Your Ad Here

Archive

Author Archive

Hari Raya

September 9th, 2010 ayad No comments
Selamat Hari Raya Id Fithri 1431 H. Maaf lahir & bathin.

Selamat Hari Raya Id Fithri 1431 H. Maaf lahir & bathin.


Categories: Uncategorized Tags: , ,

Belajar untuk masa depan

August 28th, 2010 ayad No comments

Belajar sebagai Modal Masa Depan Anda

Kehidupan di masa yang akan datang memerlukan kompetensi yang dilandasi oleh disiplin ilmu tertentu. Orang yang akan eksis adalah mereka yang memiliki profesi dan atau pekerjaan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu-satunya strategi pendekatan yang dapat digunakan untuk memiliki kompetensi tertentu dengan ditopang oleh  landasan keimuan tertentu, adalah belajar (studi). Tidak ada cara lain yang dapat kita gunakan selain belajar. Oleh karena itu, belajarlah sejak dini untuk menguasai suatu kompetensi dan disiplin ilmu tertentu. Belajar merupakan modal dasar yang dimiliki oleh setiap orang untuk bisa eksis dan mengejar kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah akan mengangkat beberapa derajad lebih tinggi bagi orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan yang lebih. Secara formil, setiap jenis profesi, pekerjaan dan karir selalu memerlukan persyaratan dalam bentuk kualifikasi akademik dan/atau kompetensi tertentu. Artinya untuk diterima bekerja pada suatu perusahaan, kantor pemerintah atau swasta, maka Anda perlu memiliki ijazah atau sertifikat yang menerangkan level akademis dan kompetensi Anda. Tanpa hal tersebut, maka sulit bagi anda untuk meniti profesi dan karir secara baik. Ijazah atau sertifikat pada hakikatnya adalah bukti yang menjelaskan pengakuan dan kepercayaan suatu lembaga pendidikan tempat Anda belajar atas kompetensi dan kemampuan yang kita miliki. Atas dasar pengakuan dari Universitas tersebut maka dunia kerja dimana kebanyakan pelajar akan melamar pekerjaan, mempertimbangkan dan menerima seseorang untuk bekerja di tempat tersebut dengan posisi dan karier tententu.

Tentu ada kemungkinan seseorang dapat bekerja dan berkarir tanpa mengandalkan ijazah dan sertifikat. Para enterpreneur atau wirausahawan yang merintis usaha sendiri dan mendirikan perusahaan merupakan  contoh orang yang tidak mengandalkan ijazah atau sertifikat. Meskipun demikian, mereka bukanlah orang yang tidak belajar, mereka justru belajar lebih keras dan lebih dalam dari kehidupan sehari-hari dari berbagai sumber. Mereka adalah orang yang belajar sambil bekerja, bahkan merani mengambil resiko dengan belanjar dari kegagalan membangun usaha sendiri.

Meskipun demikian halnya, fakta menunjukkan bahwa mereka yang sukses membangun perusahaan atau kerajaan bisnis di era modern sekarang, juga memiliki sertifikat atau ijazah yang menerangkan bahwa mereka dapat membaca menulis dan berhitung serta kompetensi tertentu. Kisah sukses orang tanpa sekolah semakin berkurang seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan seorang Bill Gates, pemilik Microsoft Corporation beberapa tahun yang lalu kembali ke kampus untuk mengambil gelar Doktornya, setelah pada musa mudanya lebih senang belajar secara bebas dari berbagai sumber di luar kampus.

Oleh karena itu jangan sia-siakan masa muda Anda sekarang. Belajar hari ini, sukses di masa depan. Those who learn today, will be leader tomorrow.

Incoming search terms:


Rencana Sukses

August 28th, 2010 ayad No comments

Hidup Terencana dan Terarah

Oleh: Hayadin

Salah satu kutipan yang menarik adalah: “if You Fail to Plan, You Plan to fail”. Artinya, jika anda gagal membuat rencana, maka Anda membuat rencana untuk gagal. Kutipan di atas sangat tepat, dengan menyandingkan kegagalan sebagai konsekwensi perencanaan. Kegagalan menjadi konsekwensi mutlak dari buruknya perencanaan dan atau ketiadaan perencanaan.

Gagal membuat rencana (Fail to Plan) dapat dimaknai sebagai kekurangmampuan dalam membuat rencana, menentukan orientasi masa depan, dan arah dari suatu perjalanan atau akhir dari suatu ikhtiar. Dalam perspektif lain, dapat pula dikatakan sebagai ketidakjelasan niat dalam menjalankan sesuatu. Sesuatu dikerjakan atau dijalankan hanya karena mengikuti kehendak orang lain, ikut-ikutan, atau latah.

Para pakar manajemen memandang bahwa perencanaan merupakan hal yang penting dan utama dari suatu pekerjaan, projek, perjalanan, usaha, dan tujuan. Dengan adanya rencana yang terarah dan jelas, menurut ahli manajemen, maka setengah dari tujuan telah dicapai.

Lalu, bagaimana kalau tidak ada perencanaan? Tentu kita tidak akan mencapai apa-apa. Apa yang kita lakukan hanyalah melanjutkan rutinitas dari orang-orang terdahulu,  mengikuti irama lingkungan, merespon secara reaktif berbagai hal yang terjadi di sekitar kita dengan mengandalkan naluri dan perasaan tanpa ada bingkai yang terarah. Kita mengerjakan sesuatu hanya karena orang lain mengerjakannya, atau terdesak oleh situasi dan kondisi, bukan  berdasarkan tujuan pribadi yang kita inginkan.

Hidup terencana secara praktis dilakukan dengan merumuskan apa yang mau kita raih dalam limit waktu tertentu. Boleh jadi batasannya adalah apa yang mau kita raih dalam satu minggu, dalam satu bulan, dalam satu tahun atau lebih, bahkan apa yang mau kita raih atau mau kita capai hari ini terumuskan secara jelas. Merumuskannya adalah di dalam otak atau melalui tulisan. Orang bijak menganjurkannya agar rencana tersebut dituliskan di atas kertas agar mudah dilihat, dapat menjadi pedoman, serta dapat ditinjau ulang seiring dengan pergantian sang waktu.

Sejarah gemilang yang dicapai oleh manusia diukir melalui pemimpin-pemimpin besar yang memiliki perencanaan. Baik di dunia industri, militer, maupun di dunia keilmuan. Mereka semua memiliki rencana. Tidak atas kebetulan dan keberuntungan semata atas pencapaian mereka. Sebagian besar rencana mereka dituangkan dalam tulisan, sehingga menjadi obyek kajian para ahli sejarah di masa kini. Sebagian yang lain juga ada yang tidak sempat menuliskan rencana tersebut dan hanya tersimpan dalam memori mereka.

Orang yang memiliki rencana tertentu, akan memiliki motivasi besar yang lahir dari dirinya sendiri untuk melakukan serangkaian ikhtiar mencapai tujuannya; secara sadar ia akan membangun strategi dan disiplin yang dibutuhkan sebagai prasyarat mencapai tujuannya; dengan rencana dan tujuan yang jelas, ia akan memiliki daya tahan dan kesabaran terhadap berbagai masalah dan tantangan yang mungkin hadir mengganggu perjalanannya mencapai tujuan tersebut.

Oleh karena itu, merumuskan tujuan pribadi dan menuangkannya dalam perencanaan yang jelas dan terarah merupakan awal dari kesuksesan pribadi. Ungkapan tersebut di atas ”if You fail to Plan, You Plan to Fail”, sangat tepat, yang jika dibalik dengan mengganti kata fail (gagal) dengan success (sukses) akan berbunyi, “if You success to Plan, You Plan to Success”, artinya: “Jika Anda sukses membuat rencana, maka Anda telah berencana untuk sukses”. It’s great!

Untuk itu, di sekolah selain belajar (matematika, bahasa, ilmu pengetahuan lain) dan mengembangkan bakat, akan lebih baik masa depan kita jika kita juga belajar membuat rencana untuk hari esok yang lebih baik. Let’s make planning.

Incoming search terms:


Mengapa Gagal

August 21st, 2010 ayad No comments

Mengapresiasi Kegagalan

Kegagalan adalah ujung lain dari sebuah tongkat, atau sisi lain dari sebuah keping uang logam, yang pada ujung atau sisi lainnya adalah kesuksesan.

Banyak faktor yang mempegaruhi kegagalan manusia. Setidaknya ada sembilan alasan yang menjadi penyebab kegagalan, yakni:

  1. Keterampilan Interpersonal yang buruk; Ini adalah wujud dari kecerdasan sosial seseorang, yakni kemampuan untuk berinterkasi dan bersosialisasi kepada orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan sosial yang baik dicirikan oleh hal hal antara lain: memiliki kemampuan negosiasi tinggi, mahir berhubungan dengan orang lain, mampu membaca maksud hari orang lain, menikmati berada di tengah-tengah orang banyak, memiliki banyak teman, mampu berkomunikasi dengan baik (kadang melakukan manipulasi), menikmati kegiatan bersama, suka menengahi pertengkaran, suka bekerja sama, dan mampu membaca situasi sosial dengan baik..Sebaliknya, orang yang memiliki kecerdasan sosial yang rendah: susah bernegosiasi, menghindari diskusi atau acara sharing atau diskusi kelompok , menghindari kritikan, minder terhadap orang lain, dan cenderung menyalahkan keadaan disekitarnya  jika terjadi hal-hal yang tidak beres. Mereka ini sering memandang lingkungannya atao orang lain sebagai penyebab dari kemunduran yang dialaminya, dan tidak pernah bisa belajar dari hal yang sama.
  2. Ketidaklayakan; Ini terkait dengan konteks situasi dan kompetensi Anda. Kemampuan dan bakat atau talenta seseorang terkadang tidak sejalan dengan lingkungan, sistem nilai, dan mitra kerja. Hal ini menimbulkan ketidak cocokan yang berujung pada kegagalan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu tetaplah berbesar hati, untuk tetap bangkit mewujudkan talenta, bakat dan potensi Anda.
  3. Usaha yang tanggung (tidak ada komitmen); Ini adalah sikap setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Ragu, bimbang, takut gagal, dan terombang ambing dalam banyak pendapat orang, menjadi penyebab mengapa sebagaian besar orang gagal. Belajar seadanya atau menjelang ujian, atau hanya ketika orang lain belajar, tidak peduli apa hasilnya. Bekerja, asal bekerja tidak pedulibagaimana hasilnya. Orang seperti ini tidak memiliki gambarantentang tujuan yang jelas, yang mendaji dasar dari komitment.
  4. Rencana yang sembrono; Ini terkait dengan kegiatan yang dilakukan berdasarkan selera dan kesenangan semata, tanpa ada perhitungan yang matang dan teliti. Banyak pelajar yang memilih sekolah, fakultas, atau jurusan bahkan kota tempat belajar hanya berdasarkan kesenangan atau ikut-ikutan teman. Mereka tidak melakukan perhitungan yang matang, apa keuntungan dan kerugian, sera mendiskusikannya denfgna orang tua mereka atau orang yang lebih dewasa, sebelum mengambil keputusan.
  5. Perilaku yang buruk; Ini terkait dengan kebiasaan hidup sehari – hari dalam melakukan tugas dan berhubungan dengan orang lain yang membawa kerugian pada diri sendiri (self-destructive), seperti: egois / menang sendiri, sombong, takabur, meremehkan orang lain apa lagi guru atau atasanya, dan tidak berani mengakui kelemahannya. Tanpa disadari kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi penghancur dari usaha yang telah dilakukan. Kebiasaan ini adalah nila yang merusak susu sebelanga.
  6. Tidak fokus (melakukan banyak hal dan tidak tuntas); Ini biasanya menimpa orang pintar dan memiliki banyak talenta. Mereka terkadang kehilangan fokus dengan berusaha untuk menyelesaikan semua yang berada dalam jangkauannya, tanpa memilih salah satunya yang paling penting menjadi prioritas. Mereka tidak sadar, sedang mempraktekkan perilaku serakah. Sayang untuk melepaskan yang ini atau yang itu, karena semuanya berada dalam jangkauan logika dan bakatnya. Tetapi mereka belum menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan fisik untuk merealisasi berbagai gagasan dan bakat. Suatu gagasan dan bakat tidak mungkin dapat langsung terimplementasi. Mereka terlebih dahulu memerlukan latihan, dan proses yang memakan waktu. Karena ingin melakukan semuanya, maka sebagai konsekwensinya, tak ada satupun yang ditangani secara tuntas, dan tanpa disadari waktu telah habis.
  7. Seksisme, ageisme, rasisme; Ini terkait dengan pandangan yang keliru terkait dengan perbedaan jenis kelamin, ras dan usia. Banyak orang gagal hanya karena ia tidak mau belajar dari orang yang lebih muda atau dari seseorang yang dipandang tidak sekelas dengannya. Di sekolah, mungkin kita menemukan seorang anak yang enggan atau malu bertanya dan bekerja sama menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) Matematika atau Bahasa Inggris dari seorang wanita, atau mungkin malu bertanya dan bekerja sama apalagi mengakui keunggulan adik kelasnya. Untuk sukses, manusia harus rendah hati dan mengakui kebenaran dari mana pun datangnya tanpa mengenal jenis kelamin, usia, dan suku atau agamanya.
  8. Manajemen yang lemah; Ini terkait dengan keterampilan dan kebiasaan mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain yang tepat. Bagi orang yang cerdas yang memiliki banyak rencana atau suatu rencana besar, adalah sesautu kelemahan jika ia beranggapan dapat menyelesaikan seleuruhnya sendiri tanpa bekerja sama dengan orang lain. Mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain menjadi jawaban dari kasus trersebut.
  9. Bertahan tidak mau berubah; Ini adalah gejala berpuas diri, atau fenomena hidup di zona nyaman. Ia sudah merasa cukup dan nyaman dengan kehidupannya yang sekarang, dan ia tidak ingin ada perubahan, atau melakukan perubahan. Apa yang ada sekarang tidak perlu dirubah lagi. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan ini senantiasa bergerak. Gerak dan perubahan adalah sifat asasi atau fithrah dari kehidupan itu sendiri. Setiap hari matahari tanpa henti hadir menyinari bumi sebagai akibat dari pergerakan planet bumi yang berevolusi. Mereka yang tidak mau berubah, dengan sendiri mengingkari fithrah kehidupan dan akan tertinggal oleh kehidupan itu sendiri. Itulah sebabnya, pelajr harus senantiasa belajar agar naik kelas, lulus ujian, dan melanjujtkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, lalu bekerja, berkarir, dan berbakti kepada orang tua, bangsa, dan negara, hingga sampai menutup mata..

Kegagalan adalah vonis yang diberikan oleh orang lain atau mungkin diri kita sendiri terhadap peristiwa tertentu. Pada hakikatnya kegagalan hanyalah bentuk interprestasi orang terhadap peristiwa yang melibatkan seseorang di dalamnya. Hasil interpretasi tertentu melahirkan vonis sedemikian rupa kepada seseorang. Oleh karena itu ,jika mendapat vonis gagal, yang harus dilakukan adalah merubah penafsiran kita terhadap peristiwa yang melahirkan kegagalan tersebut.

Incoming search terms:


Mental Tahan Banting

August 20th, 2010 ayad No comments

Mental Pendaki Puncak Gunung yang Tahan Banting

Oleh: Hayadin

Pendaki Gunung yg Ulet dan tangguh

Pendaki Gunung yg Ulet dan tangguh

Ketahanmalangan (sifat tahan banting) merupakan salah satu faktor pembentuk sukses orang-orang besar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stoltz, ditemukan fakta bahwa orang hebat dan sukses adalah mereka yang tahan terhadap penderitaan, berani menghadapi tantangan, dan resiko dalam perjalaan hidupnya.

Lebih lanjut Stoltz dalam bukunya (Adversity Quotient), menjelaskan bahwa dalam menjalani kehidupan, manusia dapat dibagi atas tiga kategori, yakni: Quitters (diam dan tidak dinamis), camper (selal mencoba tetapi gampang menyerah setelah mendapat tantangan), dan Climber (orang yang berani dan bertahan menghadapii tantangan kehidupan). Kesuksesan menurut Stoltz ibarat puncak gunug tertinggi yang mampu didaki oleh manusia. Orang sukses adalah mereka yang mau dan mampu mendaki/memanjat (climb) hingga ke puncak gunung ( to reach the top of the hill). Inilah yang termasuk kategori orang Climber atau pendaki.

Sementara karakter orang Camper adalah mereka yang ingin sukses tapi tidak sampai di puncak gunung (top of the mountain). Mereka ingin mendaki gunung sebagaimana halnya mereka yang Climber. Tetapi mereka cepat menyerah ketika mendapatkan tantangan, badai, salju, atau hujan yang menghadang dalam perjalanan mendaki atau memanjat ke puncak bukit. Mereka tidak melanjutkan perjalanan dan memilih untuk mendirikan tenda/kemah (camp) di tengah perjalanan tersebut. Mereka berharap bahwa tantangan, rintangan, badai, salju, tersebut akan berhenti dan mereka dapat melanjutkan perjalanan. Namun hingga pada akhirnya, tantangan dan badai tersebut tetap ada karen merupakan bawaan yang bersifat alami dari sebuah ketinggian. Dan mereka selamanya berada pada tempat tersebut. Mereka tetap berada pada kemah tersebut dan menikmati serta berpuas diri sampai di situ, meskipun mereka tidak pernah sampai di puncak sukses yang sesungguhnya (top of the mountain).

Quitters, lebih buruk lagi. Mereka adalah orang yang menghindari tantangan mendaki gunung.  Mereka adalah tipe orang yang mencari kesenangan dan zona nyaman dalam hidupnya. Mereka menghindari perlombaan, pertandingan, kompetisi, tugas berat, menolak tawaran kerjasama bahkan menolak peluang yang idberikan kepada mereka. Mereka adalah tipe orang yang tidak mau berubah. Mereka sudah merasa mapan dan nyaman dalam kemapanan tersebut. Mereka berpikir, bahwa menerima tantangan dan kesempatan tersebut akan mendatangkan masalah baru bagi kehidupan mereka. Oleh karena itu menghabiskan waktu dengan aktivitas dan tugas tugas yang tidak berebobot, bahkan sesekali mereka menipu diri sendiri dengan berpura-pura sibuk (memperlihatkan kesibukkan dirinya).

Sebagai pelajar, karakter apa yang sebaiknya kita pilih? Quitters…?, Campers…?, atau Climbers…?

Bagi pelajar, karakter Quitters adalah pelajar yang menghindari tugas tambahan, les tambahan atau beban belajar dari sekolah atau gurunya. Mereka tidak ingin diketahui belum mampu. Tes dan latihan hanya akan membuat kelemahan mereka diketahui oleh guru dan orang lain. Bahkan mereka memilih untuk tidak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara karakter Campers adalah pelajar baik yang mengikuti segalah peraturan sekolah. Mereka menerima tantangan, dan tugas-tugas baru dari guru, tetapi kemampuan mereka yang kurang (yang semua orang mengalaminya) membuat mereka menyerah. Mereka akan menyerahkan tugas sampai pada batas yang dikuasai, dan merasa cukup sampai disitu sambil menunggu penjelasan lebih lanjut dari guru.

Hal tersebut berbeda dengan orang Climbers yang tidak hanya menerima pelajaran, tugas, dan tantangan dari sekolah, tetapi mencari tantangan atau tugas di luar sekolah. Mereka akan menyelesaikan pelajaran dan tugas dari sekolah, dan pada saat yang sama juga menyelesaikan tugas pelajaran lain dari luar sekolah. Bagi mereka sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk belajar. Mereka tidak lekas puas dengan prestasi yang diperoleh di sekolah. Bagi mereka belajar dan mengukir prestasi sebanyak-banyaknya adalah tantangan yang menyenangkan. Mereka sangat menikmati tantangan dan kesulitan yang dihadapi dalam menyelesaikan tugas-tugasya. Semakin berat dan sulit tantangan yang dihadapi mereka semakin tertarik.

Incoming search terms: