Your Ad Here

Search Results

Keyword: ‘10 hak pelajar’

Goddard List

August 15th, 2010 ayad No comments

Inspirasi dari John Goddard

Oleh: Hayadin

Ini adalah contoh daftar keinginan yang ditulis oleh seorang anak ketika berusia 14 tahun. Keinginan ini timbul dari hasil mendengar percakapan orang terutama orang tua dan kolega bisnis ayahnya. Ia mendengar ayahnya dan teman-teman ayahnya menyesal tidak melakukan banyak hal ketika mereka masih muda, dan diusia yang sudah tua hal tersebut sudah susah untuk dilakukan. Nama anak ini adalah John Goddard. Oleh karena itu sering juga disebut dengan Goddard List.

Daftarnya sangat sederhana, inilah contohnya. Mungkin dapat memberikan inspirasi kepada kita.

Daftar keiningnan Goddard:

  1. Mengunjungi sungai Nil
  2. Mengunjungi sungai Amazon
  3. Mengunjungi sungai Kongo
  4. Mengunjungi sungai Colorado
  5. Mengunjungi sungai Yangtze di China
  6. Mengunjungi sungai Niger
  7. Mengunjungi sungai Orinoci, di Venezuela
  8. Mengunjungi sungai Rio Coco
  9. Mempelajari Budaya (primitive) orang Congo
  10. Mempelajari Budaya (primitive) orang New Guinea / Papua nugini
  11. Mempelajari Budaya (primitive) orang Brazil
  12. Mempelajari Budaya (primitive) orang Kalimantan
  13. Mempelajari Budaya (primitive) orang Sudan
  14. Mempelajari Budaya (primitive) orang Australia
  15. Mempelajari Budaya (primitive) orang Kenya
  16. Mempelajari Budaya (primitive) orang Philipina
  17. Mempelajari Budaya (primitive) orang Tanzania
  18. Mempelajari Budaya (primitive) orang Ethiopia
  19. Mempelajari Budaya (primitive) orang Nigeria
  20. Mempelajari Budaya (primitive) orang Alaska
  21. Mendaki Pegunngan Everest
  22. Mendaki gunung Aconcagua, Argentina
  23. Mendaki gunung Mckinley
  24. Mendaki  gunung Huascaran, Peru.
  25. Mendaki gunung Kilimanjaro
  26. Mendaki gunung Ararat Turki
  27. Mendaki gunung Kenya
  28. Mendaki gunung Cook Selandia baru
  29. Mendaki gunung Popocatepeti, Meksiko
  30. Mendaki gunung Matterhorn
  31. Mendaki  gunung Rainer
  32. Mendaki gunung Fuji
  33. Mendaki  gunung Vesuvius
  34. Mendaki gunung Bromo Jawa
  35. Mendaki Grand Tetons
  36. Mendaki gunung  Baldy, California
  37. Berkarir di bidang kesehatan dan eksplorasi
  38. Belajar kedokteran dan mengobati penyakit orang primitif
  39. Mengunjungi semua negara di dunia
  40. Belajar tentang Navajo dan India Hopi
  41. Belajar menerbangkan pesawat
  42. Memotret air terjun Iguaku, Brazil
  43. Memotret Air terjun victoria, Rodesia
  44. Memotret air terjun sutherland, Selandia baru
  45. Memotret air terjun Yosemite
  46. Memotret air terjun niagara
  47. Memotret napak tilas perjalanan Marco polo dan Alexander Agung
  48. Melakukan Eksplorasi bawah laut coral reefs di Florida, dan great garrier reefs Australia
  49. Melakukan Eksplorasi laut merah
  50. Melakukan Eksplorasi kepulauan fiji
  51. Melakukan Eksplorasi kepulauan Bahama
  52. Eksplorasi Okefenokee Swamp dan Everglades
  53. Mengunjungi kutb utara dan kutub selatan
  54. Mengunjungi tembok China
  55. Mengunjungi Terusan Suez dan Panama
  56. Mengunjungi Pulau Easter
  57. Mengunjungi Pulau galapagos
  58. Mengunjungi Kota Vatikan
  59. Mengunjungi Taj Mahal
  60. Mengunjungi Menara Eiffel
  61. Mengunjungi Grotto birru, Capri
  62. Mengunjungi Menara London
  63. Mengunjungi Manara miring Pissa
  64. Mengunjungi sumur suci Chich n-Itza, Meksiko
  65. Mendaki Ayers Rock, australia
  66. Mengikuti sungai Jordan dan laut Galilee.
  67. Mengunjungi laut Mati
  68. Berenang di danau  viktoria
  69. Berenang di danau Superior
  70. Berenang di danau Tanganyika
  71. Berenang di  danau Titicaca, Ameriak Selatan
  72. Berenang di danau Nikaragua
  73. Menjadi anggota pramuka
  74. Menyelam dengan kapal selam
  75. Mendarat dan take off dengan pesawat
  76. Terbang dengan balon udara , gantole
  77. Menunggang gajah, unta, ostrih, bronco,
  78. Menunggang kuda di parade bunga mawar
  79. Menyelam di kedalaman 40 kaki, dan menahan napas 2,5 menit di bawah air;
  80. Menangkap lobster seberat 10 pound dan 10 inchi abalone
  81. Memainkan flute dan violin
  82. Mengetik 50 kata permenit
  83. Belajar ski air dan ski salju
  84. Belajar Terjun payung
  85. Mengikuti misi  gereja
  86. Mengikuti jejak John Muir
  87. Mempelajar obat-obatan tradisional dan membawa pulang  yang bermanfaat
  88. Mengabadikan gambar gajar, singa, kadal, cheetah, tanjung buffalo, dan paus
  89. Belajar ilmu bela diri
  90. Belajar Jujitsu
  91. Mengajar di Universitas
  92. Melihat Upacara Kremasi di Bali
  93. Eksplorasi ke dasar laut
  94. Berperan di film Tarzan
  95. Memiliki kuda, simpanse, cheetah, ocelot, coyote;
  96. Menjadi orator radio HAM
  97. Membuat Teleskom ?????? sendiri
  98. Menulis buku perjalanan di sungai Nil
  99. Menerbitkan Artikel di Majalah National Geographic.
  100. Lompat setinggi 5 kaki
  101. Melompat jauh sepanjang 15 kaki
  102. Lari satu mill dalam 5 menit
  103. Memiliki berat konstant sebesar 175 pound (masih seperti itu sampai sekarang)
  104. Melakukan sit-up 200 kali dan pull-up 20 kali
  105. Belajar bahasa Prancis, Spanyol, dan bahasa Arab
  106. Belajar lizard naga di pulau Komodo
  107. Mengunjungi tempat kelahiran kakek Sorenson di Denmark
  108. Mengunjungi tempat kelahiran kakek Goddard di Inggris
  109. Naik kapal laut dan menjadi pelaut
  110. Membaca seluruh isi ensiklopea Britanica
  111. Menamatkan membaca Injil
  112. Membaca karya Shakespeare, Plato, Aristoteles, Dickens, Thoreau, Rousseau, Hemingway, Twain, Burrough, Keat, Poe, Bacon, Whittier, dan Emerson. (Tidak seluruh karya mereka)
  113. Mengenali komposisi musik Bach, Beethoven, Debussy, Ibert, Lalo, Mendelssohn, Milhaud, Pagamini, Rachmaninonff, Ravel, Respighi, Rimsky Korsakov, Stravinsky, Tchaikovsky, Toch, Verdi.
  114. Menjadi terampil meggunakan pesawat, sepeda motor, traktor, surfboard, senapan, pistol, perahu, mikroskop, football, basket, panah, lariat, boomerang.
  115. Membuat komposisi musik
  116. Memainkan “Claire de Lune” di Piano
  117. Menyaksikan upacara Fire Walking di Bali dan Suriname
  118. Memeras susu ular berbisa
  119. Menyulut api dengan 0,22 Rifle
  120. Mengunjungi studio Film
  121. Mendaki pyramid
  122. Menjadi anggota klub pecinta alam dan petualang
  123. Belajar bermain polo
  124. Menjelajahi Grand Canyon dan mengelilingi dunia (sudah empat kali)
  125. Pergi Ke bulan (suatu hari nanti)
  126. Menikah dan mempunyai lima orang anak
  127. Menyaksikan abad 21 (dalam usia  75 tahun).

PEMDA menghadapi UN

May 2nd, 2010 ayad No comments

Tanggung jawab PEMDA dalam Ujian Nasional

UJIAN Nasional juga membuat pemerintah daerah was-was. Soalnya cukup terang, jika peringkat kelulusan siswa di satu daerah jeblok, maka pemerintah setempat akan menjadi sorotan. Ini bukan hanya ujian bagi siswa, tapi juga gengsi daerah.

Yogyakarta, misalnya. Hasil Ujian Nasional tahun ini adalah tamparan bagi ‘kota pelajar’ itu.  Sebanyak 9.237 peserta ujian nasional di Yogyakarta tak lulus. Dari sekian ratus sekolahan tingkat atas, hanya empat sekolah siswanya lulus 100 persen. Hasil terburuk sepajang sejarah ujian nasional.

Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pun dibuat pusing. Raja Yogyakarta itu sampai menggelar rapat khusus, dan meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Yogyakarta sesegera mungkin melakukan evaluasi. “Yang jelas saya kecewa dengan hasil UN yang tidak menggembirakan. Tapi ya mau bagaimana lagi,” kata Sultan.

Meski anjlok, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY, Suwarsih Madya punya pembelaan. “Ujian Nasional di Yogyakarta paling jujur. Ini bukan kita yang menilai, tapi dari Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSPN). Tidak ada rekayasa sama sekali,” kata dia.

Sementara, Baskoro Aji, Ketua Pelaksana UN Yogyakarta, menuturkan hasil evaluasi penyebab utama gagalnya siswa dalam ujian pekan lalu itu.  Rupanya banyak siswa hanya belajar penuh untuk segelintir mata pelajaran. Akibatnya, pelajaran lain kurang mendapat perhatian.

Faktor lain, ujian nasional kali ini memberikan kesempatan ujian ulangan. Akibatnya siswa tidak serius dalam belajar. Toh, bisa mengulang, tak seperti tahun sebelumnya. Juga masih ada pro kontra hasil UN yang tak lagi menentukan kelulusan siswa, sesuai keputusan Mahkamah Agung.

Tak hanya Sultan yang kecewa. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto malu dengan tingkat kelulusan siswa peserta UN di Jakarta. “Jika UN pertandingan, saya merasa malu,” kata Prijanto.  Dia menyesalkan kelulusan di Jakarta lebih rendah ketimbang provinsi lain, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

Kelulusan SMA di Jakarta tahun ini, menurut data Dinas Pendidikan DKI, hanya 90,672 persen. Sedangkan tingkat SMK mencapai 92,18 persen. Tahun lalu, kelulusan SMA di DKI mencapai 95,5 persen untuk SMA, dan 97,65 persen SMK. Mengingat masih ada peluang mengulang, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto mengatakan angka kelulusan ini belum final.

Taufik mengaku pihaknya sudah melakukan persiapan maksimal menghadapi Ujian Nasional. Tapi mengapa banyak yang tak lulus? Menurut Taufik bisa saja pada saat ujian, siswa dalam kondisi tidak fit, baik fisik maupun mental, di satu mata pelajaran. “Walaupun pada mata pelajaran lain nilainya bagus, akhirnya dia harus mengulang di hanya mata pelajaran itu saja,” jawab dia.

Berita diadopt dari VIVANews.Com


Demi kepentingan Pelajar

November 21st, 2009 ayad No comments

Berpihak pada Kepentingan Pelajar

Tiga calon rector ITB menunjukkan perhatian dan perhatian kepada kepentingan dan masa depan pelajar Indonesia, khususnya mahasiswa yang belajar di Institut Teknologi Bandung. Hal tersebut terungkap melalui debat calon Rektor dan Mahasiswa ITB di ruang multimedia GKU Timur ITB, Sabtu (21/11/2009).

TIga calon rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) menandatangani komitmen yang berisi 8 buah harapan mahasiswa kepada calon rektor mereka.

Ketiga calon rektor tersebut adalah, Adang Surahman, Akhmaloka, dan Indra Djati Sidi. Mereka lolos dalam proses pemilihan tahap keempat melalui Sidang Senat Akademik ITB.

Ridwansyah juga mengatakan, ada delapan tuntutan mahasiswa yang ada dalam komitmen tersebut. “Diantaranya masalah pembinaan kemahasiswaan, SPP terjangkau, fasilitas kampus, infrastruktur kegiatan mahasiswa, dan beasiswa,” imbuhnya.

Hal tersebut disampaikan Ketua KM ITB Ridwansyah Yusuf Achmad saat dihubungi detik bandung melalui telepon selular, Sabtu (21/11/2009), seperti diberitakn oleh detik.com.


Beasiswa RioTinto

October 15th, 2009 ayad No comments

Beasiswa RioTinto

PT. Rio Tinto Indonesia bekerja sama dengan Sampoerna Foundation memberikan beasiswa penuh kepada 1 (satu) orang untuk menempuh pendidikan S2 di bidang Sains, Ilmu Sosial, atau Commerce di University of New South Wales, Sydney, Australia.

Beasiswa meliputi: Biaya sekolah dan asuransi kesehatan, Tunjangan hidup dan tunjangan buku, Tiket pesawat pulang pergi: Sulawesi – Sydney – Sulawesi, Biaya aplikasi visa pelajar, Biaya pendaftaran ke universitas, Biaya persiapan tes IELTS

Persyaratan untuk diterima sebagai berikut: Warga Negara Indonesia; memiliki KTP Sulawesi Tengah atau Sulawesi Tenggara; berusia maksimal 35 tahun; Lulus S1 dari jurusan apa saja, dengan IPK minimal 3.00 (dalam skala 4.00); Setelah lulus dari semua tahapan seleksi beasiswa, finalis penerima beasiswa dapat menyerahkan hasil tes Bahasa Inggris (TOEFL / IELTS) dan Graduate Admission Test sesuai dengan persyaratan yang diminta oleh program S2 (Master) yang diminati: • Skor International TOEFL minimal 577 (PBT) atau 233 (CBT) atau 90 (IBT), ATAU • Skor IELTS minimal 6.5; Belum memiliki gelar S2 atau sederajat; Bukan lulusan dari universitas di luar negeri, ataupun pernah terdaftar di universitas di luar negeri, kecuali karena menerima beasiswa; Tidak sedang menerima beasiswa dari pihak lain; Membuktikan bahwa tanpa beasiswa ini, yang bersangkutan tidak mampu melanjutkan studi S2 di luar negeri; Siswa S2 dari universitas lokal dan bersedia melanjutkan studinya di University of New South Wales, Australia, diperbolehkan untuk mendaftar.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Universitas Haluoleo (Bapak La Otjo Oti)
Staf Pembantu Rektor I
Rektorat, Lantai 4
Kampus Bumi Tridharma Anduonuho
Jl. H.E.A Mokodompit
Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia

Universitas Tadulako (Ibu Utik Widaryanti)
Bagian Pelayanan Kesejahteraan Mahasiswa
PKM BAK PSI
Kampus Bumi Tadulako Tondo
Jl. Sukarno Hatta Km.9, Tondo
Palu, Sulawesi Tengah – Indonesia

Kirimkan segera formulir aplikasi Anda ke
Sampoerna Foundation
Sampoerna Strategic Square, North Tower 27th Floor
Jl. Jendral Sudirman Kavling 45
Jakarta 12930
(Harap tuliskan “RIO TINTO S2″ di sisi kanan atas amplop aplikasi Anda). Batas akhir penerimaan lamaran tanggal 11 Desember 2009.

Berita Relevan lainnya:

Pelajar Ideal

Mempertegas orientasi Masa Depan

Beasiswa chevening 2010

Incoming search terms:


BHP untuk Pelajar

August 5th, 2009 ayad No comments

HBP untuk Pelajar

Oleh Hayadin

Badan Hukum Pendidikan biasa disingkat BHP merupakan salah satu isu yang hangat dalam kampanye pilpres 2009 -2014. BHP yang ditetapkan oleh DPR melalui Undang-Undang No 9 tahun 2009, sejak awal (dibahas oleh DPR) telah menuai protes dari berbagai kalangan masyarakat (juga mahasiswa). Beberapa kelompok masyarakat menilai bahwa produk hukum tentang pendidikan tersebut akan melahirkan praktek liberalisasi dan kapitalisme di dunia pendidikan, yang pada gilirannya akan membawa dampak dimana dunia pendidikan akan dikuasai oleh institusi swasta dan asing dan kesempatan pendidikan masyarakat miskin akan hilang.

Kepentingan Pelajar terhadap Dunia Pendidikan

Salah satu hal utama yang dibutuhkan oleh pelajar adalah kesempatan untuk memperoleh pendidikan (menu pembelajaran) yang relevan, bermutu dan terjangkau atau murah mulai dari tingkat usia dini hingga tingkat lanjut. Setiap pelajar dan anak Indonesia membutuhkan menu pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakatnya serta tuntutan masa depannya. Menu pelajaran tersebut memiliki bobot mutu yang tinggi sehingga dapat diandalkan untuk bersaing secara terbuka di era globalisasi, dan semua itu dapat diperoleh secara terjangkau (murah atau gratis).

Capres Cawapres 2009 - 2014

Capres Cawapres 2009 - 2014

Menu pelajaran seperti itu akan dapat menjamin teraktualisasikannya segala potensi yang dimiliki oleh anak dan teratasinya segala kelemahan yang dimiliki oleh anak dalam rangka meraih masa depannya yang gemilang. Prasyarat  untuk memperoleh menu pelajaran seperti tersebut di atas adalah tersedianya institusi pendidikan yang dilengkapi dengan fasilitas pembelajaran dan sumber daya manusia kependidikan yang berkualitas pula. Sampai disini, maka logika bangsa kita (baik masyarakat ataupun pemerintah) akan selalu merujuk pada faktor dana yang kurang sebagai alasan pembenar dari belum terpenuhinya harapan dan kepentingan pelajar untuk menikmati menu pembelajaran yang ideal.

Praktek Kapitalisme dan Liberalisasi Pendidikan

Logika minimnya anggaran (baik oleh pemerintah ataupun oleh masyarakat) sebagai masalah untuk melahirkan menu pembelajaran yang bermutu dan relevan mendorong lahirnya pemikiran untuk melibatkan pihak swasta pemilik modal (kapital) dan bahkan pihak asing (yang memiliki modal besar) dalam praktek pendidikan nasional. Keterlibatan mereka oleh pemerintah dianggap akan menjadi solusi dalam praktek pendidikan. Dan bagi pihak swasta dan asing itu adalah kesempatan untuk merealisasi dan menunjukan jati dirinya yang berorientasi kapitalisme. Keterlibatan mereka dalam dunia pendidikan merupakan siklus bisnis yang secara langsung atau tidak langsung harus membawa keuntungan baik jangka pendek ataupun jangka panjang.

Filosofi bisnis menjadi salah satu landasan dalam praktek pengelolaan pendidikan oleh pihak swasta. Aset untuk investasi dan kapitalisasi merupakan pertimbangan yang lazim dalam dunia bisnis yang juga diterapkan dalam dunia pendidikan. Melalui landasan seperti ini, maka lembaga pendidikan swasta atau asing selalu survive dan unggul baik pada tampilan fisik ataupun pada kualitas output dan outcome pendidikannya.

Dengan dukungan modal (kapital) yang besar, mereka mampu mendirikan bangunan dan lingkungan pendidikan (sekolah atau kampus) yang luas dan megah dengan ditunjang oleh fasilitas pembelajaran yang memadai. Mereka mampu membuka jurusan atau fakultas keilmuan yang baru dan relevan dengan tuntutan persaingan zaman yang didukung oleh tenaga pengajar yang ahli dibidangnya. Customernyapun dijanjikan dan dijamin puas dengan layanan akademis yang dimiliki.

Tentu, aset yang megah dan menelan biaya besar tersebut, harus menghasilkan revenue bagi Institusi. Dan mahasiswa menjadi salah satu sumber pemasukan untuk mendanai atau membiayai anggaran pendirian lembaga dan membiayai tenaga pengajar yang berkualitas. Oleh karena itu pada prakteknya, kita menemukan bahwa biaya yang harus dikeluarkan oleh pelajar pada sekolah swasta atau sekolah asing lebih mahal dari pada lembaga pendidikan lainnya di tanah air. Walhasilnya, hanya pelajar yang berasal dari tingkat ekonomi menengah ke ataslah yang dapat menikmati pendidikan tersebut.

Keberpihakan pada Pelajar

Berdasarkan gambaran tentang liberalisasi dan kapitalisme pendidikan seperti di atas, maka sudah barang tentu pelajar Indonesia yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi menengah ke bawah tidak akan memiliki kesempatan mengakses pendidikan yang relevan, bermutu dan bermanfaat yang mayoritas disediakan oleh lembaga pendidikan swasta atau asing. Hal ini jika dibiarkan dapat membawa dampak sosial politik yang kompleks. Oleh karena itu negara melalui pemerintah wajib menjamin agar seluruh warga negara usia sekolah (pelajar) termasuk mereka yang memiliki kemampuan finansial rendah, mendapat kesempatan untuk memperoleh menu pembelajaran yang berkualitas, relevan dan bermanfaat.

Secara eksplisit dalam teks Badan Hukum Pendidikan seperti tertuang dalam Undang-Undang No. 9 tahun 2009, fasal 40 ayat 3, menjamin hal tersebut di atas, sebagai berikut: “Badan Hukum Pendidikan (BHP) menyediakan anggaran untuk membantu peserta didik Warga Negara Indonesia yang tidak mampu membiayai pendidikannya, dalam bentuk: beasiswa, bantuan biaya pendidikan, kredit mahasiswa, dan pemberian pekerjaan kepada mahasiswa. Dan pada bagian yang lain disebutkan bahwa “Badan Hukum Pendidikan (BHP) wajib menjaring dan menerima sebanyak 20% mahasiswa yang kurang mampu dan memiliki potensi akademik tinggi”.

BACA JUGA:

Kebijakan Pembangunan untuk Pelajar