Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘hak siswa’

PEMDA menghadapi UN

May 2nd, 2010 ayad No comments

Tanggung jawab PEMDA dalam Ujian Nasional

UJIAN Nasional juga membuat pemerintah daerah was-was. Soalnya cukup terang, jika peringkat kelulusan siswa di satu daerah jeblok, maka pemerintah setempat akan menjadi sorotan. Ini bukan hanya ujian bagi siswa, tapi juga gengsi daerah.

Yogyakarta, misalnya. Hasil Ujian Nasional tahun ini adalah tamparan bagi ‘kota pelajar’ itu.  Sebanyak 9.237 peserta ujian nasional di Yogyakarta tak lulus. Dari sekian ratus sekolahan tingkat atas, hanya empat sekolah siswanya lulus 100 persen. Hasil terburuk sepajang sejarah ujian nasional.

Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pun dibuat pusing. Raja Yogyakarta itu sampai menggelar rapat khusus, dan meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Yogyakarta sesegera mungkin melakukan evaluasi. “Yang jelas saya kecewa dengan hasil UN yang tidak menggembirakan. Tapi ya mau bagaimana lagi,” kata Sultan.

Meski anjlok, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY, Suwarsih Madya punya pembelaan. “Ujian Nasional di Yogyakarta paling jujur. Ini bukan kita yang menilai, tapi dari Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSPN). Tidak ada rekayasa sama sekali,” kata dia.

Sementara, Baskoro Aji, Ketua Pelaksana UN Yogyakarta, menuturkan hasil evaluasi penyebab utama gagalnya siswa dalam ujian pekan lalu itu.  Rupanya banyak siswa hanya belajar penuh untuk segelintir mata pelajaran. Akibatnya, pelajaran lain kurang mendapat perhatian.

Faktor lain, ujian nasional kali ini memberikan kesempatan ujian ulangan. Akibatnya siswa tidak serius dalam belajar. Toh, bisa mengulang, tak seperti tahun sebelumnya. Juga masih ada pro kontra hasil UN yang tak lagi menentukan kelulusan siswa, sesuai keputusan Mahkamah Agung.

Tak hanya Sultan yang kecewa. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto malu dengan tingkat kelulusan siswa peserta UN di Jakarta. “Jika UN pertandingan, saya merasa malu,” kata Prijanto.  Dia menyesalkan kelulusan di Jakarta lebih rendah ketimbang provinsi lain, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

Kelulusan SMA di Jakarta tahun ini, menurut data Dinas Pendidikan DKI, hanya 90,672 persen. Sedangkan tingkat SMK mencapai 92,18 persen. Tahun lalu, kelulusan SMA di DKI mencapai 95,5 persen untuk SMA, dan 97,65 persen SMK. Mengingat masih ada peluang mengulang, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto mengatakan angka kelulusan ini belum final.

Taufik mengaku pihaknya sudah melakukan persiapan maksimal menghadapi Ujian Nasional. Tapi mengapa banyak yang tak lulus? Menurut Taufik bisa saja pada saat ujian, siswa dalam kondisi tidak fit, baik fisik maupun mental, di satu mata pelajaran. “Walaupun pada mata pelajaran lain nilainya bagus, akhirnya dia harus mengulang di hanya mata pelajaran itu saja,” jawab dia.

Berita diadopt dari VIVANews.Com


Berjuang untuk UN

May 2nd, 2010 ayad No comments

Perjuangan Menghadapi Ujian Nasional

TAMPAK seperti “hari hidup atau mati”, ujian nasional telah membuat para siswa dicekam kecemasan, kalap dan takut. Pelbagai upaya dilakukan agar bisa lulus. Selain belajar keras, ada pula rupa-rupa ritual. Sekolah juga terus memompa motivasi pada murid. Bahkan ada acara doa bersama dengan pemuka agama, dan sarat adegan isak tangis.

Di Surakarta dan Medan, misalnya, murid-murid didorong meminta maaf pada orang tua. Para siswa sungkem — bersimpuh pada orang tua memohon restu. Tangis pun pecah dari ayah dan ibu, seakan mengantar anak ke medan perang.

Kegiatan spiritual juga dilakukan, seperti istighosah, dan berdoa di makam tokoh ternama. Ada yang berziarah ke Makam Sunan Kudus. Bahkan, makam mantan presiden, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ramai dikunjungi pelajar jelang ujian nasional.

Ada juga yang percaya hal-hal klenik. Di Probolinggo, Jawa Timur, pelajar membawa pensilnya ke pengasuh pesantren. Bukan untuk diraut agar lebih tajam. Tapi diberi “isi” dengan doa agar lulus, dan mulus mengerjakan soal ujian.  ‘Air sakti’ dengan rapalan doa dari dukun juga laris manis.

Di tengah kekalapan siswa, ada pula dukun yang cari kesempatan. Lara, sebut saja namanya begitu. Siswi salah satu SMK di Doko, Ngasem, Kediri itu gamang menghadapi ujian. Lalu dia pergi mencari “kekuatan” ke dukun. Sial, bukannya jadi percaya diri, Lara malah jadi korban dukun cabul.

Apa sebenarnya yang membuat lulus UN jadi hal yang sangat penting?  Anggota DPD RI dari DKI Jakarta, Dani Anwar mengatakan, ujian nasional menjadi beban, tak hanya bagi siswa, tapi juga bagi orang tua dan guru. Sebab, ini adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar tiga tahun di sekolah. Nama baik sekolah dan orang tua ikut dipertaruhkan.

Bagaimanapun, siswa adalah pihak paling tertekan. “Kalau dibayangi UN seperti penentu hidup dan mati siswa begitu, justru membuat stres dia.” Dani iba dengan siswa yang harus menghadapi tekanan luar biasa. “Dalam usia dini seperti itu, mereka sudah dalam suasana underpressure luar biasa,” ujar dia. Padahal, “pendidikan mestinya dibuat untuk bagaimana siswa menjadi enjoy”.

Soal ketidaklulusan, pakar pendidikan, Arif Rachman berpendapat, ada banyak hal yang menyebabkan itu.  Boleh jadi, kata Arif, murid tidak siap menghadapi UN. Akibatnya dari segi psikologis mereka gugup. Atau ini memang soal kecerdasan, dan kepandaian siswa. “Masalah sulitnya soal juga bisa menjadi penghambat,” ujarnya menambahkan. Memang, banyak pengakuan dari para siswa soal yang diujikan lebih sulit dibanding sebelumnya. Jadwal ujiannya yang dimajukan, bisa juga salah satu faktor.

Bagi Arif Rachman, para siswa sebetulnya tak perlu terlalu gugup. “Saat ini, jika tidak lulus UN kan bisa mengulang. Kalau tidak lulus tinggal ngulang saja 1 tahun. Jadi siswa masih punya kesempatan kok,” turut Arif.

Tulisan ini diadopt dari berita VIVANews.Com


Demi kepentingan Pelajar

November 21st, 2009 ayad No comments

Berpihak pada Kepentingan Pelajar

Tiga calon rector ITB menunjukkan perhatian dan perhatian kepada kepentingan dan masa depan pelajar Indonesia, khususnya mahasiswa yang belajar di Institut Teknologi Bandung. Hal tersebut terungkap melalui debat calon Rektor dan Mahasiswa ITB di ruang multimedia GKU Timur ITB, Sabtu (21/11/2009).

TIga calon rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) menandatangani komitmen yang berisi 8 buah harapan mahasiswa kepada calon rektor mereka.

Ketiga calon rektor tersebut adalah, Adang Surahman, Akhmaloka, dan Indra Djati Sidi. Mereka lolos dalam proses pemilihan tahap keempat melalui Sidang Senat Akademik ITB.

Ridwansyah juga mengatakan, ada delapan tuntutan mahasiswa yang ada dalam komitmen tersebut. “Diantaranya masalah pembinaan kemahasiswaan, SPP terjangkau, fasilitas kampus, infrastruktur kegiatan mahasiswa, dan beasiswa,” imbuhnya.

Hal tersebut disampaikan Ketua KM ITB Ridwansyah Yusuf Achmad saat dihubungi detik bandung melalui telepon selular, Sabtu (21/11/2009), seperti diberitakn oleh detik.com.


Beasiswa RioTinto

October 15th, 2009 ayad No comments

Beasiswa RioTinto

PT. Rio Tinto Indonesia bekerja sama dengan Sampoerna Foundation memberikan beasiswa penuh kepada 1 (satu) orang untuk menempuh pendidikan S2 di bidang Sains, Ilmu Sosial, atau Commerce di University of New South Wales, Sydney, Australia.

Beasiswa meliputi: Biaya sekolah dan asuransi kesehatan, Tunjangan hidup dan tunjangan buku, Tiket pesawat pulang pergi: Sulawesi – Sydney – Sulawesi, Biaya aplikasi visa pelajar, Biaya pendaftaran ke universitas, Biaya persiapan tes IELTS

Persyaratan untuk diterima sebagai berikut: Warga Negara Indonesia; memiliki KTP Sulawesi Tengah atau Sulawesi Tenggara; berusia maksimal 35 tahun; Lulus S1 dari jurusan apa saja, dengan IPK minimal 3.00 (dalam skala 4.00); Setelah lulus dari semua tahapan seleksi beasiswa, finalis penerima beasiswa dapat menyerahkan hasil tes Bahasa Inggris (TOEFL / IELTS) dan Graduate Admission Test sesuai dengan persyaratan yang diminta oleh program S2 (Master) yang diminati: • Skor International TOEFL minimal 577 (PBT) atau 233 (CBT) atau 90 (IBT), ATAU • Skor IELTS minimal 6.5; Belum memiliki gelar S2 atau sederajat; Bukan lulusan dari universitas di luar negeri, ataupun pernah terdaftar di universitas di luar negeri, kecuali karena menerima beasiswa; Tidak sedang menerima beasiswa dari pihak lain; Membuktikan bahwa tanpa beasiswa ini, yang bersangkutan tidak mampu melanjutkan studi S2 di luar negeri; Siswa S2 dari universitas lokal dan bersedia melanjutkan studinya di University of New South Wales, Australia, diperbolehkan untuk mendaftar.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Universitas Haluoleo (Bapak La Otjo Oti)
Staf Pembantu Rektor I
Rektorat, Lantai 4
Kampus Bumi Tridharma Anduonuho
Jl. H.E.A Mokodompit
Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia

Universitas Tadulako (Ibu Utik Widaryanti)
Bagian Pelayanan Kesejahteraan Mahasiswa
PKM BAK PSI
Kampus Bumi Tadulako Tondo
Jl. Sukarno Hatta Km.9, Tondo
Palu, Sulawesi Tengah – Indonesia

Kirimkan segera formulir aplikasi Anda ke
Sampoerna Foundation
Sampoerna Strategic Square, North Tower 27th Floor
Jl. Jendral Sudirman Kavling 45
Jakarta 12930
(Harap tuliskan “RIO TINTO S2″ di sisi kanan atas amplop aplikasi Anda). Batas akhir penerimaan lamaran tanggal 11 Desember 2009.

Berita Relevan lainnya:

Pelajar Ideal

Mempertegas orientasi Masa Depan

Beasiswa chevening 2010

Incoming search terms:


BPH dan Akuntabilitas Lembaga Pendidikan

August 10th, 2009 ayad No comments

BHP untukPelajar (bag. 2)

Oleh Hayadin

Salah satu isu penting dalam merancang masa depan pelajar Indonesia adalah akuntabilitas lembaga pendidikan dimana para pelajar menuntut ilmu pengetahuan dan memulai masa depannya. Setidaknya ada dua pertanyaan strategis yang relevan untuk dijawab terkait dengan akuntabilitas lembaga pendidikan, yakni:

  1. Apakah lembaga pendidikan (sekolah, kampus, dan madrasah) memiliki kapasitas dan kapabilitas yang cukup dan niat yang suggguh-sunguh untuk mengantarkan pelajar (siswa-siswinya) menjadi warga negara yang mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungannya.
  2. Bagaimana jika dalam proses pembelajaran, suatu lembaga pendidikan melakukan suatu tindakan yang merugikan masa depan siswa-siswinya, baik disengaja ataupun tidak disengaja?

Jaminan untuk masa depan pelajar

Semua orang mengetahui bahwa sekolah merupakan jembatan emas bagi siswa-siswinya untuk menuju masa depan yang lebih baik. Untuk harapan dan tujuan mulia tersebutlah, maka para orang tua rela mengorbankan anggaran, dan perasaan untuk menyekolahkan putra-putrinya. Juga untuk alasan yang sama pemerintah mengeluarkan anggaran yang besar (hingga  mencapai 20 % APBN) untuk membiayai sektor pendidikan. Nalar yang menyatakan bahwa sekolah sebagai jembatan emas masa depan tersebut selalu terbukti pada sekolah-sekolah yang berkualitas dengan mengeluarkan output dan outcome yang dikenal masyarakat memiliki keunggulan personal, ekonomi, social, politik, dan budaya.

Persoalan yang muncul kemudian adalah fakta bahwa tidak semua orang yang bersekolah akan keluar dari sekolah menjadi orang yang mandiri dan membawa manfaat bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya (bangsa dan negaranya atau masyarakat dunia). Dan secara apologetic, mudah untuk menyatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh banyak hal yang kompleks, dan bukan hanya institusi dan system pendidikan yang patut disalahkan, tetapi sistem lain di luar pendidikan seperti ekonomi dan lingkungan sosial politik juga turut berkontribusi.

Lembaga dan dunia pendidikan harus tegas mengenali dan mengakui peran dan tanggung jawabnya secara gentle tanpa apologi atau mengkambing hitamkan pihak lain, misalnya situasi social ekonomi politik, input siswa dan partisipasi orang tua siswa yang minim atas kegagalan mengantarkan para pelajar menjadi manusia yang mandiri dan bermanfaat bagi lingkungannya. Lembaga pendidikan mesti memiliki sarana dan instrument yang terukur secara kuantitatif dan kualitatif merupakan penjamin bagi masa depan pelajar yang ada dilingkungannya.

Dalam konteks akuntabilitas, maka lembaga pendidikan mesti secara proaktif menunjukkan kepada masyarakat kemampuan dan keunggulannya untuk menjamin bahwa proses pembelajaran yang dilakukan akan membawa pelajar ke masa depan yang lebih baik. Pada sisi lain, masyarakat (pelajar) sebagai konsumen dan  pelanggan pendidikan memiliki hak untuk menuntut (bahkan memperkarakan secara hukum) lembaga pendidikan yang secara sengaja atau tidak sengaja telah merugikan dirinya.

Harapan dan gambaran tentang akuntabilitas lembaga pendidikan seperti diuraikan di atas, dinyataakn secara eksplisit dalam undang – undang Badan Hukum Pendidikan  bahwa salah satu prinsip pengelolaan pendidikan adalah akuntabilitas, yakni kemampuan dan komitmen untuk mempertanggungjawabkan semua kegiatan yang dijalankan  kepada pemangku kepentingan (UU No. 9 tahun 2009, fasal 4, ayat 2). Tantangan selanjutnya adalah komitment dan perhatian semua pihak (stakeholders pendidikan) untuk mengimplementasikan isi dari undang-undang tersebut.

BACA JUGA:

* BPH untuk Pelajar

* Kebijakan Pembangunan untuk Pelajar