Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘bulan ramadhan’

Orang Beruntung

August 11th, 2010 ayad No comments

Siapakah Orang Beruntung

Oleh: Hayadin

Rasulullah SAW, memberikan wawasan yang sangat arif, luas, dan dalam serta bijaksana tentang perencanaan hidup manusia. Beliau membagi manusia atas tiga kategori, yakni beruntung, lalai, dan merugi.

Orang yang beruntung menurut Rasulullah SAW adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin (masa lalu). Dalam kalimat yang lain juga berarti orang beruntung adalah orang yang kehidupannya saat ini lebih baik, lebih berkualitas dibandingkan dengan kehidupannya di masa lalu. Untuk mendapatkan alur hidup seperti ini dibutuhkan kecerdasan dan ikhtiar yang terarah, sungguh sungguh dan terus menerus. Kehidupan tidak cukup diserahkan kepada alam. Manusia harus melakukan rekayasa untuk mengolah lingkungan sekitarnya dalam rangka memperbaiki kualitas dan taraf kehidupanya.

Orang yang merugi menurut Rasulullah SAW adalah mereka yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin (masa lalu) atau hari kemarin (masa lalu) lebih baik dari pada hari ini). Dengan kalimat yang lain juga berarti bahwa orang yang merugi adalah mereka yang memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik di masa lalu tetapi tidak dapat mempertahankanya dan meningkatkannya sehingga kualitas hidup tersebut menjadi hilang, dan berganti dengan kehidupan yang buruk atau rendah kualitasnya. Alur kehidupan seperti ini dapat disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri yang tidak melakukan ikhtiar terarah, dan berkesinambungan; atau mungkin juga disebabkan oleh faktor alam yang merusak kehidupan manusia seperti musibah, dan  bencana alam.

Kategori ketiga adalah orang yang lalai. Menurut Rasulullah Muhammad SAW, orang yang lalai adalah orang yang keadaannya hari ini (sekarang) sama dengan atau tidak ada perbedaan dengan hari kemarin (masa lalu). Dengan kalimat yang lain juga berarti bahwa orang yang lalai adalah mereka yang tidak membuat perubahan dalam hidup, sehingga kualitas kehidupannya sekarang sama dengan masa lalunya. Tidak ada perubahan. Mereka tidak pernah melakukan inovasi, dan terobosan besar dalam kehidupannya.

Gambaran kategori hidup dalam dimensi waktu yang digambarkan oleh Rasulullah SAW, tersebut di atas, sangat menarik, karena menyiratkan banyak hal kepada kaum  muslimin, antara lain: hidup harus kreatif dan inovatif; terencana dan terarah; ikhtiar yang berkesinambungan; dalam hidup perlu ada refleksi dan evaluasi; dan perlunya melakukan terobosan (breakthrough) untuk mengatasi keterpurukan dalam hidup.

Kreatif dan  inovatif merupakan jalan bagi manusia untuk melakukan pembaharuan. Kreatif berarti menciptakan sesuatu yang berbeda. Orang kreatif memanfaatkan segala benda dan ide yang ada disekelilingnya menjadi berbeda dan membawa manfaat yang lebih besar. Demikian pula halnya dengan inovasi yang berarti menemukan sesuatu yang baru sebagai perkembangan dari bentuk sebelumnya atau sama sekali baru atau  belum pernah ada sebelumnya.

Hidup juga harus terencana dan terarah. Dengan perencanaan yang terarah maka ikhtiar manusia berjalan secara disiplin dan berkesinambungan.Tanpa perencanaan yang baik, kehidupan tidak memiliki disiplin. Semuanya dikerjakan berdasarkan kesenangan, selera, atau pengaruh lingkungan yang belum tentu selaras dengan kehidupan seseorang. Dengan perencanaan, maka setiap ikhtiar akan memiliki rumusan tujuan dan niat yang tegas serta jelas: untuk apa suatu ikhtiar dikerjakan. Niat dan tujuan yang tegas tersebut akan menjadi landasan disiplin dalam menjalani proses ikhtiar hingga mencapai hasil yang diinginkan. Sebaliknya tanpa niat dan tujuan yang jelas maka ikhtiar yang dilakukan bernilai kosong, tidak memiliki disiplin, tidak ada proses dan kesinambungan yang jelas, dan tidak membuahkan hasil.

Manusia juga perlu melakukan refleksi dan evaluasi atas kehidupan yang dijalaninya. Melalui refleksi dan evaluasi, manusia melihat kembali perjalanan hidupnya di masa lalu hingga pada titik sekarang. Apa amal sholeh yang telah dilakukannya, apa yang telah ia capai, bagaimana ia mencapai prestasi tersebut. Apa kekeliruan yang telah ia lakukan. Manusia juga dapat melakukan refeleksi tentang masa depannya berdasarkan perjalanan hidup yang telah ia lewati. Bagaimana kesinambungan dari perjalanan tersebut, dan apa yang akan di lakukan atau tidak dilakukan dimasa depan dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Apa yang disabdakan oleh Rasululah tersebut, secara imperatif merupakan ajaran untuk proaktif dan merencanakan hidup dan merancang masa depan. Mari jadikan Bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menullis rencana masa depan yangkan kia evaluasi pada Ramadhan berikutnya.


Melatih Kemandirian

August 10th, 2010 ayad No comments

Melatih Kemandirian

Oleh: Hayadin

Kemandirian (independence) atau hidup mandiri secara personal merupakan kontinum perkembangan manusia yang lebih tinggi setelah melewati face ketergantungan (dependence – independence – interdependence). Seperti kita ketahui bersama, bahwa setiap manusia pada saat mengawali hidupnya di dunia pasti bergantung (dependence)  pada kedua orang tua dan keluarganya untuk bisa hidup. Urusan makan, mandi, memakai pakaian, bahkan hingga tidur dibantu oleh orang lain.

Seiring dengan perkembangan waktu, manusia menjadi besar dan cerdas karena didikan dan hasil belajar sejak kecil. Manusia kemudian bisa melakukan banyak tugas dan pekerjaan tanpa ditopang oleh orang lain. Pada tahap ini, manusia berusaha untuk menjadi pribadi yang mandiri (independent) , dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan ikhtiar dan pandangannya sendiri.

Dalam agama Islam, fase ini paralel dengan fase dimana manusia memiliki tanggung jawab dan status di depan hukum, yang biasa dikenal dengan istilah aqil-baligh. Status ini, selain faktor usia, juga ditentukan oleh rasionalitas atau berfungsinya akal secara baik sehat, yakni mampu membedakan mana /apa yang bermanfaat dan mana / apa yang membawa mudharat (malapetaka).

Bulan suci Ramdhan dimana kita sebagai kaum muslimin berpuasa merupakan bulan penuh rahmat yang dapat dijadikan sebagai momentum membangun kemandirian. Prosesi ibadah ramadhan yang dimulai dengan bangun pagi pada saat terbit fajar dan berniat (berkomitment) untuk tidak makan, minum, berdusta/bohong, dan berbuatan tercela lainnya, hingga terbenam mata hari, merupakan latihan penting bagi anak anak untuk membangun sifat jujur,  mandiri, percaya diri, konsisten dan lain sebagainya.

Sarana pelatihan ’kejujuran’ bagi anak dapat dirasakan atau dialami oleh anak, dimana ketika menjalankan ibadah puasa, maka yang dapat mengontrol sang anak untuk tidak makan dan minum adalah dirinya sendiri. Orang tua dapat saja berpesan dan memberikan nasehat untuk tidak melakukan perbuatn yang membatalkan puasa, yakni antara lain adalah makan dan minum. Tetapi mengawasinya sepanjang hari dari waktu Subuh hingga Maghrib, adalah pekerjaan yang berat dan hampir tidak mungkin. Bahkan dengan memakai jasa ”Body Guard” sekalipun tidak akan efektif, jika Sang anak tidak memiliki kesadaran sendiri untuk menjalankan puasa dan melaksanakan niatnya yang telah dilafalkan tadi malam sebelum sahur. Pada diri sang anaklah ketuntasan ritual menahan lapan dan dahaga dari waktu Shubuh hingga Maghrib. Anak yang jujur akan betul-betul menahan lapar dan dahaga meskipun ia memiliki kesempatan atau dirayu oleh lingkungannya baik oleh teman sebayanya ataupun oleh media yang ia tonton seperti Televisi. Berbeda halnya dengan anak yang tidak jujur, ia akan mencari-cari kesempatan untuk memuaskan rasa dahaga dan laparnya di belakang pengawasan orang tuanya. Bahkan tanpa ragu ia dapat saja memperlihatkan ekspresi lapar, letih, haus kepada orang tuanya, dan ikut prosesi buka puasa bersama dengan anggota keluarga yang berpuasa penuh.

Sarana pelatihan ’kemandirian’ dapat dirasakan atau dialami oleh anak, dimana selama menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, orang yang berpuasa melakukan rutinitas bangun subuh melawan kantuk untuk melaksanakan ibadah sahur. Ini merupakan prasyarat bagi kebaikan dan keutamaan puasa, karena dengan melaksankan sahur, kita memiliki stok kalori dan nutrisi untuk  menopang stamina dan daya tahan tubuh selama menjalankan aktivitas keseharian. Dan bangun tidur merupakan urusan pribadi karena terkait perasaan dan organ pribadi seseorang. Bagi anak, adalah pengalaman yang asing dan tidak biasa untuk bangun dikala mata sedang tidur nyenyak berhiaskan mimpi. Dan pengalaman berpuasa di bulan suci ini, menjadikan sang anak menikmati irama bangun tidur, sahur, sholat shubuh. Dan semua itu dilakukan tanpa perwakilan.

Sarana pelatihan ’percaya diri’ karena pada saat sahur dan berniat untuk berpuasa, pada dasarnya (di lubuk hati paling dalam) tertanam keyakinan atau mungkin juga perjuangan untuk melawan keraguan, bahwa kita dapat menahan lapar, haus, syahwat, serta perilaku negatif lain sampai terbenam matahari.  Hal ini terkait dengan kesehatan fisik, mental, psikologis, bahwa kita dapat melewatinya sampai terbenam mata hari. Bagi anak, yang baru belajar berpuasa, tentu merupakan tantangan yang berat untuk tidak makan sampai pada jam tertentu. Dan pada saat sahur bagi anak yang baru belajar puasa maka ”kontrak waktu toleransi” yang disepakati bersama orang tua untuk boleh berbuka merupakan ujian mental untuk mengukur kemampuan dan staminanya, baik secara fisik maupun secara psikis. Ada anak yang berusia 5 atau 6 tahun pada saat sahur menyatakan sanggup untuk bertahan sampai maghrib; ada juga yang menyatakan sanggup samapi waktu zuhur; dan ada juga yang mungkin sebelum zuhur. Kapan waktu berbbuka yang diyakininya, itu mencerminkan rasa percaya diri sang anak tentang kemampuan. Bagi orang tua yang melakukan kontrak waktu toleransi untuk berbuka puasa, yang perlu diperhatikan adalah keyakinan sang anak untuk menyatakankesanggupannya. Bagi anak usia 7 atau 8 tahun tentu pernyataan sangup untuk menyelesaikan ibadah puasa hingga maghrib, merupakan pertanda yang baik bagi rasa percaya diri (dengan tanda kutip: anak tersebut jujur).

Sarana melatih ’kesabaran’ karena melalui ibadah puasa yang dijalani mulai dari terbit fajar hingga terbenam mata hari (kurang lebih 14 jam) selama 30 hari penuh dengan cobaan dan godaan. Kebiasaan makan dan minum di siang hari, dengan pilihan rasa menu yang beragam merupakan sesuatu yang sulsit dan berat untuk dihentikan begitu saja. Dan ketika kita berpuasa, kebiasaan tersebut harus berhenti total, tanpa ada tawar menawar. Bahkan bagi orang yang kecanduan tembakau (rokok) harus menghentikan kebiasaan tersebut pada saat puasa. Perjuangan menghentikan kebiasaan tersebut memerlukan kesabaranyang tinggi. Bagi anak, tentu lebih berat lagi. Ia harus melawan godaan makan dan minum, bahkan godaan iklan makanan dan minuman yang ditayangkan media televisi.

Sarana pelatihan ”konsistensi”, karena ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan berlangsung selama 29 atau 30 hari secara rutin dan terus-menerus (tanpa terputus-putus dan bosan). Prosesi ibadah yang dilakukan pada hari pertama dan seterusnya, adalah berulang-ulang: mulai sahur – menahan lapar, dahaga, dan sikap serta perilaku yang negatif – berbuka puasa – tarawweh – sahur lagi – menahan lapar, dahaga lagi – berbuka lagi, dan seterusnya selama sebulan. Pengalaman lapar, letih, haus yang dialami pada hari sebelumnya mungkin saja menggoda dan menjadi alasan pembenar bagi seseorang untuk tidak berpuasa pada hari berikut dan selanjutnya. Tetapi bagi kaum mukminin, konsistensi untuk menjalani seluruh prosesinya secara rutin hingga tuntas mulai dari hari pertama hingga hari terakhir Ramadhan adalah harga mati dankenikmatan yang tiada tandingannya. Dan bagi anak, tentu ini merupakan momentum yang berharga untuk menanamkan perilaku konsisten dalam beribadah, yang diharapkan akan menjadi landasan sikap dan perilaku sosial lainya.

Semoga ibadah puasa Ramadhan ini menjadi momentum bagi kita semua (terutama kaum muslimin wabil khusus pelajar yang menjalaninya sambil bersekolah dan belajar) untuk membangun perilaku terpuji dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih baik di hari esok. Amien.

Incoming search terms:


Marhaban Ramadhan 1431 H

August 10th, 2010 ayad No comments

Marhaban Yaa Ramadhan 1431 H. Gambar diadopt dari Google. Trims.

Alhamdulillah, Syukur kepada Sang Pencipta dan Penguasa waktu, yang telah mempertemukan kita semua dengan Ramadhan tahun 1431 H. Semoga kita sehat, kuat, sabar, dan mendapatkan hidayah serta barakah dari Ibadah yang kita jalani selama sebulan di bulan suci ini. Amien, Yaa Rabbal Alamin.


Ramadhan 1430 H

August 21st, 2009 ayad No comments

pmd Management Center

Mengucapkan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1430H. Semoga kita semua kuat, sehat dan konsisten menjalankan ibadah.

Ramadhan Mubarok

Ramadhan Mubarok

Kami juga mengajak kawan-kawan dan handai taulan terutama adik adik pelajar untuk menjadikan puasa dan ibadah lainnya di bulan suci Ramadhan sebagai LATIHAN. Jangan kurangi porsi belajar Anda hanya karena Anda sedang puasa. Buktikanlah bahwa Anda bisa produktif meskipun sedang PUASA. Anda pasti Bisa, dan Kita semua BISA. Amien Yaa rabbal Alamiin.


Selamat TAHUN BARU Hijriyah

December 28th, 2008 ayad No comments

Hari ini adalah 1 Muharam 1430 Hijriyah bertepatan dengan 29 Desember 2008. Bagi kaum Muslimin tentu paham bahwa tahun Hijriyah ditetapkan berdasarkan Momentum Hijrahnya Nabi Besar Muhammad S.A.W dari Mekkah ke Madinah.  Momentum Hijrah tersebut merupakan saat yang menentukan bagi keberhasilan Misi Beliau. Dari perspektif ini, Hijrah dipandang sebagai strategi mencapai Tujuan. Strategi Berpindah dan berubah (Change and Moving) dari status quo kepada kondisi baru yang meskipun penuh tantangan tetapi juga melahirkan harapan (New Emerging Hope).

Berbeda dengan kelender Masehi (Syamsiyah), Kalender HIjriyah ditetapkan berdasarkan rotasi bulan mengelilingi bumi. Dimulai dari Bulan Muharam, Safar, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rabiulawal, Rabiulakhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijah.

Adanya penanggalan tersebut merupakan pertanda bahwa Agama Islam memberikan apresiasi dan perhatian yang besar terhadap WAKTU secara eksak. Waktu dinilai sebagai variabel penting dalam kehidupan Manusia. Dan waktu harus di hitung. Bukan hanya untuk dinikmati atau dilalui tanpa Hitungan. Dalam setahun tercatat (terhitung) sebanyak 354 hari merupakan rentang waktu yang relatif panjang. Setiap orang memiliki pencapaian dengan rentang waktu seperti itu.

Adalah suatu kearifan jika seorang Muslim mempertanyakan apa yang sudah ia kerjakan sepanjang rentang waktu tersebut? Apa prestasi yang telah diukirnya selama kurun waktu tersebut. Atau dengan kata yang lebih sederhana, “Digunakan untuk apakah 354 hari yang dimilikinya?”.

Seorang pelajar patut merenungkan, “Prestasi apakah yang dapat saya ukir sepanjang tahun ini?”. SEjauh mana saya mencapai tujuan-tujuan hidup saya atau cita-cita saya?. Apakah saya termasuk pelajar ideal?

Ok. Setiap orang pasti punya catatan pencapaiannya masing-masing. Catatan tersebut selalu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mari kita lengkapi catatan akhir tahun kita dengan melakukan Perenungan atas prestasi yang dapat kita raih sebagai Rahmat dan Bukti kecintaan Allah S.W.T. Dan pun kita catat tujuan atau cita-cita atau harapan atau rencana yang belum tercapai sebagai tantangan baru untuk kita lanjutkan pada tahun berikutnya. Tidak ada kata gagal jika kita masih mau meneruskan perjalanan. Dan kita kita masih akan tetap bergerak, berubah (moving and change) sebagaimana alam raya dan seluruh kehidupan berubah dan bergerak.

Selamat tahun baru Hijriyah 1430H.