Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘belajar demi masa depan’

Belajar untuk masa depan

August 28th, 2010 ayad No comments

Belajar sebagai Modal Masa Depan Anda

Kehidupan di masa yang akan datang memerlukan kompetensi yang dilandasi oleh disiplin ilmu tertentu. Orang yang akan eksis adalah mereka yang memiliki profesi dan atau pekerjaan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu-satunya strategi pendekatan yang dapat digunakan untuk memiliki kompetensi tertentu dengan ditopang oleh  landasan keimuan tertentu, adalah belajar (studi). Tidak ada cara lain yang dapat kita gunakan selain belajar. Oleh karena itu, belajarlah sejak dini untuk menguasai suatu kompetensi dan disiplin ilmu tertentu. Belajar merupakan modal dasar yang dimiliki oleh setiap orang untuk bisa eksis dan mengejar kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah akan mengangkat beberapa derajad lebih tinggi bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan yang lebih. Secara formil, setiap jenis profesi, pekerjaan dan karir selalu memerlukan persyaratan dalam bentuk kualifikasi akademik dan/atau kompetensi tertentu. Artinya untuk diterima bekerja pada suatu perusahaan, kantor pemerintah atau swasta, maka Anda perlu memiliki ijazah atau sertifikat yang menerangkan level akademis dan kompetensi Anda. Tanpa hal tersebut, maka sulit bagi anda untuk meniti profesi dan karir secara baik. Ijazah atau sertifikat pada hakikatnya adalah bukti yang menjelaskan pengakuan dan kepercayaan suatu lembaga pendidikan tempat Anda belajar atas kompetensi dan kemampuan yang kita miliki. Atas dasar pengakuan dari Universitas tersebut maka dunia kerja dimana kebanyakan pelajar akan melamar pekerjaan, mempertimbangkan dan menerima seseorang untuk bekerja di tempat tersebut dengan posisi dan karier tententu.

Tentu ada kemungkinan seseorang dapat bekerja dan berkarir tanpa mengandalkan ijazah dan sertifikat. Para enterpreneur atau wirausahawan yang merintis usaha sendiri dan mendirikan perusahaan merupakan  contoh orang yang tidak mengandalkan ijazah atau sertifikat. Meskipun demikian, mereka bukanlah orang yang tidak belajar, mereka justru belajar lebih keras dan lebih dalam dari kehidupan sehari-hari dari berbagai sumber. Mereka adalah orang yang belajar sambil bekerja, bahkan merani mengambil resiko dengan belanjar dari kegagalan membangun usaha sendiri.

Meskipun demikian halnya, fakta menunjukkan bahwa mereka yang sukses membangun perusahaan atau kerajaan bisnis di era modern sekarang, juga memiliki sertifikat atau ijazah yang menerangkan bahwa mereka dapat membaca menulis dan berhitung serta kompetensi tertentu. Kisah sukses orang tanpa sekolah semakin berkurang seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan seorang Bill Gates, pemilik Microsoft Corporation beberapa tahun yang lalu kembali ke kampus untuk mengambil gelar Doktornya, setelah pada musa mudanya lebih senang belajar secara bebas dari berbagai sumber di luar kampus.

Oleh karena itu jangan sia-siakan masa muda Anda sekarang. Belajar hari ini, sukses di masa depan. Those who learn today, will be leader tomorrow.

Incoming search terms:


Rencana Sukses

August 28th, 2010 ayad No comments

Hidup Terencana dan Terarah

Oleh: Hayadin

Salah satu kutipan yang menarik adalah: “if You Fail to Plan, You Plan to fail”. Artinya, jika anda gagal membuat rencana, maka Anda membuat rencana untuk gagal. Kutipan di atas sangat tepat, dengan menyandingkan kegagalan sebagai konsekwensi perencanaan. Kegagalan menjadi konsekwensi mutlak dari buruknya perencanaan dan atau ketiadaan perencanaan.

Gagal membuat rencana (Fail to Plan) dapat dimaknai sebagai kekurangmampuan dalam membuat rencana, menentukan orientasi masa depan, dan arah dari suatu perjalanan atau akhir dari suatu ikhtiar. Dalam perspektif lain, dapat pula dikatakan sebagai ketidakjelasan niat dalam menjalankan sesuatu. Sesuatu dikerjakan atau dijalankan hanya karena mengikuti kehendak orang lain, ikut-ikutan, atau latah.

Para pakar manajemen memandang bahwa perencanaan merupakan hal yang penting dan utama dari suatu pekerjaan, projek, perjalanan, usaha, dan tujuan. Dengan adanya rencana yang terarah dan jelas, menurut ahli manajemen, maka setengah dari tujuan telah dicapai.

Lalu, bagaimana kalau tidak ada perencanaan? Tentu kita tidak akan mencapai apa-apa. Apa yang kita lakukan hanyalah melanjutkan rutinitas dari orang-orang terdahulu,  mengikuti irama lingkungan, merespon secara reaktif berbagai hal yang terjadi di sekitar kita dengan mengandalkan naluri dan perasaan tanpa ada bingkai yang terarah. Kita mengerjakan sesuatu hanya karena orang lain mengerjakannya, atau terdesak oleh situasi dan kondisi, bukan  berdasarkan tujuan pribadi yang kita inginkan.

Hidup terencana secara praktis dilakukan dengan merumuskan apa yang mau kita raih dalam limit waktu tertentu. Boleh jadi batasannya adalah apa yang mau kita raih dalam satu minggu, dalam satu bulan, dalam satu tahun atau lebih, bahkan apa yang mau kita raih atau mau kita capai hari ini terumuskan secara jelas. Merumuskannya adalah di dalam otak atau melalui tulisan. Orang bijak menganjurkannya agar rencana tersebut dituliskan di atas kertas agar mudah dilihat, dapat menjadi pedoman, serta dapat ditinjau ulang seiring dengan pergantian sang waktu.

Sejarah gemilang yang dicapai oleh manusia diukir melalui pemimpin-pemimpin besar yang memiliki perencanaan. Baik di dunia industri, militer, maupun di dunia keilmuan. Mereka semua memiliki rencana. Tidak atas kebetulan dan keberuntungan semata atas pencapaian mereka. Sebagian besar rencana mereka dituangkan dalam tulisan, sehingga menjadi obyek kajian para ahli sejarah di masa kini. Sebagian yang lain juga ada yang tidak sempat menuliskan rencana tersebut dan hanya tersimpan dalam memori mereka.

Orang yang memiliki rencana tertentu, akan memiliki motivasi besar yang lahir dari dirinya sendiri untuk melakukan serangkaian ikhtiar mencapai tujuannya; secara sadar ia akan membangun strategi dan disiplin yang dibutuhkan sebagai prasyarat mencapai tujuannya; dengan rencana dan tujuan yang jelas, ia akan memiliki daya tahan dan kesabaran terhadap berbagai masalah dan tantangan yang mungkin hadir mengganggu perjalanannya mencapai tujuan tersebut.

Oleh karena itu, merumuskan tujuan pribadi dan menuangkannya dalam perencanaan yang jelas dan terarah merupakan awal dari kesuksesan pribadi. Ungkapan tersebut di atas ”if You fail to Plan, You Plan to Fail”, sangat tepat, yang jika dibalik dengan mengganti kata fail (gagal) dengan success (sukses) akan berbunyi, “if You success to Plan, You Plan to Success”, artinya: “Jika Anda sukses membuat rencana, maka Anda telah berencana untuk sukses”. It’s great!

Untuk itu, di sekolah selain belajar (matematika, bahasa, ilmu pengetahuan lain) dan mengembangkan bakat, akan lebih baik masa depan kita jika kita juga belajar membuat rencana untuk hari esok yang lebih baik. Let’s make planning.

Incoming search terms:


Mengapa Gagal

August 21st, 2010 ayad No comments

Mengapresiasi Kegagalan

Kegagalan adalah ujung lain dari sebuah tongkat, atau sisi lain dari sebuah keping uang logam, yang pada ujung atau sisi lainnya adalah kesuksesan.

Banyak faktor yang mempegaruhi kegagalan manusia. Setidaknya ada sembilan alasan yang menjadi penyebab kegagalan, yakni:

  1. Keterampilan Interpersonal yang buruk; Ini adalah wujud dari kecerdasan sosial seseorang, yakni kemampuan untuk berinterkasi dan bersosialisasi kepada orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan sosial yang baik dicirikan oleh hal hal antara lain: memiliki kemampuan negosiasi tinggi, mahir berhubungan dengan orang lain, mampu membaca maksud hari orang lain, menikmati berada di tengah-tengah orang banyak, memiliki banyak teman, mampu berkomunikasi dengan baik (kadang melakukan manipulasi), menikmati kegiatan bersama, suka menengahi pertengkaran, suka bekerja sama, dan mampu membaca situasi sosial dengan baik..Sebaliknya, orang yang memiliki kecerdasan sosial yang rendah: susah bernegosiasi, menghindari diskusi atau acara sharing atau diskusi kelompok , menghindari kritikan, minder terhadap orang lain, dan cenderung menyalahkan keadaan disekitarnya  jika terjadi hal-hal yang tidak beres. Mereka ini sering memandang lingkungannya atao orang lain sebagai penyebab dari kemunduran yang dialaminya, dan tidak pernah bisa belajar dari hal yang sama.
  2. Ketidaklayakan; Ini terkait dengan konteks situasi dan kompetensi Anda. Kemampuan dan bakat atau talenta seseorang terkadang tidak sejalan dengan lingkungan, sistem nilai, dan mitra kerja. Hal ini menimbulkan ketidak cocokan yang berujung pada kegagalan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu tetaplah berbesar hati, untuk tetap bangkit mewujudkan talenta, bakat dan potensi Anda.
  3. Usaha yang tanggung (tidak ada komitmen); Ini adalah sikap setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Ragu, bimbang, takut gagal, dan terombang ambing dalam banyak pendapat orang, menjadi penyebab mengapa sebagaian besar orang gagal. Belajar seadanya atau menjelang ujian, atau hanya ketika orang lain belajar, tidak peduli apa hasilnya. Bekerja, asal bekerja tidak pedulibagaimana hasilnya. Orang seperti ini tidak memiliki gambarantentang tujuan yang jelas, yang mendaji dasar dari komitment.
  4. Rencana yang sembrono; Ini terkait dengan kegiatan yang dilakukan berdasarkan selera dan kesenangan semata, tanpa ada perhitungan yang matang dan teliti. Banyak pelajar yang memilih sekolah, fakultas, atau jurusan bahkan kota tempat belajar hanya berdasarkan kesenangan atau ikut-ikutan teman. Mereka tidak melakukan perhitungan yang matang, apa keuntungan dan kerugian, sera mendiskusikannya denfgna orang tua mereka atau orang yang lebih dewasa, sebelum mengambil keputusan.
  5. Perilaku yang buruk; Ini terkait dengan kebiasaan hidup sehari – hari dalam melakukan tugas dan berhubungan dengan orang lain yang membawa kerugian pada diri sendiri (self-destructive), seperti: egois / menang sendiri, sombong, takabur, meremehkan orang lain apa lagi guru atau atasanya, dan tidak berani mengakui kelemahannya. Tanpa disadari kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi penghancur dari usaha yang telah dilakukan. Kebiasaan ini adalah nila yang merusak susu sebelanga.
  6. Tidak fokus (melakukan banyak hal dan tidak tuntas); Ini biasanya menimpa orang pintar dan memiliki banyak talenta. Mereka terkadang kehilangan fokus dengan berusaha untuk menyelesaikan semua yang berada dalam jangkauannya, tanpa memilih salah satunya yang paling penting menjadi prioritas. Mereka tidak sadar, sedang mempraktekkan perilaku serakah. Sayang untuk melepaskan yang ini atau yang itu, karena semuanya berada dalam jangkauan logika dan bakatnya. Tetapi mereka belum menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan fisik untuk merealisasi berbagai gagasan dan bakat. Suatu gagasan dan bakat tidak mungkin dapat langsung terimplementasi. Mereka terlebih dahulu memerlukan latihan, dan proses yang memakan waktu. Karena ingin melakukan semuanya, maka sebagai konsekwensinya, tak ada satupun yang ditangani secara tuntas, dan tanpa disadari waktu telah habis.
  7. Seksisme, ageisme, rasisme; Ini terkait dengan pandangan yang keliru terkait dengan perbedaan jenis kelamin, ras dan usia. Banyak orang gagal hanya karena ia tidak mau belajar dari orang yang lebih muda atau dari seseorang yang dipandang tidak sekelas dengannya. Di sekolah, mungkin kita menemukan seorang anak yang enggan atau malu bertanya dan bekerja sama menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) Matematika atau Bahasa Inggris dari seorang wanita, atau mungkin malu bertanya dan bekerja sama apalagi mengakui keunggulan adik kelasnya. Untuk sukses, manusia harus rendah hati dan mengakui kebenaran dari mana pun datangnya tanpa mengenal jenis kelamin, usia, dan suku atau agamanya.
  8. Manajemen yang lemah; Ini terkait dengan keterampilan dan kebiasaan mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain yang tepat. Bagi orang yang cerdas yang memiliki banyak rencana atau suatu rencana besar, adalah sesautu kelemahan jika ia beranggapan dapat menyelesaikan seleuruhnya sendiri tanpa bekerja sama dengan orang lain. Mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain menjadi jawaban dari kasus trersebut.
  9. Bertahan tidak mau berubah; Ini adalah gejala berpuas diri, atau fenomena hidup di zona nyaman. Ia sudah merasa cukup dan nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, dan ia tidak ingin ada perubahan, atau melakukan perubahan. Apa yang ada sekarang tidak perlu dirubah lagi. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan ini senantiasa bergerak. Gerak dan perubahan adalah sifat asasi atau fithrah dari kehidupan itu sendiri. Setiap hari matahari tanpa henti hadir menyinari bumi sebagai akibat dari pergerakan planet bumi yang berevolusi. Mereka yang tidak mau berubah, dengan sendiri mengingkari fithrah kehidupan dan akan tertinggal oleh kehidupan itu sendiri. Itulah sebabnya, pelajr harus senantiasa belajar agar naik kelas, lulus ujian, dan melanjujtkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, lalu bekerja, berkarir, dan berbakti kepada orang tua, bangsa, dan negara, hingga sampai menutup mata..

Kegagalan adalah vonis yang diberikan oleh orang lain atau mungkin diri kita sendiri terhadap peristiwa tertentu. Pada hakikatnya kegagalan hanyalah bentuk interprestasi orang terhadap peristiwa yang melibatkan seseorang di dalamnya. Hasil interpretasi tertentu melahirkan vonis sedemikian rupa kepada seseorang. Oleh karena itu ,jika mendapat vonis gagal, yang harus dilakukan adalah merubah penafsiran kita terhadap peristiwa yang melahirkan kegagalan tersebut.

Incoming search terms:


Melatih Kemandirian

August 10th, 2010 ayad No comments

Melatih Kemandirian

Oleh: Hayadin

Kemandirian (independence) atau hidup mandiri secara personal merupakan kontinum perkembangan manusia yang lebih tinggi setelah melewati face ketergantungan (dependence – independence – interdependence). Seperti kita ketahui bersama, bahwa setiap manusia pada saat mengawali hidupnya di dunia pasti bergantung (dependence)  pada kedua orang tua dan keluarganya untuk bisa hidup. Urusan makan, mandi, memakai pakaian, bahkan hingga tidur dibantu oleh orang lain.

Seiring dengan perkembangan waktu, manusia menjadi besar dan cerdas karena didikan dan hasil belajar sejak kecil. Manusia kemudian bisa melakukan banyak tugas dan pekerjaan tanpa ditopang oleh orang lain. Pada tahap ini, manusia berusaha untuk menjadi pribadi yang mandiri (independent) , dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan ikhtiar dan pandangannya sendiri.

Dalam agama Islam, fase ini paralel dengan fase dimana manusia memiliki tanggung jawab dan status di depan hukum, yang biasa dikenal dengan istilah aqil-baligh. Status ini, selain faktor usia, juga ditentukan oleh rasionalitas atau berfungsinya akal secara baik sehat, yakni mampu membedakan mana /apa yang bermanfaat dan mana / apa yang membawa mudharat (malapetaka).

Bulan suci Ramdhan dimana kita sebagai kaum muslimin berpuasa merupakan bulan penuh rahmat yang dapat dijadikan sebagai momentum membangun kemandirian. Prosesi ibadah ramadhan yang dimulai dengan bangun pagi pada saat terbit fajar dan berniat (berkomitment) untuk tidak makan, minum, berdusta/bohong, dan berbuatan tercela lainnya, hingga terbenam mata hari, merupakan latihan penting bagi anak anak untuk membangun sifat jujur,  mandiri, percaya diri, konsisten dan lain sebagainya.

Sarana pelatihan ’kejujuran’ bagi anak dapat dirasakan atau dialami oleh anak, dimana ketika menjalankan ibadah puasa, maka yang dapat mengontrol sang anak untuk tidak makan dan minum adalah dirinya sendiri. Orang tua dapat saja berpesan dan memberikan nasehat untuk tidak melakukan perbuatn yang membatalkan puasa, yakni antara lain adalah makan dan minum. Tetapi mengawasinya sepanjang hari dari waktu Subuh hingga Maghrib, adalah pekerjaan yang berat dan hampir tidak mungkin. Bahkan dengan memakai jasa ”Body Guard” sekalipun tidak akan efektif, jika Sang anak tidak memiliki kesadaran sendiri untuk menjalankan puasa dan melaksanakan niatnya yang telah dilafalkan tadi malam sebelum sahur. Pada diri sang anaklah ketuntasan ritual menahan lapan dan dahaga dari waktu Shubuh hingga Maghrib. Anak yang jujur akan betul-betul menahan lapar dan dahaga meskipun ia memiliki kesempatan atau dirayu oleh lingkungannya baik oleh teman sebayanya ataupun oleh media yang ia tonton seperti Televisi. Berbeda halnya dengan anak yang tidak jujur, ia akan mencari-cari kesempatan untuk memuaskan rasa dahaga dan laparnya di belakang pengawasan orang tuanya. Bahkan tanpa ragu ia dapat saja memperlihatkan ekspresi lapar, letih, haus kepada orang tuanya, dan ikut prosesi buka puasa bersama dengan anggota keluarga yang berpuasa penuh.

Sarana pelatihan ’kemandirian’ dapat dirasakan atau dialami oleh anak, dimana selama menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, orang yang berpuasa melakukan rutinitas bangun subuh melawan kantuk untuk melaksanakan ibadah sahur. Ini merupakan prasyarat bagi kebaikan dan keutamaan puasa, karena dengan melaksankan sahur, kita memiliki stok kalori dan nutrisi untuk  menopang stamina dan daya tahan tubuh selama menjalankan aktivitas keseharian. Dan bangun tidur merupakan urusan pribadi karena terkait perasaan dan organ pribadi seseorang. Bagi anak, adalah pengalaman yang asing dan tidak biasa untuk bangun dikala mata sedang tidur nyenyak berhiaskan mimpi. Dan pengalaman berpuasa di bulan suci ini, menjadikan sang anak menikmati irama bangun tidur, sahur, sholat shubuh. Dan semua itu dilakukan tanpa perwakilan.

Sarana pelatihan ’percaya diri’ karena pada saat sahur dan berniat untuk berpuasa, pada dasarnya (di lubuk hati paling dalam) tertanam keyakinan atau mungkin juga perjuangan untuk melawan keraguan, bahwa kita dapat menahan lapar, haus, syahwat, serta perilaku negatif lain sampai terbenam matahari.  Hal ini terkait dengan kesehatan fisik, mental, psikologis, bahwa kita dapat melewatinya sampai terbenam mata hari. Bagi anak, yang baru belajar berpuasa, tentu merupakan tantangan yang berat untuk tidak makan sampai pada jam tertentu. Dan pada saat sahur bagi anak yang baru belajar puasa maka ”kontrak waktu toleransi” yang disepakati bersama orang tua untuk boleh berbuka merupakan ujian mental untuk mengukur kemampuan dan staminanya, baik secara fisik maupun secara psikis. Ada anak yang berusia 5 atau 6 tahun pada saat sahur menyatakan sanggup untuk bertahan sampai maghrib; ada juga yang menyatakan sanggup samapi waktu zuhur; dan ada juga yang mungkin sebelum zuhur. Kapan waktu berbbuka yang diyakininya, itu mencerminkan rasa percaya diri sang anak tentang kemampuan. Bagi orang tua yang melakukan kontrak waktu toleransi untuk berbuka puasa, yang perlu diperhatikan adalah keyakinan sang anak untuk menyatakankesanggupannya. Bagi anak usia 7 atau 8 tahun tentu pernyataan sangup untuk menyelesaikan ibadah puasa hingga maghrib, merupakan pertanda yang baik bagi rasa percaya diri (dengan tanda kutip: anak tersebut jujur).

Sarana melatih ’kesabaran’ karena melalui ibadah puasa yang dijalani mulai dari terbit fajar hingga terbenam mata hari (kurang lebih 14 jam) selama 30 hari penuh dengan cobaan dan godaan. Kebiasaan makan dan minum di siang hari, dengan pilihan rasa menu yang beragam merupakan sesuatu yang sulsit dan berat untuk dihentikan begitu saja. Dan ketika kita berpuasa, kebiasaan tersebut harus berhenti total, tanpa ada tawar menawar. Bahkan bagi orang yang kecanduan tembakau (rokok) harus menghentikan kebiasaan tersebut pada saat puasa. Perjuangan menghentikan kebiasaan tersebut memerlukan kesabaranyang tinggi. Bagi anak, tentu lebih berat lagi. Ia harus melawan godaan makan dan minum, bahkan godaan iklan makanan dan minuman yang ditayangkan media televisi.

Sarana pelatihan ”konsistensi”, karena ibadah puasa yang dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan berlangsung selama 29 atau 30 hari secara rutin dan terus-menerus (tanpa terputus-putus dan bosan). Prosesi ibadah yang dilakukan pada hari pertama dan seterusnya, adalah berulang-ulang: mulai sahur – menahan lapar, dahaga, dan sikap serta perilaku yang negatif – berbuka puasa – tarawweh – sahur lagi – menahan lapar, dahaga lagi – berbuka lagi, dan seterusnya selama sebulan. Pengalaman lapar, letih, haus yang dialami pada hari sebelumnya mungkin saja menggoda dan menjadi alasan pembenar bagi seseorang untuk tidak berpuasa pada hari berikut dan selanjutnya. Tetapi bagi kaum mukminin, konsistensi untuk menjalani seluruh prosesinya secara rutin hingga tuntas mulai dari hari pertama hingga hari terakhir Ramadhan adalah harga mati dankenikmatan yang tiada tandingannya. Dan bagi anak, tentu ini merupakan momentum yang berharga untuk menanamkan perilaku konsisten dalam beribadah, yang diharapkan akan menjadi landasan sikap dan perilaku sosial lainya.

Semoga ibadah puasa Ramadhan ini menjadi momentum bagi kita semua (terutama kaum muslimin wabil khusus pelajar yang menjalaninya sambil bersekolah dan belajar) untuk membangun perilaku terpuji dalam rangka menciptakan kehidupan yang lebih baik di hari esok. Amien.

Incoming search terms:


Tidak Lulus UN

April 30th, 2010 ayad No comments

Tidak Lulus Ujian Nasional

Oleh: Tim pmd Support

Prosesi ketidak lulusan dalam kalender tahunan pendidikan nasional, kini tiba kembali. Histeris, tangis pilu, sedih, putus asa, dan lain lain mewarnai prosesi tersebut. Ribuan pelajar siswa SMA yang tidak lulus (menangis secara nasional) meratapi nasib (ketidaklulusan) mereka. Sebahagian ada yang menangis karena malu ketahuan ‘tidak mampu menjawab soal Ujian Nasional’ karena kurang pintar. Dan ada juga yang merasa sedih karena merasa ada temannya yang sama pintar dan bodohnya tetapi lulus atau terbukti juara kelas tetapi tidak lulus Ujian Nasional. Ia merasa nasibnya aja yang kurang beruntung, sehingga tidak lulus. Sementara temannya yang lain dengan kepandaian yang sama (menurut penilaiannya) mendapat keberuntungan sehingga berhasil lulus Uijan Nasional (UN).

Apapun alasannya (rationings) tidak lulus tentu tidak enak dan pasti membawa konsekwensi yang kompleks baik pada tataran individu, sekolah, keluarga, sosial masyarakat, maupun pada tataran sistem pendidikan nasional.

Pada tataran individu, ketidaklulusan pada Ujian Nasional tentu menimbulkan kesedihan yang mendalam seperti banyak disorot oleh media. Selain itu, seseorang yang tidak lulus ujian nasioanl harus segera mencari solusi bagi maa depannya. Jangan terelalu larut dalam suasana sedih. Tumpahkanlah air mata anda sehabis-habisnya, setelah itu, bukalah meta anda dan berpikirlah untuk tetap melanjutkan hidup. Tidak lulus Ujian Nasional Belum berarti Kiamat. Konsekwensi paling buruk adalah anda merugi satu tahun akademik untuk mengulang belajar lebih baik; atau memilih jalur pendidikan lainnya.

Pada tataran sekolah sekolah ketidak lulusan siswanya dalam Ujian Nasional harus disikapi secara serius. Sekolah perlu melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek yang mempengaruhi kelulusan siswa dalam Ujian Nasional. Hal-hal seperti persiapan akademis, persiapan mental, bimbingan belajar, try-out, kualitas guru, hingga pada kesehatan fisik, perlu dievaluasi oleh Kepala sekolah bersama Dewan Guru dan Komite Sekolah. Tidak peduli satu orang atau berapa orang yang tidak lulus Ujian Nasional.

Pada tataran keluarga, ketidak lulusan Ujian Nasional membawa konsekwensi yang kompleks, disamping beban psikologis, juga beban ekonomi yang mesti ditanggung oleh orang tua. Orang tua yang bijak, tidak perlu menyalahkan anaknya yang tidak lulus. Dukunglah dan dampingilah anak-anak yang tidak lulus. Mereka adalah korban dari sistem pendidikan, dan secara kebetulan kurang beruntung. Mungkin juga anak yang tidak lulus punya bakat lain (selain akademik) yang dapat diandalkan untuk mencapai masa depannya yang gemilang.

Pada tataran nasional, tentu pemerintah cq. Kementerian Pendidikan Nasional secara imperatif perlu merefeleksi dan mengevaluasi sistem penyelenggaraan Ujian Nasional. Karena Ujian nasional adalah suatu hajatan nasional yang menyita banyak energi bangsa dan anggaran pembangunan nasional. Seharusnya hajatan tersebut tidak menghasilkan masalah bagi bangsa terutama anak-anak bangsa.