Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘jenjang data’

Mengapa Gagal

August 21st, 2010 ayad No comments

Mengapresiasi Kegagalan

Kegagalan adalah ujung lain dari sebuah tongkat, atau sisi lain dari sebuah keping uang logam, yang pada ujung atau sisi lainnya adalah kesuksesan.

Banyak faktor yang mempegaruhi kegagalan manusia. Setidaknya ada sembilan alasan yang menjadi penyebab kegagalan, yakni:

  1. Keterampilan Interpersonal yang buruk; Ini adalah wujud dari kecerdasan sosial seseorang, yakni kemampuan untuk berinterkasi dan bersosialisasi kepada orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan sosial yang baik dicirikan oleh hal hal antara lain: memiliki kemampuan negosiasi tinggi, mahir berhubungan dengan orang lain, mampu membaca maksud hari orang lain, menikmati berada di tengah-tengah orang banyak, memiliki banyak teman, mampu berkomunikasi dengan baik (kadang melakukan manipulasi), menikmati kegiatan bersama, suka menengahi pertengkaran, suka bekerja sama, dan mampu membaca situasi sosial dengan baik..Sebaliknya, orang yang memiliki kecerdasan sosial yang rendah: susah bernegosiasi, menghindari diskusi atau acara sharing atau diskusi kelompok , menghindari kritikan, minder terhadap orang lain, dan cenderung menyalahkan keadaan disekitarnya  jika terjadi hal-hal yang tidak beres. Mereka ini sering memandang lingkungannya atao orang lain sebagai penyebab dari kemunduran yang dialaminya, dan tidak pernah bisa belajar dari hal yang sama.
  2. Ketidaklayakan; Ini terkait dengan konteks situasi dan kompetensi Anda. Kemampuan dan bakat atau talenta seseorang terkadang tidak sejalan dengan lingkungan, sistem nilai, dan mitra kerja. Hal ini menimbulkan ketidak cocokan yang berujung pada kegagalan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu tetaplah berbesar hati, untuk tetap bangkit mewujudkan talenta, bakat dan potensi Anda.
  3. Usaha yang tanggung (tidak ada komitmen); Ini adalah sikap setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Ragu, bimbang, takut gagal, dan terombang ambing dalam banyak pendapat orang, menjadi penyebab mengapa sebagaian besar orang gagal. Belajar seadanya atau menjelang ujian, atau hanya ketika orang lain belajar, tidak peduli apa hasilnya. Bekerja, asal bekerja tidak pedulibagaimana hasilnya. Orang seperti ini tidak memiliki gambarantentang tujuan yang jelas, yang mendaji dasar dari komitment.
  4. Rencana yang sembrono; Ini terkait dengan kegiatan yang dilakukan berdasarkan selera dan kesenangan semata, tanpa ada perhitungan yang matang dan teliti. Banyak pelajar yang memilih sekolah, fakultas, atau jurusan bahkan kota tempat belajar hanya berdasarkan kesenangan atau ikut-ikutan teman. Mereka tidak melakukan perhitungan yang matang, apa keuntungan dan kerugian, sera mendiskusikannya denfgna orang tua mereka atau orang yang lebih dewasa, sebelum mengambil keputusan.
  5. Perilaku yang buruk; Ini terkait dengan kebiasaan hidup sehari – hari dalam melakukan tugas dan berhubungan dengan orang lain yang membawa kerugian pada diri sendiri (self-destructive), seperti: egois / menang sendiri, sombong, takabur, meremehkan orang lain apa lagi guru atau atasanya, dan tidak berani mengakui kelemahannya. Tanpa disadari kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi penghancur dari usaha yang telah dilakukan. Kebiasaan ini adalah nila yang merusak susu sebelanga.
  6. Tidak fokus (melakukan banyak hal dan tidak tuntas); Ini biasanya menimpa orang pintar dan memiliki banyak talenta. Mereka terkadang kehilangan fokus dengan berusaha untuk menyelesaikan semua yang berada dalam jangkauannya, tanpa memilih salah satunya yang paling penting menjadi prioritas. Mereka tidak sadar, sedang mempraktekkan perilaku serakah. Sayang untuk melepaskan yang ini atau yang itu, karena semuanya berada dalam jangkauan logika dan bakatnya. Tetapi mereka belum menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan fisik untuk merealisasi berbagai gagasan dan bakat. Suatu gagasan dan bakat tidak mungkin dapat langsung terimplementasi. Mereka terlebih dahulu memerlukan latihan, dan proses yang memakan waktu. Karena ingin melakukan semuanya, maka sebagai konsekwensinya, tak ada satupun yang ditangani secara tuntas, dan tanpa disadari waktu telah habis.
  7. Seksisme, ageisme, rasisme; Ini terkait dengan pandangan yang keliru terkait dengan perbedaan jenis kelamin, ras dan usia. Banyak orang gagal hanya karena ia tidak mau belajar dari orang yang lebih muda atau dari seseorang yang dipandang tidak sekelas dengannya. Di sekolah, mungkin kita menemukan seorang anak yang enggan atau malu bertanya dan bekerja sama menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) Matematika atau Bahasa Inggris dari seorang wanita, atau mungkin malu bertanya dan bekerja sama apalagi mengakui keunggulan adik kelasnya. Untuk sukses, manusia harus rendah hati dan mengakui kebenaran dari mana pun datangnya tanpa mengenal jenis kelamin, usia, dan suku atau agamanya.
  8. Manajemen yang lemah; Ini terkait dengan keterampilan dan kebiasaan mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain yang tepat. Bagi orang yang cerdas yang memiliki banyak rencana atau suatu rencana besar, adalah sesautu kelemahan jika ia beranggapan dapat menyelesaikan seleuruhnya sendiri tanpa bekerja sama dengan orang lain. Mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain menjadi jawaban dari kasus trersebut.
  9. Bertahan tidak mau berubah; Ini adalah gejala berpuas diri, atau fenomena hidup di zona nyaman. Ia sudah merasa cukup dan nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, dan ia tidak ingin ada perubahan, atau melakukan perubahan. Apa yang ada sekarang tidak perlu dirubah lagi. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan ini senantiasa bergerak. Gerak dan perubahan adalah sifat asasi atau fithrah dari kehidupan itu sendiri. Setiap hari matahari tanpa henti hadir menyinari bumi sebagai akibat dari pergerakan planet bumi yang berevolusi. Mereka yang tidak mau berubah, dengan sendiri mengingkari fithrah kehidupan dan akan tertinggal oleh kehidupan itu sendiri. Itulah sebabnya, pelajr harus senantiasa belajar agar naik kelas, lulus ujian, dan melanjujtkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, lalu bekerja, berkarir, dan berbakti kepada orang tua, bangsa, dan negara, hingga sampai menutup mata..

Kegagalan adalah vonis yang diberikan oleh orang lain atau mungkin diri kita sendiri terhadap peristiwa tertentu. Pada hakikatnya kegagalan hanyalah bentuk interprestasi orang terhadap peristiwa yang melibatkan seseorang di dalamnya. Hasil interpretasi tertentu melahirkan vonis sedemikian rupa kepada seseorang. Oleh karena itu ,jika mendapat vonis gagal, yang harus dilakukan adalah merubah penafsiran kita terhadap peristiwa yang melahirkan kegagalan tersebut.

Incoming search terms:


Mental Tahan Banting

August 20th, 2010 ayad No comments

Mental Pendaki Puncak Gunung yang Tahan Banting

Oleh: Hayadin

Pendaki Gunung yg Ulet dan tangguh

Pendaki Gunung yg Ulet dan tangguh

Ketahanmalangan (sifat tahan banting) merupakan salah satu faktor pembentuk sukses orang-orang besar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stoltz, ditemukan fakta bahwa orang hebat dan sukses adalah mereka yang tahan terhadap penderitaan, berani menghadapi tantangan, dan resiko dalam perjalaan hidupnya.

Lebih lanjut Stoltz dalam bukunya (Adversity Quotient), menjelaskan bahwa dalam menjalani kehidupan, manusia dapat dibagi atas tiga kategori, yakni: Quitters (diam dan tidak dinamis), camper (selal mencoba tetapi gampang menyerah setelah mendapat tantangan), dan Climber (orang yang berani dan bertahan menghadapii tantangan kehidupan). Kesuksesan menurut Stoltz ibarat puncak gunug tertinggi yang mampu didaki oleh manusia. Orang sukses adalah mereka yang mau dan mampu mendaki/memanjat (climb) hingga ke puncak gunung ( to reach the top of the hill). Inilah yang termasuk kategori orang Climber atau pendaki.

Sementara karakter orang Camper adalah mereka yang ingin sukses tapi tidak sampai di puncak gunung (top of the mountain). Mereka ingin mendaki gunung sebagaimana halnya mereka yang Climber. Tetapi mereka cepat menyerah ketika mendapatkan tantangan, badai, salju, atau hujan yang menghadang dalam perjalanan mendaki atau memanjat ke puncak bukit. Mereka tidak melanjutkan perjalanan dan memilih untuk mendirikan tenda/kemah (camp) di tengah perjalanan tersebut. Mereka berharap bahwa tantangan, rintangan, badai, salju, tersebut akan berhenti dan mereka dapat melanjutkan perjalanan. Namun hingga pada akhirnya, tantangan dan badai tersebut tetap ada karen merupakan bawaan yang bersifat alami dari sebuah ketinggian. Dan mereka selamanya berada pada tempat tersebut. Mereka tetap berada pada kemah tersebut dan menikmati serta berpuas diri sampai di situ, meskipun mereka tidak pernah sampai di puncak sukses yang sesungguhnya (top of the mountain).

Quitters, lebih buruk lagi. Mereka adalah orang yang menghindari tantangan mendaki gunung.  Mereka adalah tipe orang yang mencari kesenangan dan zona nyaman dalam hidupnya. Mereka menghindari perlombaan, pertandingan, kompetisi, tugas berat, menolak tawaran kerjasama bahkan menolak peluang yang idberikan kepada mereka. Mereka adalah tipe orang yang tidak mau berubah. Mereka sudah merasa mapan dan nyaman dalam kemapanan tersebut. Mereka berpikir, bahwa menerima tantangan dan kesempatan tersebut akan mendatangkan masalah baru bagi kehidupan mereka. Oleh karena itu menghabiskan waktu dengan aktivitas dan tugas tugas yang tidak berebobot, bahkan sesekali mereka menipu diri sendiri dengan berpura-pura sibuk (memperlihatkan kesibukkan dirinya).

Sebagai pelajar, karakter apa yang sebaiknya kita pilih? Quitters…?, Campers…?, atau Climbers…?

Bagi pelajar, karakter Quitters adalah pelajar yang menghindari tugas tambahan, les tambahan atau beban belajar dari sekolah atau gurunya. Mereka tidak ingin diketahui belum mampu. Tes dan latihan hanya akan membuat kelemahan mereka diketahui oleh guru dan orang lain. Bahkan mereka memilih untuk tidak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara karakter Campers adalah pelajar baik yang mengikuti segalah peraturan sekolah. Mereka menerima tantangan, dan tugas-tugas baru dari guru, tetapi kemampuan mereka yang kurang (yang semua orang mengalaminya) membuat mereka menyerah. Mereka akan menyerahkan tugas sampai pada batas yang dikuasai, dan merasa cukup sampai disitu sambil menunggu penjelasan lebih lanjut dari guru.

Hal tersebut berbeda dengan orang Climbers yang tidak hanya menerima pelajaran, tugas, dan tantangan dari sekolah, tetapi mencari tantangan atau tugas di luar sekolah. Mereka akan menyelesaikan pelajaran dan tugas dari sekolah, dan pada saat yang sama juga menyelesaikan tugas pelajaran lain dari luar sekolah. Bagi mereka sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk belajar. Mereka tidak lekas puas dengan prestasi yang diperoleh di sekolah. Bagi mereka belajar dan mengukir prestasi sebanyak-banyaknya adalah tantangan yang menyenangkan. Mereka sangat menikmati tantangan dan kesulitan yang dihadapi dalam menyelesaikan tugas-tugasya. Semakin berat dan sulit tantangan yang dihadapi mereka semakin tertarik.

Incoming search terms:


Kemana setelah Lulus

July 3rd, 2009 ayad No comments

Kemana setelah lulus???

Oleh: Mr. pmd

Pelajar harapan bangsa

Pelajar harapan bangsa

Barusan saja kita menyaksikan tontonan yang fenomenal tentang perayaan suka cita dan tangis duka adik-adik yang duduk di jenjang sekolah menengah yang menerima hasil pengumuman ujian nasional. Hal tersebut merupakan prosesi pelengkap dari irama kehidupan sekolah zaman sekarang. Ada yang setuju dan ada yang kurang respek..

Terlepas dari pro-konta terhadap perilaku pelajar tersebut, satu hal yang penting dan utama untuk diingatkan kepada para pelajar yang baru saja tamat adalah, “kemana setelah lulus“?

Apa langkah selanjutnya?

So, what?

Lulus?  Lalu apa!

Bagi pihak sekolah, kelulusan merupakan momentum untuk melepaskan para siswa. Sekolah secara formil telah menyelesaikan tugas dan fungsinya untuk membentuk masa depan sang anak, terlepas dari relevan atau tidaknya materi, pengetahuan, informasi, serta pengalaman yang diberikan. Apapun yang terjadi dengan sang anak dalam kehidupannya, sekolah tidak bertanggung jawab bahkan sekolah tidak mau tahu. Karena sekolah telah melepaskan siswanya. Sekolah bahkan tidak mau tau kemana anak-anak ini pergi setelah lulus. Pokoknya adalah lepas.

Nah, untuk para orang tua dan anak, tentu berbeda (dengan sekolah) status dan posisinya. Sang anak harus melanjutkan proses belajarnya, dan orang tua harus menjadi pihak pendukungnya. Tentu bagi mereka yang beruntung masih memiliki orang tua, mampu dan peduli. Bagi sebagian anak yang tidak memiliki orang tua tentu semuanya harus dipikul sendiri. Yah, tanpa lembaga sekolah tentunya. Karena sudah lepas.

Bagi para orang tua dan anak yang akan melanjutkan proses belajarnya, kami memberikan saran sebagai berikut:

  • Kenalilah sasaran profesi yang mau diraih pada tiga, atau lima tahun yang akan datang.
  • Kemudian pilihlah jalur pendidikan yang mendukung untuk meraih pilihan anda (anak anda).
  • Secara umum, ada dua jenis jalur pendidikan, yakni: pendidikan vokasional (berorientasi keterampilan kerja) dan pendidikan non-vokasional (berorientasi gelar).
  • Secara sederhana, pilihannya dapat berupa: kuliah, kursus, magang, langsung kerja.
  • Kuliah? Ada beberapa pilihan, yakni: diploma, akademi, politeknik, universitas, pendidikan tinggi dan / atau sekolah tinggi. Beberapa ada yang bersifat ikatan dinas. Lakukan pengamatan terlebih dahulu lembaga pendidikan tinggi yang mau anda masuki. Sebaiknya lakukan dulu penelitian (searching) melalui internet.
  • Kursus? Ada banyak pilihan sesuai bakat dan minat anda. Dari satu bulan hingga satu tahun.
  • Magang atau langsang kerja, ini juga pilihan yang tidak kalah bagus.
  • Perhatikan bakat, minat, dan kemampuan anda dalam memilih beberapa pilihan tersebut; jangan ikut-ikutan teman. Masing-masing pilihan punya konsekwensi masa depan yang berbeda.

Pembangunan untuk Pelajar

June 25th, 2009 ayad No comments

Kebijakan Pembangunan Berorientasi pada Pelajar

Oleh Hayadin

Secara demografi, pelajar adalah penduduk dengan prakiraan rentang usia (dapat didiskusikan) antara 4 tahun hingga 35 tahun. Pada rentang usia tersebut seseorang mulai belajar di lembaga pendidikan tertentu. Umur 4 tahun seseorang mulai belajar di level pendidikan Taman Kanak-kanak, dan seterusnya pada usia 35 tahun mungkin berada pada strata pendidikan Doktor (sebagai strata tertinggi dalam jenjang pendidikan di Indonesia).

Pelajar sebagai fokus utama Pendidikan

Pelajar sebagai fokus utama Pendidikan

Secara kuantitatif, jumlah rentang usia tersebut sangat banyak, mungkin sepertiga atau lebih dati total jumlah penduduk bangsa kita. Namun terlepas dari angka rentang usia tersebut, yang ingin disampaikan melalui tulisan ini adalah bahwa pelajar merupakan kelompok penduduk yang sedang melakukan tugas atau fungsi tertentu, yakni Belajar dalam arti yang luas. Mereka tersebar di berbagai sekolah pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan serta berada di seluruh wilayah tanah air Indonesia. Mereka memiliki kepentingan baik untuk dirinya maupun untuk lingkungan dan bangsanya, yakni berproses untuk menjadi lebih baik. Mereka adalah kelompok strategis yang memiliki berbagai potensi dan kemampuan untuk melakukan transformasi sosial budaya, dan menjadi andalan sumber daya manusia bagi bangsa dan negara. Mereka menjadi tumpuan harapan dan andalan masa depan suatu bangsa.

Dengan posisi dan status tersebut, maka pelajar seharusnya mendapatkan perhatian dan perlakuan dari pemerintah yang berbeda dengan kelompok penduduk lainnya. Ini bukan untuk menempatkan mereka secara ekslusif dalam tatanan kehidupan berbangsa, tetapi lebih pada upaya untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengaktualisasikan potensi keter-Pelajar-an dan memberikan kemudahan dalam berproses menjadi warga negara yang unggul dan diandalkan untuk menjadi tumpuan dan harapan bangsa dan negara di masa yang akan datang.

Pelajar sebagai Pusat dan Fokus Pendidikan

Semua orang akan setuju bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk karakter, meningkatkan kompetensi dan kapabilitas pelajar. Apapun dan bagaimanapun prosesnya, siapapun aktornya, selalu ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan pelajar. Guru mengajar, orang tua mendidik atau menasehati, kurikulum, media, dan buku pelajaran (gratis atau berbayar), laboratorium dan bangunan sekolah yang megah atau reot, semuanya untuk pelajar. Singkatnya, seluruh proses dari kegiatan pendidikan dan pembelajaran selalu bermuara pada Pelajar.

Kebijakan Pendidikan untuk Pelajar

Sejauh ini, kita memandang bahwa status, posisi dan urusan pelajar terasa sudah cukup diurus melalui fungsi Pendidikan. Oleh karena itu Departemen pendidikan nasional dan Undang-undang pendidikan nasional menjadi rujukan yang utama dalam mengkaji status, posisi, dan kehidupan pelajar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Di dalam Undang-Undang pendidikan nasional misalnya, disebutkan bahwa pelajar dikenal dengan sebutan ‘peserta didik’ yang memiliki hak dan kewajiban tertentu.

Hak yang dimiliki oleh Pelajar (peserta didik) seperti tercantum dalam peraturan sistem pendidikan nasional adalah: mendapatkan pendidikan agama; mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; mendapatkan beasiswa;

menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, dan lain-lain. Di samping hak tersebut, mereka juga memiliki kewajiban untuk menjaga norma-norma pendidikan dan ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan.

Dari rumusan yang tertulis dalam Sistem Pendidikan Nasional tersebut, maka sangat jelas terlihat betapa perhatian negara terhadap pelajar masih sangat kecil dan masih sangat terbatas. Untuk lebih menjamin masa depan pelajar yang lebih baik, maka diperlukan pendekatan makro dalam menangani kelompok penduduk yang berstatus pelajar atau ada pada jenjang usia sekolah.

BACA JUGA:

Student Traveling (mobilitas warga)


Mengambil keputusan untuk masa depan

April 23rd, 2009 ayad No comments

Mengambil Keputusan untuk Masa Depan

Oleh: p-m-d

Dalam suatu riset survey yang dilakukan oleh penulis (dan kawan-kawan di pmd Management Center), ditemukan fakta bahwa kebanyakan pelajar jenjang sekolah menengah di Indonesia belum memiliki keputusan yang jelas tentang bentuk profesi dan karier yang mau digeluti di masa yang akan datang.

Sebagian pelajar (termasuk juga orang tua) berpikir bahwa masa depan yang akan datang nanti, tidak perlu susah-susah dipikirkan hari ini. Karena, hari ini yang penting adalah belajar. Ada juga yang berpandangan bahwa yang penting adalah menikmati hari ini, jadi tidak perlu belajar yang sulit dan susah apa lagi merencanakan (memikirkan) masa depan.

Adalah benar, bahwa masa depan itu akan datang dengan sendirinya tanpa perlu dipikirkan atau didiskusikan. Hal yang perlu dipikirkan adalah ketika berada di masa depan, kita akan menjadi apa. Apakah Anda mau menjadi “apa saja”, atau menjadi seseorang (some body). Menjadi apa saja berarti bersedia menjalani peran dan predikat yang disandangkan oleh orang lain atau lingkungan di mana anda berada, tanpa punya pilihan atau kemampuan untuk menolak dan memilih.

Penting mengambil keputusan jalan mana yang akan dilalui.

Penting mengambil keputusan jalan mana yang akan dilalui.

Berbeda halnya dengan Anda “menjadi seseorang”. Seseorang dengan identitas, peran dan predikat yang jelas, karena Anda memilihnya, menciptakannya, dan memeliharanya. Menjadi seseorang berarti anda memiliki pilihan dan kemampuan untuk memberitahu lingkungan anda tentang status Anda, dan mereka dengan santun menerimanya. Anda di terima oleh lingkungan Anda sebagai individu yang berarti.

Buatlah keputusan

Untuk menjadi seseorang, salah satu yang penting untuk dilakukan adalah membuat keputusan tentang bentuk masa depan Anda. Pengambilan keputusan tentang profesi, karier, pekerjaan dan peran Anda sejak dini (sejak di bangku sekolah) adalah beberapa hal utama yang mesti dilakukan setiap orang (terutama pelajar Indonesia).

Beranikan diri Anda untuk menulis pilihan Anda. Jangan biarkan ia tinggal dalam kepala Anda. Itu belum real. Anda harus berani menulisnya. Jika Anda memiliki banyak keinginan (cita-cita untuk menjadi seseorang), Anda perlu meluangkan waktu untuk meminta masukkan dari orang lain (mungkin orang tua, atau guru) tentang pilihan-pilihan tersebut. Jika Anda belum punya pilihan (blank mind), anda harus mencarinya.

Secara sederhana, proses pengambilan keputusan melalui tahap-tahapan sebagai berikut: pertama, mengumpulakan informasi yang sebanyak-banyaknya tentang profesi dan pekerjaan yang relevan dan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan Anda; kedua, menganalisis konsekwensi dari berbagai pilihan, baik – buruk, berat ringan, dll; ketiga, menetapkan pilihan; dan keempat menjalani prosesnya.