menjadi obyek kajian para ahli sejarah di masa kini. Sebagian yang lain juga ada yang tidak sempat menuliskan rencana tersebut dan hanya tersimpan dalam memori mereka.

Orang yang memiliki rencana tertentu, akan memiliki motivasi besar yang lahir dari dirinya sendiri untuk melakukan serangkaian ikhtiar mencapai tujuannya; secara sadar ia akan membangun strategi dan disiplin yang dibutuhkan sebagai prasyarat mencapai tujuannya; dengan rencana dan tujuan yang jelas, ia akan memiliki daya tahan dan kesabaran terhadap berbagai masalah dan tantangan yang mungkin hadir mengganggu perjalanannya mencapai tujuan tersebut.

Oleh karena itu, merumuskan tujuan pribadi dan menuangkannya dalam perencanaan yang jelas dan terarah merupakan awal dari kesuksesan pribadi. Ungkapan tersebut di atas ”if You fail to Plan, You Plan to Fail”, sangat tepat, yang jika dibalik dengan mengganti kata fail (gagal) dengan success (sukses) akan berbunyi, “if You success to Plan, You Plan to Success”, artinya: “Jika Anda sukses membuat rencana, maka Anda telah berencana untuk sukses”. It’s great!

Untuk itu, di sekolah selain belajar (matematika, bahasa, ilmu pengetahuan lain) dan mengembangkan bakat, akan lebih baik masa depan kita jika kita juga belajar membuat rencana untuk hari esok yang lebih baik. Let’s make planning.

Incoming search terms:


Pohon Sukses

August 19th, 2010 ayad No comments

Faktor Pembentuk Sukses seseorang Faktor Pembentuk Sukses

Oleh: Hayadin

Stoltz menggambarkan kesuksesan seperti halnya sebatang pohon. Menurutnya pohon kesuksesan terdiri atas: daun sebagai hasil dan unjuk kerja; dahan dan ranting sebagai bakat dan kemauan untuk sukses; batang pohon sebagai karakter, kesehatan, dan kecerdasan; serta akar sebagai genetika, pendidikan dan keyakinan.

Sebagaimana halnya daun pohon, kesuksesan juga dapat dilihat melalui hasil kerja atau unjuk kerja (kinerja) yang diperlihatkan oleh seseorang. Itulah hal yang mudah diukur dan dinilai dari seseorang yang sukses.

Hasil dan kinerja (daun) tersebut bukan sesuatu yang secara tiba-tiba hadir dan tumbuh begitu saja. Tetapi ia tumbuh di atas dahan dan ranting yang baik dan kuat yakni: bakat, kompetensi, talenta, keterampilan dan kemauan untuk sukses  sebagai penopangnya. Hal ini terkait dengan cita-cita, rencana, keinginan dan impian yang dipadu dengan keterampilan kerja dan ikhtiar yang teratur, terarah dan sungguh-sungguh. Ikhtiar yang dijalankan berdasarkan penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan dengan berdasarkan rencana dan strategi yang baik dan matang.

Kompetensi dan kemauan (hasrat) untuk sukses tersebut (ranting dan cabang pohon yang baik dan kuat) bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi ia berada di atas (dilandasi oleh) batang pohon yang kuat juga, yakni hal-hal yang terkait dengan karakter, kesehatan dan kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang.

Karakter berkaitan dengan perilaku dan integritas kita dalam menjalani kehidupan dan melakoni peran kita sebagai seorang pembelajar yang senantiasa aktif mencari ilmu pengetahuan, seorang pekerja yang bekerja mencari rezeki untuk menopang hidup, serta sebagai anggota masyarakat yang mengisi waktu luang di tempat kerja dan di lingkungan sekitar. Hal-hal seperti kejujuran, keadilan, ketulusan, keberanian, kedermawanan, menyayangi sesama, merupakan karakter yang dijunjung tinggi secara universal yang diakui oleh orang-orang besar dan sukses sebagai karakter terpuji. Kebalikannya adalah curang, bohong, menerabas, mau menang sendiri, takut, menipu, sebagai karakter yang buruk.

Kesehatan terkait dengan kemampuan fisik dan mental untuk menjalankan fungsi dan aktifitas belajar, bekerja dan bersosialisasi. Semua orang pasti mengetahui pengaruh kesehatan terhadap kesuksesan. Karena setiap orang pernah sakit. Dan pada saat sakit hampir seluruh aktivitas  (belajar, bekerja dan bermain) kita terhenti, bahkan segala sumber daya dan dana pun harus dialihkan untuk  menyembuhkan penyakit tersebut.

Kecerdasan adalah salah satu untur batang pohon kesuksesan (kecerdasan, karakter dan kesehatan). Hal ini terkait dengan IQ (intelectual quotient), EQ (emotional quotient), SQ (spiritual quotient), dan seluruh kecerdasan lainnya yang kita miliki. Salah satu hal yang menarik tentang kecerdasan adalah perspektif baru yang dikemukakan oleh Professor Dr. Howard Gardner yang mengemukakan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh manusia, yakni: kecerdasan matematis, linguistik, spasial, kinestetik,musikal, intrapersonal, interpersonal, dan kecerdasan natural. Semua orang memiliki kecerdasan majemuk tersebut sampai pada tingkat tertentu. Beberapa orang memiliki kecenderungan pada jenis kecerdasan tertentu dan kurang pada jenis kecerdasan yang lain. Semua itu menjadi dasar pembentuk sukses yang sangat bermanfaat untuk kita ketahui. Bentuk kecerdasan paling menonjol yang kita miliki akan mempengaruhi bentuk prestasi dan kinerja (daun) sebagai tampilan sukses yang kita hasilkan.

Kecerdasan, kesehatan dan karakter sebagai batang dari unsur pohon kesuksesan dilandasi oleh akar pohon yang kokoh, yakni: genetika, pendidikan dan keyakinan.

Genetika adalah unsur keturunan biologis yang diwariskan oleh leluhur kita melalui orang tua kepada kita. Ini adalah teori klasik (nativism) dalam ilmu pendidikan yang pernah mendapat pro-kontra, karena ada yang menyanggahnya dengan mengemukakan argumen faktor lingkungan (empirism)  sebagai unsur pembentuk kesuksesan manusia. Namun pada perkembangan terakhir terjadi sintesis melalui teori konvergensi yang memandang keberhasilan sebagai paduan dari faktor genetis (nativism) dan lingkungan (empirism). Hal ini memberikan inspirasi dan isyarat kepada kita untuk memperhatikan bakat dan potensi yang melekat dalam diri kita sebagaimana bakat dan potensi tersebut mungkin telah menjadi dasar kehidupan nenek moyang kita. Kita dapat melakukan modifikasi, inovasi dan kreasi atas berbagai temuan prestasi yang telah dirintis oleh orang tua kita (leluhur). Kita dapat menggali sedalam-dalamnya tentang berbagai kebaikan dan prestasi yan telah diraih oleh mereka. Sekaligus juga secara arif belajar dari kegagalan mereka. Kita mewarisi kesuksesan dan bukan kegagalan dari mereka.

Unsur pendidikan pada akar pohon kesuksesan merujuk pada apa yang kita pelajar dan peroleh dari sekolah, keluarga, orang tua, dan guru, serta berbagai institusi dan media yang memberikan pengetahuan dan kearifan untuk menjalani kehidupan. Sebagai akar, maka pendidikan memberikan pengaruh yang besar kepada pembentukan karakter, kesehatan dan kecerdasan pada batang pohon pembentuk sukses. Pendidikan yang baik akan melahirkan karakter yang baik; melahirkan pola, perilaku dan gaya hidup yang sehat (healthy life), serta menghasilkan kecerdasan yang terbina secara maksimal.

Terakhir adalah unsur keyakinan sebagai salah satu akar kesuksesan,  merujuk pada ajaran agama dan kepercayaan yang kita anut. Seluruh agama yang eksis sampai hari ini, mengajarkan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar bagi pemeluknya untuk bertahan hidup dan meraih kehidupan yang bahagia di dunia bahkan di akhirat kelak.

Incoming search terms:


Ritual Sukses

August 18th, 2010 ayad No comments

Ritual untuk Kesuksesan

Oleh: Hayadin

Perjalanan menuju sukses adalah akumulasi dari berbagai faktor yang ada dalam diri manusia seperti ikhtiar fisik yang berkeringat hingga pada aktivitas ritual, atau bahkan faktor lain yang berada di luar kontrol diri manusia yang hadir bersama kekuatan sang waktu. Melakukan ritual menjadi salah satu bagian dari aktivitas manusia, terutama mereka yang menganut agama tertentu (bukan atheis).

Saya pernah berjumpa dengan seorang ibu di dalam Bis Kota, ketika dalam perjalanan melakukan penelitian dan secara kebetulan duduk disamping saya, tanpa saya minta menceritakan dengan bangga bahwa seluruh anak-anaknya (kalau tidak saya berjumlah 8 orang) menjadi orang yang sukses di Jakarta. Ia menyebutkan bahwa ada anaknya yang bekerja di PT. Pertamina, ada yang menjadi dokter, dan lain-lain. Lalu ia menyatakan bahwa rahasia dari kesuksesan anak-anaknya adalah ketika hamil ia melakukan ibadah puasa dan mendoakan agar anak yang dikandungnya menjadi orang yang sukses. Lalu, ia juga menambahkan, kalau sudah besar seperti Anda, maka lakukan saja sendiri ibadah puasa tersebut. Saya manggut-manggut dan teringat pada hadits Rasulullah Muhammad SW tentang fadhilah ibadah puasa, bahwa salah satu doa yang paling mustajab adalah doa yang dipanjatkan kepada Allah menjelang berbuka puasa.

Pada saat itu, saya hanya mendengarkan tanpa berpikir panjang tentang hakikat kesuksesan. Dan sekarang ketika menulis judul ’ritual sukses’, untuk diposting di web-site ini, saya teringat kembali dengan ibu tersebut. Bahwa untuk mencapai kesuksesan diperlukan pengorbanan, serta ikhtiar fisik, mental dan spiritual. Sebuah kesuksesan tidak datang seketika. Ia datang melalui proses dan perjalanan yang panjang.

Diawali dengan niat yang teguh serta pendirian yang kokoh (konsisten) untuk melakukan serangkaian ikhtiar dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pernyataan niat (intention) yang teguh untuk melakukan dan mencapai sesuatu diwujudkan dengan berbagai bentuk upacara. Di masyarakat Indonesia terdapat berbagai praktek dan kebiasaan yang memulai sesuatu dengan melakukan upacara ritual, dengan maksud agar proses pengerjaan dan penyelesaian project yang dimaksud berjalan lancar dan sukses. Upacara tersebut juga mengandung arti sebagai awal dimulainya (starting point) suatu perjalanan ikhtiar merealisasikan sesuatu.

Ada kelompok masyarakat yang melakukan upacara doa bersama ketika mendirikan rumah, atau ketika meletakkan batu pertama pendirian sebuah rumah; ada pula melakukan doa bersama ketika melepas kepergian sang anak untuk menuntut ilmu ke negeri orang. Bahkan ada upacara doa bersama yang dilakukan oleh jemaah haji ketika akan memulai perjalanan menunaikan ibadah haji.

Sebagai pelajar, praktek ritual sukses dapat juga ditiru, yakni dengan menetapkan niat untuk mencapai prestasi tertentu. Apakah juara kelas, juara lomba, kelulusan, dan lain sebagainya dapat diawali dengan statement niat yang kuat dan jelas apa yang hendak diraih, dan bagaimana proses dan teknik merealisasikannya. Tulislah niat tersebut agar menjadi jelas dan kuat. Lakukanlah doa bersama keluarga atau teman-teman Anda (yang dapat dipercaya dan mendukung Anda). Secara personal Anda dapat berpuasa untuk melengkapi ritual sukses Anda. Puasa sunah merupakan salah satu bentuk ibadah yang berkaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah dalam rangka memohon sesuatu. Karena Allah akan mengabulkan doanya orang yang berpuasa.

Dalam ajaran Islam kita menemukan banyak hal tenang ibadah atau ritual yang berkaitan dengan kesuksesan, antara lain:

Sholat sunat Tahajud (Qiyamullail); yakni ibadah sholat sunnah yang dilakukan pada duapertiga malam, sembari meminta petunjuk atau permintaan yang lain terkait denga cita-cita dan tujuan hidup kita kepada Allah. Banyak firman Allah dan hadits Rasulullah yang menerangkan bahwa do’a yang diucapkan pada duapertiga malam tersebut (waktu yang baik tuntuk sholat tahajud) akan dikabulkan oleh Allah SWT.  Allah SWT berfirman dalam surah al-Isra’; 79: “Dan pada sebagian malam hari, lakukanlah sholat tahajjud sebagai ibadah ambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan  mengangkat derajadmu ke tempat yang terpuji. Dan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh ImamMuslim, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di waktu malam itu, ada satu saat, yang apabila seorang musliim pada saat itu memohon satu  kebaikan kepada Allah SWT, baik urusan keduniaan maupun akhirat, pasti Allah akan mengabulkan permohonannya tadi. Dan hal itu ada di setiap malam.” Karena sifatnya untuk mewadahi permohonan atau hajad manusia, maka sholat ini (qiyamullail) juga disebut sholat hajad, yakni ibadah sholat yang diniatkan untuk memohonkan hajat tertentu agar dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Sholat Dhuha, yakni ibadah sholat sunnah yang dilakukan di pagi hari (ketika mata hari terbit hingga tergelincir mata hari pada beberapa saat sebelum sholat Zhuhur) . Sholat ini bahkan jika ditilik dari makna do’a yang dipajatkan, sangat konkrit menggambarkan permintaan hamba tentang rezeki kepada Allah Yang Maha Kaya. Cuplikan dari doa yang disunatkan dibaca sesudah sholat Dluha adalah : Yaa Allah jika sekiranya Rezekiku berada di langit, maka turunkanlah; jika sekiranya berada berada di dalam perut bumi, maka keluarkanlah; jika sekiranya sumber rezekiku sukar, mudahkanlah Yaa Allah; jika sekiranya jauh, maka dekatlah dengan segala kemaha kuasaanMu Yaa Allah.

Sholat Istikhara, yakni sholat meminta petunjuk dalam memutuskan di antara banyak hal. Rasulullah SAW, bersabda: Jika seseorang dari kalian berkehendak pada suatu perkara, maka hendaklah sholat dua rakaat selain sholat fardhu, kemudian ucapkanlah (berdo’a); Ya Allah, sesungguhnya aku  mohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku mohon ditakdirkan (untuk mendapatkan yang terbaik diantara dua atau beberapa perkara) dengan kekuasaan-Mu, juga aku mohon kepada-Mu karunia-Mu yang agung. Karena sesungguhnya Engkau adalah Maha Kuasa sedang aku tidak. Engkau adalah Maha Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang Ghaib. Ya Allah, jika perkara ini memang baik untukku dalam agamaku, baik untuk urusanku sekarang maupun urusanku di kemudian hari, maka takdirkanlah itu untukku dan mudahkanlah aku untuk mendapatkannya, selanjutnya berilah keberkahan padaku dalam urusan itu. Namun jika perkara ini buruk untuk agamaku, baik untuk sekarang maupun di kemudian  hari, maka palingkanlah itu dari diriku dan palingkanlah aku darinya, lalu takdirkanlah mana yang baik untukku dimana saja adanya kebaikan itu dan jadikanlah aku ridha terhadapnya.

Ibadah (sholat istikharah) ini sangat cocok dilakkan bagi pelajar dalam melakukan keputusan tentang pilihan-pilihan masa depan. Baik itu terkait dengan pilihan jurusan, pilihan fakultas, pilihan sekolah atau universitas, pilihan negara atau kota tempat studi, dan lain sebagainya.

Selain ibadah puasa sunah dan sholat sunnah, banyak pula do’a dan wirid yang dapat diamalkan untuk mendukung kesuksesan. Hanya perlu kemauan untuk sukses, dan tanyalah para Ustadz/Ustadzah apa do’a dan ritual yang mujarab.


Goddard List

August 15th, 2010 ayad No comments

Inspirasi dari John Goddard

Oleh: Hayadin

Ini adalah contoh daftar keinginan yang ditulis oleh seorang anak ketika berusia 14 tahun. Keinginan ini timbul dari hasil mendengar percakapan orang terutama orang tua dan kolega bisnis ayahnya. Ia mendengar ayahnya dan teman-teman ayahnya menyesal tidak melakukan banyak hal ketika mereka masih muda, dan diusia yang sudah tua hal tersebut sudah susah untuk dilakukan. Nama anak ini adalah John Goddard. Oleh karena itu sering juga disebut dengan Goddard List.

Daftarnya sangat sederhana, inilah contohnya. Mungkin dapat memberikan inspirasi kepada kita.

Daftar keiningnan Goddard:

  1. Mengunjungi sungai Nil
  2. Mengunjungi sungai Amazon
  3. Mengunjungi sungai Kongo
  4. Mengunjungi sungai Colorado
  5. Mengunjungi sungai Yangtze di China
  6. Mengunjungi sungai Niger
  7. Mengunjungi sungai Orinoci, di Venezuela
  8. Mengunjungi sungai Rio Coco
  9. Mempelajari Budaya (primitive) orang Congo
  10. Mempelajari Budaya (primitive) orang New Guinea / Papua nugini
  11. Mempelajari Budaya (primitive) orang Brazil
  12. Mempelajari Budaya (primitive) orang Kalimantan
  13. Mempelajari Budaya (primitive) orang Sudan
  14. Mempelajari Budaya (primitive) orang Australia
  15. Mempelajari Budaya (primitive) orang Kenya
  16. Mempelajari Budaya (primitive) orang Philipina
  17. Mempelajari Budaya (primitive) orang Tanzania
  18. Mempelajari Budaya (primitive) orang Ethiopia
  19. Mempelajari Budaya (primitive) orang Nigeria
  20. Mempelajari Budaya (primitive) orang Alaska
  21. Mendaki Pegunngan Everest
  22. Mendaki gunung Aconcagua, Argentina
  23. Mendaki gunung Mckinley
  24. Mendaki  gunung Huascaran, Peru.
  25. Mendaki gunung Kilimanjaro
  26. Mendaki gunung Ararat Turki
  27. Mendaki gunung Kenya
  28. Mendaki gunung Cook Selandia baru
  29. Mendaki gunung Popocatepeti, Meksiko
  30. Mendaki gunung Matterhorn
  31. Mendaki  gunung Rainer
  32. Mendaki gunung Fuji
  33. Mendaki  gunung Vesuvius
  34. Mendaki gunung Bromo Jawa
  35. Mendaki Grand Tetons
  36. Mendaki gunung  Baldy, California
  37. Berkarir di bidang kesehatan dan eksplorasi
  38. Belajar kedokteran dan mengobati penyakit orang primitif
  39. Mengunjungi semua negara di dunia
  40. Belajar tentang Navajo dan India Hopi
  41. Belajar menerbangkan pesawat
  42. Memotret air terjun Iguaku, Brazil
  43. Memotret Air terjun victoria, Rodesia
  44. Memotret air terjun sutherland, Selandia baru
  45. Memotret air terjun Yosemite
  46. Memotret air terjun niagara
  47. Memotret napak tilas perjalanan Marco polo dan Alexander Agung
  48. Melakukan Eksplorasi bawah laut coral reefs di Florida, dan great garrier reefs Australia
  49. Melakukan Eksplorasi laut merah
  50. Melakukan Eksplorasi kepulauan fiji
  51. Melakukan Eksplorasi kepulauan Bahama
  52. Eksplorasi Okefenokee Swamp dan Everglades
  53. Mengunjungi kutb utara dan kutub selatan
  54. Mengunjungi tembok China
  55. Mengunjungi Terusan Suez dan Panama
  56. Mengunjungi Pulau Easter
  57. Mengunjungi Pulau galapagos
  58. Mengunjungi Kota Vatikan
  59. Mengunjungi Taj Mahal
  60. Mengunjungi Menara Eiffel
  61. Mengunjungi Grotto birru, Capri
  62. Mengunjungi Menara London
  63. Mengunjungi Manara miring Pissa
  64. Mengunjungi sumur suci Chich n-Itza, Meksiko
  65. Mendaki Ayers Rock, australia
  66. Mengikuti sungai Jordan dan laut Galilee.
  67. Mengunjungi laut Mati
  68. Berenang di danau  viktoria
  69. Berenang di danau Superior
  70. Berenang di danau Tanganyika
  71. Berenang di  danau Titicaca, Ameriak Selatan
  72. Berenang di danau Nikaragua
  73. Menjadi anggota pramuka
  74. Menyelam dengan kapal selam
  75. Mendarat dan take off dengan pesawat
  76. Terbang dengan balon udara , gantole
  77. Menunggang gajah, unta, ostrih, bronco,
  78. Menunggang kuda di parade bunga mawar
  79. Menyelam di kedalaman 40 kaki, dan menahan napas 2,5 menit di bawah air;
  80. Menangkap lobster seberat 10 pound dan 10 inchi abalone
  81. Memainkan flute dan violin
  82. Mengetik 50 kata permenit
  83. Belajar ski air dan ski salju
  84. Belajar Terjun payung
  85. Mengikuti misi  gereja
  86. Mengikuti jejak John Muir
  87. Mempelajar obat-obatan tradisional dan membawa pulang  yang bermanfaat
  88. Mengabadikan gambar gajar, singa, kadal, cheetah, tanjung buffalo, dan paus
  89. Belajar ilmu bela diri
  90. Belajar Jujitsu
  91. Mengajar di Universitas
  92. Melihat Upacara Kremasi di Bali
  93. Eksplorasi ke dasar laut
  94. Berperan di film Tarzan
  95. Memiliki kuda, simpanse, cheetah, ocelot, coyote;
  96. Menjadi orator radio HAM
  97. Membuat Teleskom ?????? sendiri
  98. Menulis buku perjalanan di sungai Nil
  99. Menerbitkan Artikel di Majalah National Geographic.
  100. Lompat setinggi 5 kaki
  101. Melompat jauh sepanjang 15 kaki
  102. Lari satu mill dalam 5 menit
  103. Memiliki berat konstant sebesar 175 pound (masih seperti itu sampai sekarang)
  104. Melakukan sit-up 200 kali dan pull-up 20 kali
  105. Belajar bahasa Prancis, Spanyol, dan bahasa Arab
  106. Belajar lizard naga di pulau Komodo
  107. Mengunjungi tempat kelahiran kakek Sorenson di Denmark
  108. Mengunjungi tempat kelahiran kakek Goddard di Inggris
  109. Naik kapal laut dan menjadi pelaut
  110. Membaca seluruh isi ensiklopea Britanica
  111. Menamatkan membaca Injil
  112. Membaca karya Shakespeare, Plato, Aristoteles, Dickens, Thoreau, Rousseau, Hemingway, Twain, Burrough, Keat, Poe, Bacon, Whittier, dan Emerson. (Tidak seluruh karya mereka)
  113. Mengenali komposisi musik Bach, Beethoven, Debussy, Ibert, Lalo, Mendelssohn, Milhaud, Pagamini, Rachmaninonff, Ravel, Respighi, Rimsky Korsakov, Stravinsky, Tchaikovsky, Toch, Verdi.
  114. Menjadi terampil meggunakan pesawat, sepeda motor, traktor, surfboard, senapan, pistol, perahu, mikroskop, football, basket, panah, lariat, boomerang.
  115. Membuat komposisi musik
  116. Memainkan “Claire de Lune” di Piano
  117. Menyaksikan upacara Fire Walking di Bali dan Suriname
  118. Memeras susu ular berbisa
  119. Menyulut api dengan 0,22 Rifle
  120. Mengunjungi studio Film
  121. Mendaki pyramid
  122. Menjadi anggota klub pecinta alam dan petualang
  123. Belajar bermain polo
  124. Menjelajahi Grand Canyon dan mengelilingi dunia (sudah empat kali)
  125. Pergi Ke bulan (suatu hari nanti)
  126. Menikah dan mempunyai lima orang anak
  127. Menyaksikan abad 21 (dalam usia  75 tahun).

Melatih Kemandirian

August 10th, 2010 ayad No comments

Melatih Kemandirian

Oleh: Hayadin

Kemandirian (independence) atau hidup mandiri secara personal merupakan kontinum perkembangan manusia yang lebih tinggi setelah melewati face ketergantungan (dependence – independence – interdependence). Seperti kita ketahui bersama, bahwa setiap manusia pada saat mengawali hidupnya di dunia pasti bergantung (dependence)  pada kedua orang tua dan keluarganya untuk bisa hidup. Urusan makan, mandi, memakai pakaian, bahkan hingga tidur dibantu oleh orang lain.

Seiring dengan perkembangan waktu, manusia menjadi besar dan cerdas karena didikan dan hasil belajar sejak kecil. Manusia kemudian bisa melakukan banyak tugas dan pekerjaan tanpa ditopang oleh orang lain. Pada tahap ini, manusia berusaha untuk menjadi pribadi yang mandiri (independent) , dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan ikhtiar dan pandangannya sendiri.

Dalam agama Islam, fase ini paralel dengan fase dimana manusia memiliki tanggung jawab dan status di depan hukum, yang biasa dikenal dengan istilah aqil-baligh. Status ini, selain faktor usia, juga ditentukan oleh rasionalitas atau berfungsinya akal secara baik sehat, yakni mampu membedakan mana /apa yang bermanfaat dan mana / apa yang membawa mudharat (malapetaka).

Bulan suci Ramdhan dimana kita sebagai kaum muslimin berpuasa merupakan bulan penuh rahmat yang dapat dijadikan sebagai momentum membangun kemandirian. Prosesi ibadah ramadhan yang dimulai dengan bangun pagi pada saat terbit fajar dan berniat (berkomitment) untuk tidak makan, minum, berdusta/bohong, dan berbuatan tercela lainnya, hingga terbenam mata hari, merupakan latihan penting bagi anak anak untuk membangun sifat jujur,  mandiri, percaya diri, konsisten dan lain sebagainya.

Sarana pelatihan ’kejujuran’ bagi anak dapat dirasakan atau dialami oleh anak, dimana ketika menjalankan ibadah puasa, maka yang dapat mengontrol sang anak untuk tidak makan dan minum adalah dirinya sendiri. Orang tua dapat saja berpesan dan memberikan nasehat untuk tidak melakukan perbuatn yang membatalkan puasa, yakni antara lain adalah makan dan minum. Tetapi mengawasinya sepanjang hari dari waktu Subuh hingga Maghrib, adalah pekerjaan yang berat dan hampir tidak mungkin. Bahkan dengan memakai jasa ”Body Guard” sekalipun tidak akan efektif, jika Sang anak tidak memiliki kesadaran sendiri untuk menjalankan puasa dan melaksanakan niatnya yang telah dilafalkan tadi malam sebelum sahur. Pada diri sang anaklah ketuntasan ritual menahan lapan dan dahaga dari waktu Shubuh hingga Maghrib. Anak yang jujur akan betul-betul menahan lapar dan dahaga meskipun ia memiliki kesempatan atau dirayu oleh lingkungannya baik oleh teman sebayanya ataupun oleh media yang ia tonton seperti Televisi. Berbeda halnya dengan anak yang tidak jujur, ia akan mencari-cari kesempatan untuk memuaskan rasa dahaga dan laparnya di belakang pengawasan orang tuanya. Bahkan tanpa ragu ia dapat saja memperlihatkan ekspresi lapar, letih, haus kepada orang tuanya, dan ikut prosesi buka puasa bersama dengan anggota keluarga yang berpuasa penuh.

Sarana pelatihan ’kemandirian’ dapat dirasakan atau dialami oleh anak, dimana selama menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, orang yang berpuasa melakukan rutinitas bangun subuh melawan kantuk untuk melaksanakan ibadah sahur. Ini merupakan prasyarat bagi kebaikan dan keutamaan puasa, karena dengan melaksankan sahur, kita memiliki stok kalori dan nutrisi untuk  menopang stamina dan daya tahan tubuh selama menjalankan aktivitas keseharian. Dan bangun tidur merupakan urusan pribadi karena terkait perasaan dan organ pribadi seseorang. Bagi anak, adalah pengalaman yang asing dan tidak biasa untuk bangun dikala mata sedang tidur nyenyak berhiaskan mimpi. Dan pengalaman berpuasa di bulan suci ini, menjadikan sang anak menikmati irama bangun tidur, sahur, sholat shubuh. Dan semua itu dilakukan tanpa perwakilan.

Sarana pelatihan ’percaya diri’ karena pada saat sahur dan berniat untuk berpuasa, pada dasarnya (di lubuk hati paling dalam) tertanam keyakinan atau mungkin juga perjuangan untuk melawan keraguan, bahwa kita dapat menahan lapar, haus, syahwat, serta perilaku negatif lain sampai terbenam matahari.  Hal ini terkait dengan kesehatan fisik, mental, psikologis, bahwa kita dapat melewatinya sampai terbenam mata hari. Bagi anak, yang baru belajar berpuasa, tentu merupakan tantangan yang berat untuk tidak makan sampai pada jam tertentu. Dan pada saat sahur bagi anak yang baru belajar puasa maka ”kontrak waktu toleransi” yang disepakati bersama orang tua untuk boleh berbuka merupakan ujian mental untuk mengukur kemampuan dan staminanya, baik secara fisik maupun secara psikis. Ada anak yang berusia 5 atau 6 tahun pada saat sahur menyatakan sanggup untuk bertahan sampai maghrib; ada juga yang menyatakan sanggup samapi waktu zuhur; dan ada juga yang mungkin sebelum zuhur. Kapan waktu berbbuka yang diyakininya, itu mencerminkan rasa percaya diri sang anak tentang kemampuan. Bagi orang tua yang melakukan kontrak waktu toleransi untuk berbuka puasa, yang perlu diperhatikan adalah keyakinan sang anak untuk menyatakankesanggupannya. Bagi anak usia 7 atau 8 tahun tentu pernyataan sangup untuk menyelesaikan ibadah puasa hingga maghrib, merupakan pertanda yang baik bagi rasa percaya diri (dengan tanda kutip: anak tersebut jujur).

Sarana melatih ’kesabaran’ karena melalui ibadah puasa yang dijalani mulai dari terbit fajar hingga terbenam mata hari (kurang lebih 14 jam) selama 30 hari penuh dengan cobaan dan godaan. Kebiasaan makan dan minum di siang hari, dengan pilihan rasa menu yang beragam merupakan sesuatu yang sulsit dan berat untuk dihentikan begitu saja. Dan ketika kita berpuasa, kebiasaan tersebut harus berhenti total, tanpa ada tawar menawar. Bahkan bagi orang yang kecanduan tembakau (rokok) harus menghentikan kebiasaan tersebut pada saat puasa. Perjuangan menghentikan kebiasaan tersebut memerlukan kesabaranyang tinggi. Bagi anak, tentu lebih berat lagi. Ia harus melawan godaan makan dan minum, bahkan godaan iklan makanan dan minuman yang ditayangkan media televisi.

Sarana pelatihan ”konsistensi”, karena ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan berlangsung selama 29 atau 30 hari secara rutin dan terus-menerus (tanpa terputus-putus dan bosan). Prosesi ibadah yang dilakukan pada hari pertama dan seterusnya, adalah berulang-ulang: mulai sahur – menahan lapar, dahaga, dan sikap serta perilaku yang negatif – berbuka puasa – tarawweh – sahur lagi – menahan lapar, dahaga lagi – berbuka lagi, dan seterusnya selama sebulan. Pengalaman lapar, letih, haus yang dialami pada hari sebelumnya mungkin saja menggoda dan menjadi alasan pembenar bagi seseorang untuk tidak berpuasa pada hari berikut dan selanjutnya. Tetapi bagi kaum mukminin, konsistensi untuk menjalani seluruh prosesinya secara rutin hingga tuntas mulai dari hari pertama hingga hari terakhir Ramadhan adalah harga mati dankenikmatan yang tiada tandingannya. Dan bagi anak, tentu ini merupakan momentum yang berharga untuk menanamkan perilaku konsisten dalam beribadah, yang diharapkan akan menjadi landasan sikap dan perilaku sosial lainya.

Semoga ibadah puasa Ramadhan ini menjadi momentum bagi kita semua (terutama kaum muslimin wabil khusus pelajar yang menjalaninya sambil bersekolah dan belajar) untuk membangun perilaku terpuji dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih baik di hari esok. Amien.

Incoming search terms: